Pergi ke kuil atau vihara untuk
bersembahyang dan memanjatkan doa pada setiap perayaan hari raya, adalah
tradisi masyarakat Tionghoa. Setiap menjelang hari pertama imlek, semua kuil,
vihara atau tempat sembahyang lainnya selalu disesaki dengan manusia. Asap-asap
dupa menyelimutii segenap kuil, kotak-kotak amal dipenuhi dengan uang kertas
sembahyang. Ketika orang-orang membakar dupa dan berlutut memanjatkan do’a,
mereka berharap para dewa dapat melimpahkan berkah rezeki, usaha atau karier
dan kesehatan pada mereka.
Namun, kenyataannya terkadang sangat
menyedihkan, karena bagi sebagian besar orang, doanya tidak terkabul.
Kebanyakan orang sepanjang hidupnya selalu rajin sembahyang, namun, sebagian
besar tidak pernah dilimpahkan kesejahteraannya, sial tetap saja sial, dan
tetap hidup dalam kemiskinan. Orang yang benar-benar dilimpahkan kesejahteraan
berkat doa’nya itu amat sangat sedikit sekali! Padahal kita juga tahu,
do’a-sembahyang yang kita panjatkan dengan khusuk sekalipun itu juga belum
tentu terwujud, dan kita juga pernah merenung dan bertanya dalam hati,
sebenarnya apa yang kurang atau salah dan sebagainya ?
Seperti kata pepatah: segala sesuatu yang
dilakukan dengan tulus, jujur dan sungguh-sungguh, maka harapan pun akan
terwujud. Apakah hati kita tidak cukup tulus dan jujur ? Saya yakin, selain
orang lain, sebagian besar orang pasti tulus, jujur dan sungguh-sungguh ketika
bersujud (memanjatkan do’a) di hadapan-Nya. Apakah tempatnya (kuil/vihara dan
semacamnya) tidak manjur ? Pada zaman akhir Dharma ini, sebagian besar kuil
atau vihara dan semacamnya itu telah tercemar oleh duniawi, banyak akar
kebaikan dari para biarawan tidak lagi murni, bahkan ada kuil atau vihara
dikontrak oleh biarawan atau biksu palsu sebagai tempat untuk mencari uang.
Sebenarnya apa masalahnya ? Ini adalah simpul yang tidak bisa saya urai selama
bertahun-tahun!
Saya mulai mencari penjelasan dan arti
dari makna kata “Fu” (keberuntungan), dan langsung memeriksa dan menyelidikinya
dari oracle bones (Aksara tulang ramalan, berdasarkan bentuk-bentuk awal aksara
Tionghoa), penjelasan terkait pada dasarnya sama : Dalam aksara tulang ramalan,
huruf “Fu” memiliki makna mendapatkan berkah (rezeki, keberuntungan dan
sebagainya) dari Sang Ilahi atas orang-orang yang menyembahnya. Apa ada yang
aneh dengan penafsiran ini ? Bukankah selama ribuan tahun ini memang demikian,
sepanjang hari kita memanjatkan do’a sambil menyalakan hio(membakar dupa) di
hadapan para Dewa, bukankah untuk memperoleh berkah dari-Nya!?
Saya meminta petunjuk atau pencerahan
dari seorang tokoh Buddhis. Ketika saya mengemukakan keraguan saya, beliau
tersenyum dan bertanya, “pada zaman dahulu, arak adalah sesuatu yang sangat
berharga, apa namanya kalau kita menyumbangkan atau mempersembahkan sesuatu
yang paling berharga ?” Saya tertegun sejenak, “mempersembahkan sesuatu yang
paling berharga dari kita”? Bukankah itu “persembahan” ? Jadi, arti sebenarnya
dari “Fu” itu bukan “meminta”, tapi “mempersembahkan”? Ah!Tidak mungkin !? Ini
sepenuhnya terbalik dengan pengetahuan saya selama bertahun-tahun !!!
Beliau menuturkan : “Pengikut Buddha yang
sejati, membakar dupa memanjatkan do’a itu merupakan penghormatan pada Sang
Buddha, dan mempelajari kebenaran Dharma Buddha, mempersembahkan seumur
hidupnya pada Buddha, namun, tidak ada arti dari permintaan apa pun di sini.
Jika tidak ada persembahan, lalu dari mana datangnya berkah ? Sepanjang hari
hanya memikirkan kepentingan pribadi, yang dipikirkannya hanya meminta, tapi
tidak membantu orang lain, atau bahkan menyakiti atau mencelakakan orang lain,
jadi, dari mana bisa mendapatkan berkah. Yang ada justru musibah, jadi, kamu
telaah sendiri saja makna di dalamnya ini.”
Sejak beliau keluar dari kuil, tinggallah
saya sendiri duduk termenung di dalam kuil. Kuil itu tampak ramai, para
peziarah tampak sibuk keluar masuk, tapi di mata saya, suasana kuil sepenuhnya
sudah berubah. Di depan saya, tampak seorang pemuda, sekilas terlihat seperti
seorang pedagang. Melihatnya begitu khusuk, pasti sedang berdo’a meminta Dewa
memberkati dan melimpahkan rezeki padanya. Sementara di sisi lain, tampak
seorang pria paruh baya, sepertinya seorang pejabat korup, melihatnya begitu
khusuk, pasti sedang berdo’a juga meminta Dewa memberkatinya agar naik jabatan
dan rezeki yang melimpah.
Mungkin juga mereka datang ke kuil
menyumbangkan uang untuk menepati janjinya kepada Dewa, tapi entah mengapa,
kesadaran saya sayup-sayup bergejolak dalam batin, barangkali mereka
memanjatkan doa meminta berkah untuk kepentingan sendiri atau bahkan meminta
perlindungan atas kejahatan yang dilakukan, siapa tahu. Di kuil yang sarat
dengan para peziarah ini, apa ada orang yang berdo’a memberi kesempatan pada
dirinya agar bisa memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat, atau
mempersembahkan sesuatu untuk orang lain ? Saya rasa mungkin tidak ada satu pun
!
Kita sering mengatakan bahwa doa yang
tulus dengan tiga batang dupa di hadapan Dewa itu dapat menjalin kontak batin
dengan-Nya! Tapi apa pesan yang kita sampaikan ? Apa yang kita tunjukkan di
hadapan Buddha itu? Sekeping hati yang buruk, egois, serakah, penuh kemunafikan
dan kepura-puraan, kelakuan yang buruk dan hanya memandang kepentingan diri.
Kita seharusnya menghormati Buddha, dan melakukan segala sesuatunya sesuai
dengan kebenaran Buddha! Tapi sekarang justru menyembah dan memohon Buddha,
memperlihatkan sepenuhnya keburukan dan kegelapan diri sendiri di hadapan
Buddha. Dan lebih menyedihkan lagi, bahkan mau menukarnya dengan Buddha
menggunakan uang kotor duniawi, dengan maksud agar para dewa melakukan segala
sesuatunya sesuai dengan permintaan kita, membantu kita tampak lebih buruk di
hadapan-Nya ? ! Coba tanyakan pada diri Anda, apakah Buddha akan memberkati
kita ?
Darimana datangnya berkat kalau tidak ada
sumbangsih apa pun ? Tidak memberikan sumbangsih apa pun pada orang lain atau
masyarakat, hanya meminta berkah dan menikmatinya sendiri. Asal tahu saja, ini
bukanlah doa meminta berkah, tapi justru memberitahu Sang Buddha : “Saya orang
jahat ! Saya orang hina !” Memberitahu segala keburukan hati Anda sendiri pada
Buddha, dan sadarilah kalau Anda itu sedang mengharapkan Sang Dewa menjatuhkan
hukuman pada diri Anda !
No comments:
Post a Comment