Di suatu hari yang panas.
Seorang penjual pisang menyusuri jalanan di kompleks perumahan.
Dua keranjang pisang yang dijual baru laku dua sisir.
Ketika ia mau instirahat di pinggir jalan, seorang ibu gendut
memanggilnya.
“Pisangnya bagus enggak
bang?”, tanya ibu gendut dengan nada dingin.
“Semuanya bagus bu. Kalau tidak bagus masa ya saya jual.” Jawab tukang pisang dengan ramah.
“Semuanya bagus bu. Kalau tidak bagus masa ya saya jual.” Jawab tukang pisang dengan ramah.
BU GENDUT DENGAN KASAR MEMBALIK BALIK PISANG YANG ADA DI
KERANJANG. Si tukang pisang tentu saja gusar, dagangannya diperlakukan kasar
seperti itu. “Wah bu, pelan-pelan saja. Cari pisang apa sih?”
“Kalau pisang ambon ini berapa?” Ibu gendut menunjuk sesisir
pisang ambon.
“Yang itu limabelas ribu bu.”
“Yang itu limabelas ribu bu.”
“MAHAL AMAT! DI TOKO YANG KENA PAJAK SAJA CUMA SEPULUH RIBU
RUPIAH.” Meski sebenarnya ia tahu bahwa di super maket pisang seperti itu
dihargai lima belas ribu rupiah.
“TUJUH RIBU YA BANG?”
“Wah, maaf, belum bisa bu.”
“Wah, maaf, belum bisa bu.”
Tiba-tiba muncul Tedy, anak ibu gendut itu, mendekati keranjang
pisang. Tanpa ba-bi-bu langsung memotek salah satu pisang dan dilahapnya.
MELIHAT HAL ITU SI IBU DIAM SAJA.
Sementara si tukang buah memberanikan diri menegur anak itu.
“Lho dik, kok main comot saja!” Lalu menengok ke arah ibu gendut, “putera ibu?”
Si ibu tidak menanggapi pertanyaan si tukang pisang.
“Ibu mau borong pisang kan bu?” Celetuk anak itu sambil terus
melahap pisangnya. Lalu meneruskan. “Pisang yang saya makan ini nanti dihitung
sekalian pak. Jangan kuatir!”
Ibu gendut yang sejak tadi diam karena agak malu atas tingkah
anaknya. “Sudah, pisang ambonnya ini delapan ribu rupiah ya bang.”
“Kalau segitu masih rugi…” Kata si tukang pisang setengah putus
asa. Ia kembali mau memikul keranjang pisangnya. Mengiklaskan pisang yang telah
dilahap si Tedy.
“Tunggu bang, tunggu”. Ibu gendut itu mengambil dompet dan
membukanya, mengambil selembar uang sepuluh ribuan. Disodorkan ke tukang
pisang, “Tapi sekalian pisang yang sudah dimakan anakku, ya bang.” kata ibu
gendut itu. BILANG BEGITU SAMBIL AMBIL SESISIR PISANG BARU, BUKAN YANG DIPOTEK
ANAKNYA..
Si tukang pisang hanya bisa pasrah, lalu terus berjalan memasuki
komplek yang lain. Tak lama ia dipanggil oleh seorang ibu.
“Pak, sini pak!” Teriaknya dengan nada sopan.
Si tukang pisang langsung mendekati ibu yang memanggilnya. Ibu
itu mengambil sesisir pisang raja-sereh, lalu diacungkan ke tukang pisang. “Ini
berapa pak?”
“Itu lima belas ribu bu. Pisang raja-sereh memang mahal bu. Tapi
rasanya juga jos bu.” Kata tukang pisang tanpa melebih-lebihkan.
Ibu itu tahu bahwa pisang raja-sereh seperti itu di super market
harganya dua puluh ribu rupiah.
Muncul anak perempuan berusia 15 tahun. Ia keluar ingin membanu
ibunya memilihkan pisang. Tetapi ketika melihat tukang buah itu kecapean dan
kehahusan. Ia kembali masuk rumah. LALU KELUAR LAGI MEMBAWA SEGELAS AIR PUTIH,
DISODORKAN KE TUKANG BUAH. “PAK, MINUM DULU PAK, BIAR AGAK SEGERAN,” KATANYA
RAMAH.
“Wah terima kasih non…” jawab tukang pisang menerima segelas air
putih dan langsung ditenggak habis. Sambil menghela napas lega ia terkekeh..
”Non baik hati deh, sekali lagi terima kasih ya, non.” Ia mengembalikan
gelasnya.
“Baik saya beli raja serehnya satu ya pak..” Ibu itu
mengeluarkan uang lima belas ribu rupiah disodorkan ke tukang buah. Tukang buah
itu membungkus pisang yang telah dipilih ibu itu. Lalu menyodorkan pisang
raja-sereh itu. Ketika menerima uang, pak tukang buah tersenyum tulus, ada rasa
bahagia membersit dari lubuk hatinya.
“Terima kasih ya pak. Semoga laris.” Itulah ucapan selamat jalan
dari ibu itu. Si tukang pisang, seperti mendapat semangat baru. Ia dengan
mantap melangkah lagi, menawarkan dagangannya. “Pisang..! Pisaaanggg!”
No comments:
Post a Comment