Mar 15, 2017

COMPASSION IN RELIGION

Menyusul tumbangnya gedung kembar WTC New York di tahun 2001 ditabrak oleh dua pesawat teroris, merebak gelombang besar ateis di beberapa belahan dunia. Bila ateis generasi pertama (Marx, Nietzsche, Freud dll) muncul karena dialog agamawan-ilmuwan buntu - terutama menyangkut penciptaan semesta, ateis generasi ke dua (contoh menonjolnya adalah ahli biologi dari Universitas Oxford yang menulis buku best seller provokatif berjudul God Delusion) sebagian besar muncul karena kemarahan dan kebencian. Tidak jarang kelompok ini menyebut agama sebagai sumber kejahatan.

Dengan pesat dan derasnya pengaruh media sosial khususnya, sejumlah orang tua (khususnya yang putra-putrinya baru lulus dari luar negeri) sudah mengeluh karena generasi baru sudah teryakinkan oleh argumen-argumen ateis. Tidak semua orang ateis itu negatif, bahkan ada yang terang-terangan menulis buku “How can we be good without God?”. Orang ateis pun banyak yang berniat kuat untuk menjadi baik. Yang perlu diendapkan dalam-dalam, bukan interaksi dinamis teis-ateis, melainkan peradaban bisa kehilangan agama sebagai salah satu payung sejuk yang sempat menjadi tempat berteduh selama berabad-abad.

Panutan Kasih Sayang

Belajar dari sejumlah cerita murid meditasi yang mau pindah agama, ada beberapa pelajaran yang layak direnungkan. Umumnya sebab di balik ini karena kecewa dengan agama orang tuanya yang penuh kekerasan, kemudian mengira agama yang mau dimasuki bebas sepenuhnya dari cerita kekerasan. Setelah digali dalam-dalam, ternyata mereka belum mengerti agama yang mau ditinggalkan secara utuh, sekaligus memasuki agama baru dengan informasi yang amat di permukaan. Ujung kesimpulannya sederhana, sebenarnya mereka tidak mencari agama baru, tapi merindukan secara mendalam tokoh panutan yang penuh pengertian sekaligus kasih sayang. Ini juga sebabnya sejumlah sahabat di dunia spiritual sepakat, mengganti agama bukan jawaban, mengganti sikap dalam keseharian, itulah jawabannya. Karena dengan sikap yang lembut dan sejuk, semua agama jadi sejuk dan lembut.

Dari sini muncul inspirasi, inilah pekerjaan rumah agama-agama: “menghasilkan tokoh panutan yang penuh pengertian dan kasih sayang”. Tanpa panutan yang penuh kasih sayang, semua agama berpotensi ditinggalkan orang. Sebagai tambahan bahan renungan, semua Guru spiritual dengan murid berlimpah tahu, sebagian murid yang datang belajar spiritual adalah manusia-manusia sakit. Mereka datang mencari penyembuh. Dan obat yang menyembuhkan bernama kasih sayang. Tidak sedikit murid meditasi yang menangis menggigil tatkala diwawancara hanya dengan didengarkan dan diperhatikan belum diberikan jawaban. Intinya sederhana, banyak manusia yang jiwanya dahaga. Kemudian mencari sumber air sejuk lembut bernama kasih sayang.

Bukti lain, ekspresi duka berlebihan dunia saat Putri Diana wafat sekian tahun lalu adalah cermin betapa dahaganya jiwa manusia akan kelembutan dan kasih sayang. Disamping itu dihormatinya Jalaludin Rumi, YM Dalai Lama, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Muhammad Yunus oleh dunia, tidak menyimpan kerinduan lain selain kerinduan akan kelembutan dan kasih sayang. Sehingga bisa dimengerti sepenuhnya, tatkala tokoh agama-agama dunia berkumpul di tahun 2009 di Swiss, kemudian sepakat esensi semua agama adalah compassion (belas kasih). Ini berarti, kasih sayang tidak saja menjadi kerinduan banyak jiwa yang dahaga, tapi juga menjadi intisari agama-agama.

Sumber air kelembutan

Dengan peta pemahaman seperti ini, mudah dimengerti kalau pemenang hadiah nobel perdamaian tahun 1989, warga negara kehormatan pemerintah Kanada sekaligus Amerika Serikat yakni YM Dalai Lama pernah berpesan terang: “my true religion is kindness” (agama saya yang sesungguhnya adalah kebajikan). Dalam spirit yang sama Bunda Teresa pernah meninggalkan warisan spiritual seperti ini : “if you want to contribute to world peace, go back home love your family” (bila ingin berkontribusi pada kedamaian dunia, pulang sayangi keluarga).

Mistikus sufi Jalalluidin Rumi lebih menyentuh lagi: “love told me that no one is not mine“. Di tingkat cinta kasih mendalam, diri kecil (keakuan, kesombongan, kecongkakan) ditinggalkan di belakang, seseorang memasuki Diri yang Agung di mana seisi semesta adalah Diri kita. Sebagai hasilnya, cinta kasih lahir alamiah, natural, tanpa perjuangan. Ia sealamiah air yang basah, senatural gula yang manis. Mahatma Gandhi agak unik. Buku pegangannya adalah Bhagavad Gita, yang berisi perintah Shri Krishna (diyakini oleh umat Hindu sebagai reinkarnasi Tuhan) untuk berperang, tapi oleh Gandhiji perintah berperang ini dilanggar. Sebaliknya seluruh hidup Gandhiji menjadi contoh hidup ahimsa (secara negatif berarti tanpa kekerasan, secara positif bermakna banyak menyayangi, secara holistik berarti Anda adalah saya, saya adalah Anda). Di tangan Gandhiji Bhagavad Gita berwajah lembut, sejuk, halus. Beberapa saat setelah kena tembak, beliau bahkan sempat memberkati orang yang menembaknya dengan mantra: “Ram, Ram, Ram”. Bahkan orang yang menembak beliau sampai wafat pun dipanggil dengan nama Tuhan.

Seluruh cerita ini mengetuk hati kita semua, agama bukan senjata untuk menyerang orang, melainkan kemulyaan untuk menyempurnakan kasih sayang. Agama bukan tembok yang memisahkan melainkan jembatan pengertian dan persahabatan. Agama bukan hulunya kekerasan tapi sumber air kelembutan dan kasih sayang. Dengan cara pandang ini, bersama-sama kita selamatkan payung penyejuk peradaban bernama agama.

No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search