Setelah sekian lama tidak berhubungan, saya
berjumpa lagi dengan Helen di internet, lalu mengobrol dengannya. Ketika saya
mengambil S2, Helen dan temannya baru saja masuk kuliah. Kebetulan saya juga
mempunyai pekerjaan sampingan, menjadi dosen pengganti di kelas mereka. Usia
kita berdua hanya terpaut kira-kira tiga tahunan saja, sejak awal saya juga
tidak menganggap diri saya sebagai guru, mereka juga menganggap saya sebagai
seorang kakak. Dengan penuh kegembiraan kami melewatkan masa kuliah selama dua
tahun. Saat tahun ketiga, saya mengundurkan diri dari mengajar, karena banyak
kesibukan, sehingga tak bisa merangkap lagi.
Teringat setelah selesai mengajar kuliah
terakhir, saya memberitahu mereka, tak peduli kelak kita berada dimana, meski
terpisah oleh jarak yang jauh, kita semua tetap teman untuk selamanya. Dan tak
peduli kita tidak berhubungan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun,
asalkan siapa saja yang mendapatkan kesulitan boleh curhat via telepon, kita
masih bisa saling topang dan memberikan bantuan. Ada beberapa mahasiswa
perempuan mengusap air mata, saya menghibur mereka dengan mengatakan bahwa
waktu tidak akan bisa memisahkan jarak antara hati kita. Sebelum usai
pelajaran, ketua kelas naik ke podium, mewakili teman-temannya memberi sebuah
hadiah kenangan pada saya. Kotak hadiah saya buka, di dalamnya ada sebuah
sepatu kristal dengan tepi yang dihiasi bunga berwarna kuning.
Saya mengerti maksud mereka, pada pelajaran
lalu kami pernah mendiskusikan kisah Putri Cinderella. Semua orang tahu sepatu
kristal itu mewakili harapan, kunci menuju kebahagiaan dan keindahan. Ketua
kelas hanya menyampaikan kata-kata perpisahan yang sangat sederhana, berterima
kasih kepada saya yang telah menemani mereka berhasil melewatkan masa transisi
menjadi mahasiswa. Sekejap mata empat
tahun telah terlewatkan, ada mahasiswa yang ke luar negeri, ada pula yang
melanjutkan ke jenjang S2, semua orang mengarungi hidup dengan sukses. Helen
menjelaskan kepada saya satu per satu setiap teman kuliahnya, kelihatannya
Helen sangat gembira. Saat mengakhiri percakapan,
saya memberitahu Helen bahwa hadiah sepatu kristal mereka, masih saya letakkan
di meja tulis saya hingga saat ini.
Mendengar ini Helen berteriak dengan girang,
“Guru Anda sangat baik sekali!” Mendengar teriakannya, saya tertawa dan balik
bertanya, “Kapan saya pernah menjadi ‘guru’ kalian?” Helen sendiri juga
tertawa. Saat baru menjadi mahasiswa, kebanyakan menampakkan wajah yang murung.
Meskipun saat di SMA semua orang termasuk paling unggul, tetapi kejayaan mereka
selama itu, tidak bisa dibandingkan dengan ujian masuk perguruan tinggi. Di
mana kebanyakan dari mere-ka, hanya mendapatkan universitas pilihan yang
biasa-biasa saja, tentu hati ini tidak rela rasanya.
Saya memberikan semangat kepada mereka, jika
kalian adalah emas, maka dimana pun berada dia tetap akan mengeluarkan sinar
kilaunya. Persis seperti Putri Cinderella. Berdasarkan cinta sejati dan
kebaikan dirinya, pada akhirnya dia tetap menjadi seorang putri raja. Maka
selamanya jangan pernah mencampakkan harapan. Dalam kisah cerita Putri
Cinderella, sepatu kristal itu ibarat sebuah titik terang, sedangkan Putri
Cinderella mengandalkan sepatu kristal itu baru bisa mewujudkan titik balik
nasibnya sendiri, dan berjalan di atas jalan yang lebar untuk menuju ke
kebahagiaan.
Sepatu kristal yang indah itu juga mewakili
perlindungan Tuhan kepada orang-orang yang baik hati, mewakili hukum alam
semesta, perbuatan jahat atau baik semua ada balasannya. Ia juga mewakili
kecerahan.
Menyimpan sepatu kristal saya itu, tidak hanya
bisa meninggalkan kenangan, namun juga memberikan setitik sinar harapan bagi
diri saya sendiri. Helen menganggukkan kepala dan berkata, “Kalau begitu saya
akan menyimpan sepatu kristal itu di dalam hati.”
No comments:
Post a Comment