Apr 21, 2017

SEPATU KRISTAL CINDERELLA

Setelah sekian lama tidak berhubungan, saya berjumpa lagi dengan Helen di internet, lalu mengobrol dengannya. Ketika saya mengambil S2, Helen dan temannya baru saja masuk kuliah. Kebetulan saya juga mempunyai pekerjaan sampingan, menjadi dosen pengganti di kelas mereka. Usia kita berdua hanya terpaut kira-kira tiga tahunan saja, sejak awal saya juga tidak menganggap diri saya sebagai guru, mereka juga menganggap saya sebagai seorang kakak. Dengan penuh kegembiraan kami melewatkan masa kuliah selama dua tahun. Saat tahun ketiga, saya mengundurkan diri dari mengajar, karena banyak kesibukan, sehingga tak bisa merangkap lagi.

Teringat setelah selesai mengajar kuliah terakhir, saya memberitahu mereka, tak peduli kelak kita berada dimana, meski terpisah oleh jarak yang jauh, kita semua tetap teman untuk selamanya. Dan tak peduli kita tidak berhubungan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, asalkan siapa saja yang mendapatkan kesulitan boleh curhat via telepon, kita masih bisa saling topang dan memberikan bantuan. Ada beberapa mahasiswa perempuan mengusap air mata, saya menghibur mereka dengan mengatakan bahwa waktu tidak akan bisa memisahkan jarak antara hati kita. Sebelum usai pelajaran, ketua kelas naik ke podium, mewakili teman-temannya memberi sebuah hadiah kenangan pada saya. Kotak hadiah saya buka, di dalamnya ada sebuah sepatu kristal dengan tepi yang dihiasi bunga berwarna kuning.

Saya mengerti maksud mereka, pada pelajaran lalu kami pernah mendiskusikan kisah Putri Cinderella. Semua orang tahu sepatu kristal itu mewakili harapan, kunci menuju kebahagiaan dan keindahan. Ketua kelas hanya menyampaikan kata-kata perpisahan yang sangat sederhana, berterima kasih kepada saya yang telah menemani mereka berhasil melewatkan masa transisi menjadi mahasiswa.  Sekejap mata empat tahun telah terlewatkan, ada mahasiswa yang ke luar negeri, ada pula yang melanjutkan ke jenjang S2, semua orang mengarungi hidup dengan sukses. Helen menjelaskan kepada saya satu per satu setiap teman kuliahnya, kelihatannya Helen sangat gembira. Saat mengakhiri  percakapan, saya memberitahu Helen bahwa hadiah sepatu kristal mereka, masih saya letakkan di meja tulis saya hingga saat ini.

Mendengar ini Helen berteriak dengan girang, “Guru Anda sangat baik sekali!” Mendengar teriakannya, saya tertawa dan balik bertanya, “Kapan saya pernah menjadi ‘guru’ kalian?” Helen sendiri juga tertawa. Saat baru menjadi mahasiswa, kebanyakan menampakkan wajah yang murung. Meskipun saat di SMA semua orang termasuk paling unggul, tetapi kejayaan mereka selama itu, tidak bisa dibandingkan dengan ujian masuk perguruan tinggi. Di mana kebanyakan dari mere-ka, hanya mendapatkan universitas pilihan yang biasa-biasa saja, tentu hati ini tidak rela rasanya.
Saya memberikan semangat kepada mereka, jika kalian adalah emas, maka dimana pun berada dia tetap akan mengeluarkan sinar kilaunya. Persis seperti Putri Cinderella. Berdasarkan cinta sejati dan kebaikan dirinya, pada akhirnya dia tetap menjadi seorang putri raja. Maka selamanya jangan pernah mencampakkan harapan. Dalam kisah cerita Putri Cinderella, sepatu kristal itu ibarat sebuah titik terang, sedangkan Putri Cinderella mengandalkan sepatu kristal itu baru bisa mewujudkan titik balik nasibnya sendiri, dan berjalan di atas jalan yang lebar untuk menuju ke kebahagiaan.

Sepatu kristal yang indah itu juga mewakili perlindungan Tuhan kepada orang-orang yang baik hati, mewakili hukum alam semesta, perbuatan jahat atau baik semua ada balasannya. Ia juga mewakili kecerahan.


Menyimpan sepatu kristal saya itu, tidak hanya bisa meninggalkan kenangan, namun juga memberikan setitik sinar harapan bagi diri saya sendiri. Helen menganggukkan kepala dan berkata, “Kalau begitu saya akan menyimpan sepatu kristal itu di dalam hati.”

No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search