Wawancara Khusus Gede Prama di Liputan6.com, 04 Juni 2013,
oleh Septian Deny
Liputan6.com, Jakarta : Nama Gede Prama sudah tidak asing
lagi sebagai motivator yang mencerahkan. Meski awalnya ia seorang profesional,
Gede kini menjadi penuntun orang yang ingin mencari pencerahan di tengah
kehidupan dunia yang keras dan penuh persaingan.
Gede Prama lahir di Desa Tajun, Singaraja, Bali Utara, 50
tahun yang lalu. Pengalamannya didunia bisnis tidak perlu diragukan lagi.
Dirinya pernah menjadi CEO sebuah perusahaan serta menjadi konsultan managemen
dibeberapa perusahaan.
Dalam urusan pendidikan pun, pria yang telah menulis puluhan
judul buku ini pernah menuntut ilmu di Universitas Lancaster, Inggris dan
INSEAD, Prancis.
Meskipun hidup berkecukupan, Gede Prama merasakan ada sebuah
kekosangan jauh didalam hatinya. Dia merasakan ada panggilan yang memintanya
menyebarkan kasih sayang bagi umat manusia.
Ya, kasih sayang, itulah yang selalu beliau ajarkan kepada
seluruh murid atau masyarakat umum yang datang kepadanya untuk sekedar meminta
nasihat atau pendapat.
Gede Prama banyak belajar tentang meditasi, filosofi
kehidupan dan kasih sayang dari bahasa-bahasa simbolik yang beliau temui di
alam.
Beliau memperkayanya dengan banyak membaca buku suci,
diperdalam dengan perjumpaan dengan sejumlah guru spiritual tingkat dunia salah
satunya Dalai Lama, kemudian beliau pun terus menggali sendiri melalui
kedalaman meditasi.
Berikut wawancara khusus Liputan6.com dengan Gede Prama di
Artha Gading Jakarta belum lama ini seperti ditulis Minggu (2/6/2013):
Bapak pernah mengatakan dalam sebuah tulisan, saat usia
sudah 40 tahun adalah waktunya untuk mendalami spiritualisme. Apakah idealnya
orang harus seperti itu, berhenti mengejar materi duniawai setelah umur 40
tahun?
Tiap orang lahir dengan kedewasaan dan kematangan jiwa
berbeda-beda. Sehingga tidak harus kaku umur 40 tahun harus masuk spiritual dan
meninggalkan material. Sekali lagi tidak kaku.
Kerangka sederhananya seperti ini, setengah hidup kita yang
pertama kita membuat banyak kesalahan karena masih muda, bodoh, tidak tahu,
belum belajar. Sehingga setengah hidup ke dua seyogyanya kita membayar
utang-utang kesalahan yang pernah dibikin sebelumnya. Sehingga nanti jika
pulang ke rumah kematian, tidak membawa hutang.
Di jalan meditasi yang saya tekuni, meditasi membuat pikiran
kita semakin lebar dan toleran. Toleransi dan kesabaran ini yang bisa memberi
ruang pada apa saja yang terjadi dengan penuh keikhlasan. Sebagai hasilnya,
kita memang harus mengalami berbagai macam kesialan dan ketidaksempurnaan di
masa tua. Tapi kita bisa memeluk kesialan dan ketidaksempurnaan ini dengan
penuh ketulusan dan keikhlasan
Pada masa sekarang banyak orang berlomba-lomba mencari
materi, bagaimana pandangan Bapak?
Materi hanya salah satu tangga yang harus dilewati dan
dilampaui nantinya.
Apa yang harus dilakukan jika seorang pekerja, ibu rumah
tangga, pelajar, putus asa?
Belajar untuk tidak lari, apa lagi lari ke narkoba, seks
bebas yang sangat berbahaya. Sebagian lari ke makanan atau minuman sehingga
meracuni badan, ini juga tidak disarankan.
Kalau harus lari, lari yang aman adalah lari ke buku suci.
Mencari Guru suci juga baik, tapi hati-hati dengan banyaknya kepalsuan di
mana-mana. Dan yang paling aman adalah belajar bersahabat deng rasa sakit,
berumah di dalam rasa sakit, gunakan rasa sakit sebagai pintu pembuka untuk
menggali semakin dalam dan semakin dalam.
Jiwa kita seperti
karet gelang, dan rasa sakit adalah kekuatan yang bisa membuat jiwa tambah
longgar, toleran dan penuh kasih sayang.
Ada anggapan saat ini orangtua sangat memanjakan
anak-anaknya? Orangtua terlalu membebaskan anak? Seperti apa hubungan yang
ideal antara anak dan orangtua?
Soal manja atau tidak sangat relatif tergantung menurut
siapa. Hubungan anak-ortu baiknya seperti hubungan antar sahabat. Tanpa tinggi
rendah, tanpa marah-marah. Tidak di semua bidang orang tua lebih tahu dari
anak-anak. Pendeknya hubungan persahabatan yang memberi ruang pada pihak lain agar
bertumbuh sesuai dengan panggilan alaminya.
Orang Indonesia yang berkualitas itu idealnya seperti apa?
Bisa dikasih contoh orang yang dianggap ideal menjadi anak muda dalam menjalani
hidup yang baik?
Ciri khas Indonesia adalah negeri tropis yang kaya. Dan
secara spiritual, Indonesia amat kaya akan perbedaan (Bhineka Tunggal Ika).
Sehingga bila ditanya kualitas ideal untuk orang Indonesia adalah orang-orang
dengan pikiran luas dan lebar yang bisa merangkai perbedaan menjadi serangkaian
keindahan. Dan kualitas di dalam yg bisa membuat pikiran jadi luas dan lebar
adalah hati nurani.
Di zaman dulu contohnya Bapak Mohammad Hatta. Di zaman kita
contohnya Bapak Nurcholis Majid. Di negeri lain ada YM Dalai Lama, Nelson
Mandela, Mahatma Gandhi dll.
Sekarang ini banyak politisi yang terseret kasus korupsi
(uang), dan wanita. Kenapa setelah mendapat kedudukan tinggi (tahta) orang
malah lebih mudah tergoda uang (korupsi) dan wanita ketimbang saat susah atau
menjadi orang biasa?
Politik dan kekuasaan memang sebuah peluang besar untuk
melakukan tugas-tugas pelayanan. Tapi peluang besar selalu diikuti oleh godaan
yang juga besar. Ini hukum alam. Untuk itu, disarankan ke generasi muda
khususnya agar mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman terlebih dahulu. Jadi
lebih matang dan dewasa, kebal dengan godaan-godaan kemudian boleh masuk ke
kursi politik dan kekuasaan.
Tanpa persiapan matang, orang akan bernasib seperti debu
kecil yang disedot oleh vacuum cleaner dengan kekuatan yang besar. Ini yang
menerangkan kenapa sejumlah tokoh yang berkibar-kibar namanya di luar, tapi
begitu di kursi kekuasaan kemudian semua identitas baiknya selama di luar
seperti lenyap ditelan langit
Menurut Bapak, politik Indonesia itu seharusnya seperti apa?
Apakah memang politik itu harus penuh intrik? Ada tidak politisi yang ideal
saat ini?
Dunia politik di mana-mana memang penuh intrik. Bahkan di
negeri Barack Obama yang sudah kenyang dengan asam garam politik, demokrasi,
HAM juga penuh intrik. Cuma, di tangan pemimpin mengagumkan, intrik-intrik ini
bisa diolah seperti meramu racun menjadi obat.
Soal politisi ideal saat ini, maaf seribu maaf, saya sudah
lama jarang sekali nonton TV, jarang baca koran, jarang dengar radio. Jadi
tidak tahu.
Melihat banyaknya tindak kekerasan yang bahkan dilakukan
secara massal, bagaimana tanggapan Bapak?
Kekerasan massal di mana-mana adalah bel alarm yang
berbunyi, memberitahu kita semua kalau kita bergerak menuju jurang berbahaya.
Kekerasan apa lagi pembunuhan bukanlah sifat dan rumah alami manusia. Rumah
alami manusia adalah kelembutan, persahabatan, kasih sayang.
Dari mana Bapak belajar tentang meditasi, filosofi kehidupan
dan kasih sayang yang Bapak ajarkan?
Awalnya dari bahasa-bahasa simbolik di alam, kemudian
diperkaya buku suci, kemudian diperdalam dengan perjumpaan sejumlah Guru
spiritual tingkat dunia, selebihnya menggali sendiri di kedalaman meditasi.
Sepanjang Bapak menjadi guru spiritual, kasus apa yang
paling banyak dihadapi orang? Apakah kasus pekerjaan, rumah tangga, putus asa
dalam kehidupan atau yang lain?
Sebagian besar murid datang karena hidupnya bermasalah
(sakit, keluarga berantakan, kegagalan keuangan dll). Tapi diingatkan ke
mereka, penderitaan adalah kerinduan jiwa untuk pulang. Buku suci adalah arah
jalan pulang. Keheningan yang melahirkan kasih sayang itulah pulang.
Dalam mencerahkan seseorang, pernahkah Bapak mengalami hal
tersulit?
Kesulitan itu asam garamnya kehidupan. Tanpa asam garam
kehidupan jadi hambar seperti sayur tanpa garam.
Metode bimbingan atau motivasi seperti apa yang Bapak
berikan kepada murid atau masyarakat?
Saya guru meditasi. Titik yang dicari adalah kedamaian yang
menjadi ibunya kasih sayang. Kasih sayang yang lahir dari kedamaian ini bisa
melahirkan kreativitas, produktivitas, hubungan antar manusia yang semakin
baik, kepemimpinan yang lebih humanistik dan karismatik.
Kepada siapa dan dimana saja Bapak memberikan pengajaran
spiritual?
Ada dunia sosial yang sepenuhnya pelayanan (tidak memungut
biaya sama sekali). Ini dilakukan di Bali selama bertahun-tahun. Direncanakan
tahun depan juga ada kelas meditasi di Jakarta.
Dan sumber nafkah keluarga saya adalah mengajar inhouse dari
satu perusahaan ke perusahaan lain. Itu pun jumlahnya hanya sekadar keluarga
bisa bertumbuh sehat, dan saya bisa tulus melayani orang lain. Tidak mungkin
tulus melayani orang kalau perut kita lapar, keluarga kita berantakan.
Bagaimana dukungan keluarga terhadap profesi Bapak?
Sejauh ini keluarga bisa bertumbuh sehat bahagia sesuai
panggilan alami masing-masing. Tidak harus ikut saya.
Bila dalam pengajaran Bapak dianggap mencampuradukan ajaran
agama, bagaimana tanggapan Bapak?
Saya tidak mengajarkan agama, saya mengajarkan
spiritualitas. Sehingga tidak perlu ada kesimpulan mencampur agama. Agama
memang memisahkan, spiritualitas membangun jembatan.
Kalau ada yang ingin mendalami spritual ke Bapak, bagaimana
caranya? Apa harus tatap muka langsung dan ikut kelas atau ada cara lain?
Yang tertarik ikut
jalan spiritual di jalan saya, disarankan ikut meditasi. Ada jadwalnya di www.gedepramascompassion.com.
No comments:
Post a Comment