Setiap orang tentu mengharapkan berumur
panjang, jika bisa melampaui seratus tahun akan lebih baik. Tetapi saat ini
manusia yang berumur seratus tahun sedikit sekali. Oleh karena itu orang yang
berusia seratus tahun tergolong mujur, yakni manusia yang memiliki kemujuran
dan keberuntungan. Jika dibandingkan dengan kehidupan lain, usia manusia
tergolong panjang, jarang sekali ada hewan yang bisa berusia lebih panjang
daripada manusia.
Tetapi jika usia manusia dibandingkan dengan
umur bebatuan, maka yang digolongkan sebagai panjang umur ini, terlihat pendek
sekali. Setiap batu yang ada, tidak peduli di gunung atau di pinggir jalan, dan
tidak peduli batu itu sebesar bukit atau kecil seperti biji wijen, semuanya
berumur puluhan ribu tahun, bahkan ada yang miliaran tahun. Saya mempunyai
seorang teman yang menyimpan banyak sekali batu-batuan, ada batu giok, fosil,
beraneka ragam bentuknya. Suatu hari ia mengundang saya melihat batu
koleksinya.
Fosil merupakan bukti eksistensi hewan dan
tumbuhan pada ratusan juta tahun lampau, dari fosil para ilmuwan bisa
mengetahui bentuk sebenarnya dari suatu kehidupan pada zaman dahulu. Batu giok
merupakan catatan dari perpaduan antara beberapa bahan mineral geologi. Batu
intan, jamrud, akik dan batu lainnya, semua jenis batu memiliki warna serta
kilauannya tersendiri, begitu indah sehingga tidak mampu dinikmati sekaligus.
Bentuk batuan adalah ciptaan alam yang tidak
disengaja, benda tersebut merupakan benda seni yang tak ternilai harganya. Di
dalam Museum Gu Gong di Taipei, Taiwan, ada sebuah “batu berbentuk seperti
daging” entah sudah pernah mendapatkan pujian dari berapa orang. Setelah
dipelajari dan diteliti secara mendalam, kita bisa mengetahui bahwa bebatuan
juga memiliki isi yang berlimpah, keberadaan bebatuan memiliki makna
tersendiri, batu itu sendiri tidak mempunyai nilai hidup.
Karena isi dan nilai bebatuan itu sendiri
tergantung pada pemahaman dan penilaian dari orang lain. Batu itu sendiri tidak
mempunyai pemahaman apapun tentang dirinya, bahkan dia juga tidak mengetahui
keberadaannya, inilah fakta jiwa sebuah batu. Batu itu tidak berdarah, tidak
berair mata, tidak ada cinta atau benci, tidak ada perasaan apapun juga. Oleh
karena itu panjang atau pendek umur sebuah batu juga menjadi tidak bermakna.
Jika kehidupan seseorang sama seperti sebuah batu, tidak ada kegembiraan dalam
hidup, tidak ada jiwa yang bervitalitas, maka biar dapat hidup seberapa lama,
juga tidak akan berarti.
Dengan kata lain, keberadaan jiwa manusia
adalah demi melanjutkan kehidupan selanjutnya, karena itu jika hidup manusia
tanpa cinta kasih, perasaan, kecerdasan dan semangat untuk dikembang luaskan,
maka hidup manusia akan kehilangan maknanya. Meski jiwa dari bebatuan itu
sangat panjang, sepanjang usia langit, tetapi saya pribadi masih berharap hidup
ini harus seperti seorang “manusia”, jangan hidup seperti bebatuan.
Artikel tersebut saya tulis dari perasaan yang
timbul ketika sedang menikmati bebatuan.
No comments:
Post a Comment