Saya sedang dikejar deadline. Liputan harus segera
rampung karena majalah segera naik cetak. Sementara saat itu saya masih
“terdampar” di Pulau Biak, Papua, karena pesawat ke Serui selama seminggu fully
booked. Saya panik. Saya lalu ingat Tuhan.
Kelihatannya cengeng. Tetapi saya tidak melihat ada
jalan keluar selain memasrahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Saya lalu
bersimpuh dan berdoa. Saya memohon agar Tuhan menggunakan kuasa-Nya dengan
menunjukkan keajaiban. Sebab kalau menggunakan akal manusia, saya tidak melihat
ada jalan keluar. Sudah buntu.
Hari itu, akhir 1980, saya mendapat tugas liputan ke
Serui. Hanya satu kali penerbangan setiap hari dari Biak ke Serui. Itupun
menggunakan pesawat jenis Cessna 16 kursi. Tidak heran jika kursi selalu penuh.
Lebih parah lagi, pada saat saya hendak ke Serui, kota itu sedang
menyelenggarakan lomba Tilwatil Qur’an. Delegasi masing-masing daerah tumpah
ruah di sana. Kursi pesawat penuh sampai seminggu kemudian.
Serui memang unik. Sebagian penduduknya berkulit putih
dan berambut lurus. Sangat kontras dengan masyarakat papua yang umumnya
berkulit hitam dan berambut keriting. Bagi pendatang yang baru pertama kali
berkunjung ke Serui, tentu akan merasa aneh melihat ada “orang papua putih”.
Sama seperti orang papua lainnya, mereka fasih berbahasa Serui. Kalaupun
berbahasa Indonesia, logat papua mereka sangat kental.
Mereka yang berkulit putih ini dijuluki “Perancis”
alias Peranakan Cina Serui. Dari sejarahnya, mereka memang keturunan Tionghoa.
Nenek moyang mereka berasal dari daratan Cina. Para perantau ini sudah ada
sejak jaman Belanda. Mereka umumnya berasal dari Tiongkok Selatan.
Para perantau merupakan pedagang yang ingin mencari
kehidupan yang lebih baik. Mereka berlayar ke berbagai negara. Sebagian besar
masuk melalui Laut Cina Selatan menuju Pulau Natuna. Dari sana mereka menyebar
ke berbagai wilayah Nusantara. Para perantau yang masuk ke Serui umumnya para
pedagang yang kalah bersaing di wilayah Makassar. Mereka lalu menyisir ke arah
Maluku Selatan dan sebagian akhirnya sampai di Serui, di Pulau Yapen Waropen.
Pulau Yapen Waropen ternyata menyimpan kekayaan alam
yang luar biasa. Selain jenis tumbuhan yang beraneka ragam, pulau ini banyak
dihuni buaya dan burung Cendrawasih. Bersama penduduk setempat, para perantau
itu lalu melakukan perburuan buaya dan Cendrawasih untuk dijual ke luar negeri
melalui kapal-kapal Belanda yang singgah di sana. Kulit buaya asal Serui sangat
diminati karena ukurannya yang besar dan teksturnya yang bagus.
Sebagian perantau kemudian memilih menetap dan menikah
dengan perempuan lokal. Keturunan mereka inilah yang kemudian lahir berbeda
dengan penduduk asli. Perpaduan darah Tiongkok dan Serui menghasilkan keturunan
yang berkulit putih berambut lurus, berkulit putih berambut keriting atau
berkulit sawo matang dan keriting. Unik memang.
Saya ke Serui untuk menulis cerita tentang anak-anak
Perancis ini. Bagaimana awal mula nenek moyang mereka masuk ke pulau itu,
termasuk keyakinan sebagian orang bahwa pada mulanya perkawinan antar perantau
dan penduduk asli semata untuk kepentingan bisnis. Guna mendapatkan tenaga
kerja murah, para perantau menikahi perempuan setempat. Pernikahan tersebut
otomatis menjadikan sang perantau sebagai bagian dari suku di sana. Dengan
status itu, dia dapat menggerakan para pemburu buaya atas nama sesama suku.
Dengan begitu dia bisa mendapatkan tenaga kerja murah.
Cerita yang menarik untuk ditulis. Tapi, untuk
mencapai Serui tidak mudah. Penerbangan waktu itu hanya satu kali sehari.
Pilihan lain, naik perahu tradisional dengan motor tempel. Tapi itu akan
memakan waktu hampir seharian di lautan. Sementara saya termasuk yang mudah
mabok laut.
Dalam keadaan tertekan oleh tenggat waktu untuk
menyetor laporan, malam sebelum tidur, saya bersimpuh di samping tempat tidur
tempat saya menginap. Saya memohon agar dengan caranya Tuhan menunjukkan kepada
saya “kekuasaan-Nya” agar saya bisa mendapatkan kursi di penerbangan hari itu.
Pagi hari, saya bergegas ke kantor maskapai
penerbangan yang letaknya tepat di seberang losmen. Begitu kantor dibuka, saya
berharap ada penumpang yang membatalkan penerbangan hari itu. Tapi, yang saya
dapat berita buruk. Selain tidak ada penumpang yang membatalkan penerbangannya,
daftar waiting list juga cukup panjang. Harapan untuk bisa terbang ke Serui
hari itu kandas sudah.
Dengan perasaan galau saya kembali ke losmen. Pesawat
akan berangkat dua jam lagi. Saya pasrah. Yang terpikir adalah melaporkan ke
Jakarta saya gagal. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba seorang tentara muncul
di teras losmen depan kamar saya. Saya lupa pangkatnya. Tapi begitu bertemu
saya, wajahnya tampak ceria. Dengan bersemangat dia memperkenalkan dirinya dan
mengatakan selama ini dia mengagumi tulisan-tulisan saya.
Lalu bagaimana dia tahu saya menginap di losmen ini?
Ternyata pagi itu, sesudah saya meninggalkan kantor maskapai penerbangan,
terjadi “kekacauan”. Sejumlah calon penumpang yang panik karena tidak
mendapatkan kursi penerbangan hari itu, memaksa untuk bisa naik pesawat.
Umumnya mereka delegasi Tilwatil Qur’an yang ingin menghadiri acara pembukaan
malam itu.
Petugas maskapai penerbangan mencoba menjelaskan bahwa
kursi sudah penuh. Jangankan delegasi, pejabat saja dia tolak karena memang
tidak ada kursi. Bahkan seorang wartawan dari Jakarta juga dia tolak. Petugas
itu menyebut nama saya. Nah, pada saat itu tentara tersebut, yang berada di
sana, terkejut. Dia meminta info keberadaan saya. Petugas maskapai lalu
menunjuk losmen saya. Sebelumnya saya memang titip pesan jika ada kursi kosong,
tolong diberi tahu. Saya menginap di losmen depan.
Setelah bercerita tentang beberapa tulisan saya,
termasuk tulisan pengalaman saya berlayar dengan kapal Dewa Ruci mengarungi
Laut Cina Selatan, sang tentara lalu menyerahkan tiketnya kepada saya. “Mas
Andy pasti lebih membutuhkan tiket ini,” ujarnya. Dia lalu pergi setelah
bersikeras menolak uang pengganti tiket.
Saya tercenung. Tidak percaya atas apa yang baru saja
saya alami. Betapa cepatnya Tuhan menjawab doa saya. Ketika otak manusia tidak
bisa memecahkan masalah, ketika semua cara menemui jalan buntu, hanya Dia yang
mampu memberi jalan keluar. Bahkan dengan jalan yang tidak pernah kita duga
sekalipun.
No comments:
Post a Comment