Apr 30, 2013

JIWA BEBATUAN



Setiap orang tentu mengharapkan berumur panjang, jika bisa melampaui seratus tahun akan lebih baik. Tetapi saat ini manusia yang berumur seratus tahun sedikit sekali. Oleh karena itu orang yang berusia seratus tahun tergolong mujur, yakni manusia yang memiliki kemujuran dan keberuntungan. Jika dibandingkan dengan kehidupan lain, usia manusia tergolong panjang, jarang sekali ada hewan yang bisa berusia lebih panjang daripada manusia.

Tetapi jika usia manusia dibandingkan dengan umur bebatuan, maka yang digolongkan sebagai panjang umur ini, terlihat pendek sekali. Setiap batu yang ada, tidak peduli di gunung atau di pinggir jalan, dan tidak peduli batu itu sebesar bukit atau kecil seperti biji wijen, semuanya berumur puluhan ribu tahun, bahkan ada yang miliaran tahun. Saya mempunyai seorang teman yang menyimpan banyak sekali batu-batuan, ada batu giok, fosil, beraneka ragam bentuknya. Suatu hari ia mengundang saya melihat batu koleksinya.

Fosil merupakan bukti eksistensi hewan dan tumbuhan pada ratusan juta tahun lampau, dari fosil para ilmuwan bisa mengetahui bentuk sebenarnya dari suatu kehidupan pada zaman dahulu. Batu giok merupakan catatan dari perpaduan antara beberapa bahan mineral geologi. Batu intan, jamrud, akik dan batu lainnya, semua jenis batu memiliki warna serta kilauannya tersendiri, begitu indah sehingga tidak mampu dinikmati sekaligus.

Bentuk batuan adalah ciptaan alam yang tidak disengaja, benda tersebut merupakan benda seni yang tak ternilai harganya. Di dalam Museum Gu Gong di Taipei, Taiwan, ada sebuah “batu berbentuk seperti daging” entah sudah pernah mendapatkan pujian dari berapa orang. Setelah dipelajari dan diteliti secara mendalam, kita bisa mengetahui bahwa bebatuan juga memiliki isi yang berlimpah, keberadaan bebatuan memiliki makna tersendiri, batu itu sendiri tidak mempunyai nilai hidup.

Karena isi dan nilai bebatuan itu sendiri tergantung pada pemahaman dan penilaian dari orang lain. Batu itu sendiri tidak mempunyai pemahaman apapun tentang dirinya, bahkan dia juga tidak mengetahui keberadaannya, inilah fakta jiwa sebuah batu. Batu itu tidak berdarah, tidak berair mata, tidak ada cinta atau benci, tidak ada perasaan apapun juga. Oleh karena itu panjang atau pendek umur sebuah batu juga menjadi tidak bermakna. Jika kehidupan seseorang sama seperti sebuah batu, tidak ada kegembiraan dalam hidup, tidak ada jiwa yang bervitalitas, maka biar dapat hidup seberapa lama, juga tidak akan  berarti.

Dengan kata lain, keberadaan jiwa manusia adalah demi melanjutkan kehidupan selanjutnya, karena itu jika hidup manusia tanpa cinta kasih, perasaan, kecerdasan dan semangat untuk dikembang luaskan, maka hidup manusia akan kehilangan maknanya. Meski jiwa dari bebatuan itu sangat panjang, sepanjang usia langit, tetapi saya pribadi masih berharap hidup ini harus seperti seorang “manusia”, jangan hidup seperti bebatuan.

Artikel tersebut saya tulis dari perasaan yang timbul ketika sedang menikmati bebatuan.

No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search