Kelihatannya kebanyakan orang mengalami hal
yang serupa. Semakin mengenal baik semakin kurang memedulikan, berkurang
perhatiannya, oleh sebab itu sering kali
mudah terabaikan. Ini merupakan kelemahan karakter kita, juga kelemahan emosi
kita, memanjakan diri sendiri, namun telah menyakiti orang-orang terkasih yang
akhirnya justru melukai diri kita sendiri.
Tanpa memandang wajah kedua orang tua Anda,
dapatkah Anda melukis raut wajah mereka?
Kenanglah dengan serius apakah kelopak mata
ibu melipat di sebelah dalam ataukah di sebelah luar? Berapa jumlahnya keriput
di dahi ayah?
Pejamkanlah mata Anda dan renungkan. Sejak
masa kanak-kanak sampai sekarang, postur tubuh orang tua kita sudah mengalami
perubahan sebanyak apa, melihat roman wajah ibu yang bekerja keras
menyelesaikan tugas rumah tangga apakah membuat Anda merasa tidak tega?
Apakah sekarang Anda baru terkejut menemukan
bahwa semakin akrab dengan seseorang, dia semakin tidak kita kenal dengan
jelas! Mengira sudah sangat akrab, bukankah ternyata menjadi teramat asing?
Kenangan tentang orang tua dalam ingatan kita sedemikian jelas, namun ketika
mengenang dengan cermat panca indera, paras dan air muka mereka justru terasa
sedemikian kabur.
Kemudian, selagi ibu sedang tidur, amatilah
wajahnya dengan cermat, ingatlah dia baik-baik dalam mata, dalam otak, dalam
hati dan masukkanlah ke dalam kesadaran.
Ketika orang tua merekam pertumbuhan kita,
kita justru lupa merekam proses penuaan mereka, sehingga sering kali ketika
berpisah selamanya kita mengalami penyesalan mendalam. Sebuah anjuran bagi
Anda, “Jangan biarkan kekesalan dan luka batin berlangsung seumur hidup.”
Semoga Anda dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. (Chen Yingzhen)
No comments:
Post a Comment