Menyusul tumbangnya gedung kembar WTC New York di tahun 2001
ditabrak oleh dua pesawat teroris, merebak gelombang besar ateis di beberapa
belahan dunia. Bila ateis generasi pertama (Marx, Nietzsche, Freud dll) muncul
karena dialog agamawan-ilmuwan buntu - terutama menyangkut penciptaan semesta,
ateis generasi ke dua (contoh menonjolnya adalah ahli biologi dari Universitas
Oxford yang menulis buku best seller provokatif berjudul God Delusion) sebagian
besar muncul karena kemarahan dan kebencian. Tidak jarang kelompok ini menyebut
agama sebagai sumber kejahatan.
Dengan pesat dan derasnya pengaruh media sosial khususnya,
sejumlah orang tua (khususnya yang putra-putrinya baru lulus dari luar negeri)
sudah mengeluh karena generasi baru sudah teryakinkan oleh argumen-argumen
ateis. Tidak semua orang ateis itu negatif, bahkan ada yang terang-terangan
menulis buku “How can we be good without God?”. Orang ateis pun banyak yang
berniat kuat untuk menjadi baik. Yang perlu diendapkan dalam-dalam, bukan
interaksi dinamis teis-ateis, melainkan peradaban bisa kehilangan agama sebagai
salah satu payung sejuk yang sempat menjadi tempat berteduh selama
berabad-abad.
Panutan Kasih Sayang
Belajar dari sejumlah cerita murid meditasi yang mau pindah
agama, ada beberapa pelajaran yang layak direnungkan. Umumnya sebab di balik
ini karena kecewa dengan agama orang tuanya yang penuh kekerasan, kemudian
mengira agama yang mau dimasuki bebas sepenuhnya dari cerita kekerasan. Setelah
digali dalam-dalam, ternyata mereka belum mengerti agama yang mau ditinggalkan
secara utuh, sekaligus memasuki agama baru dengan informasi yang amat di
permukaan. Ujung kesimpulannya sederhana, sebenarnya mereka tidak mencari agama
baru, tapi merindukan secara mendalam tokoh panutan yang penuh pengertian
sekaligus kasih sayang. Ini juga sebabnya sejumlah sahabat di dunia spiritual
sepakat, mengganti agama bukan jawaban, mengganti sikap dalam keseharian,
itulah jawabannya. Karena dengan sikap yang lembut dan sejuk, semua agama jadi
sejuk dan lembut.
Dari sini muncul inspirasi, inilah pekerjaan rumah
agama-agama: “menghasilkan tokoh panutan yang penuh pengertian dan kasih
sayang”. Tanpa panutan yang penuh kasih sayang, semua agama berpotensi
ditinggalkan orang. Sebagai tambahan bahan renungan, semua Guru spiritual
dengan murid berlimpah tahu, sebagian murid yang datang belajar spiritual
adalah manusia-manusia sakit. Mereka datang mencari penyembuh. Dan obat yang
menyembuhkan bernama kasih sayang. Tidak sedikit murid meditasi yang menangis
menggigil tatkala diwawancara hanya dengan didengarkan dan diperhatikan belum
diberikan jawaban. Intinya sederhana, banyak manusia yang jiwanya dahaga.
Kemudian mencari sumber air sejuk lembut bernama kasih sayang.
Bukti lain, ekspresi duka berlebihan dunia saat Putri Diana
wafat sekian tahun lalu adalah cermin betapa dahaganya jiwa manusia akan
kelembutan dan kasih sayang. Disamping itu dihormatinya Jalaludin Rumi, YM
Dalai Lama, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Muhammad Yunus oleh dunia, tidak
menyimpan kerinduan lain selain kerinduan akan kelembutan dan kasih sayang.
Sehingga bisa dimengerti sepenuhnya, tatkala tokoh agama-agama dunia berkumpul
di tahun 2009 di Swiss, kemudian sepakat esensi semua agama adalah compassion
(belas kasih). Ini berarti, kasih sayang tidak saja menjadi kerinduan banyak
jiwa yang dahaga, tapi juga menjadi intisari agama-agama.
Sumber air kelembutan
Dengan peta pemahaman seperti ini, mudah dimengerti kalau
pemenang hadiah nobel perdamaian tahun 1989, warga negara kehormatan pemerintah
Kanada sekaligus Amerika Serikat yakni YM Dalai Lama pernah berpesan terang:
“my true religion is kindness” (agama saya yang sesungguhnya adalah kebajikan).
Dalam spirit yang sama Bunda Teresa pernah meninggalkan warisan spiritual
seperti ini : “if you want to contribute to world peace, go back home love your
family” (bila ingin berkontribusi pada kedamaian dunia, pulang sayangi
keluarga).
Mistikus sufi Jalalluidin Rumi lebih menyentuh lagi: “love told
me that no one is not mine“. Di tingkat cinta kasih mendalam, diri kecil
(keakuan, kesombongan, kecongkakan) ditinggalkan di belakang, seseorang
memasuki Diri yang Agung di mana seisi semesta adalah Diri kita. Sebagai
hasilnya, cinta kasih lahir alamiah, natural, tanpa perjuangan. Ia sealamiah
air yang basah, senatural gula yang manis. Mahatma Gandhi agak unik. Buku
pegangannya adalah Bhagavad Gita, yang berisi perintah Shri Krishna (diyakini
oleh umat Hindu sebagai reinkarnasi Tuhan) untuk berperang, tapi oleh Gandhiji
perintah berperang ini dilanggar. Sebaliknya seluruh hidup Gandhiji menjadi
contoh hidup ahimsa (secara negatif berarti tanpa kekerasan, secara positif
bermakna banyak menyayangi, secara holistik berarti Anda adalah saya, saya
adalah Anda). Di tangan Gandhiji Bhagavad Gita berwajah lembut, sejuk, halus.
Beberapa saat setelah kena tembak, beliau bahkan sempat memberkati orang yang
menembaknya dengan mantra: “Ram, Ram, Ram”. Bahkan orang yang menembak beliau
sampai wafat pun dipanggil dengan nama Tuhan.
Seluruh cerita ini mengetuk hati kita semua, agama bukan
senjata untuk menyerang orang, melainkan kemulyaan untuk menyempurnakan kasih
sayang. Agama bukan tembok yang memisahkan melainkan jembatan pengertian dan
persahabatan. Agama bukan hulunya kekerasan tapi sumber air kelembutan dan
kasih sayang. Dengan cara pandang ini, bersama-sama kita selamatkan payung
penyejuk peradaban bernama agama.
No comments:
Post a Comment