Apr 7, 2013

PERJALANAN BATIN NAN ABADI



Lingkaran tahun pohon Natal itu telah menyadarkanku, yang saya cari selama ini bukanlah tempat peristirahatan yang sangat sulit digapai, kedamaian dan ketenangan di dalam hati, merupakan sebuah rumah bagi batin kita.

Sesampainya di penghujung tahun, acapkali kebanyakan orang senang mengingat kembali masa-masa lalu dan mengeluh dengan usia yang mengalir cepat seperti air.
Memang benar waktu itu berlalu dengan sangat cepat. Setelah melalui seperempat perjalanan hidup, di luar dugaan saya menemukan ada suatu kekuatan gaib yang dalam sekejab telah mengubah seorang bocah nakal dan usil menjadi remaja berpendidikan yang santun. Masa kanak-kanak adalah masa-masa yang sangat melekat dalam memori, sedangkan masa remaja juga merupakan masa yang sekejab akan berlalu.  

Waktu itu bila diulur dan ditarik seperti layang-layang, maka akan membuat waktu terkadang terasa cepat dan lamban. Tetapi kenyataannya, langkah nasib tetap berjalan maju dengan mantap, sedikit pun tidak pernah terlalu dini atau terlambat. Cepat atau lambat waktu yang kita rasakan acapkali muncul dari dalam hati sendiri.
Seorang pembalap akan merasa selamanya kecepatan adalah  tuntutan mutlak dalam sirkuit, sedangkan perayaan hari Valentin, bagi remaja yang jatuh cinta mengharapkan selamanya bunga mawar tidak akan layu dan waktu akan berdiam di sana.
Akan tetapi kehidupan nyata tidak seperti film serial TV, tidak bisa diulang untuk ditonton, juga tidak akan tidak ada suatu kesudahan. Pembalap setelah menyelesaikan putaran sirkuitnya harus melaju ke garis finish, para remaja setelah bergandengan tangan dan akhirnya menjadi suami istri, hasil akhir yang paling sempurna juga hanya dapat hidup berdampingan hingga akhir dari perjalanan hidup mereka.

Tetapi akhirnya orang menyadari dan menemukan bahwa akhir perjalanan hidup bukanlah kediaman abadi bagi manusia, kehidupan itu masih mengandung makna yang lebih dalam, karena itu orang-orang masih terus melanjutkan pencarian mereka kepada jalan yang menuju keabadian.
Untuk dapat menggenggam “benang emas waktu” agar bisa  menemukan pelabuhan yang dapat disinggahi untuk selamanya, saya membawa sikap hati selalu mencari dan berharap bisa menemukannya,  membawa angan-angan dan impian berangkat ke seberang sana. Ketika mengunjungi Gunung Fuji di Jepang dan menjelajahi Grand Canyon di  Amerika Serikat, memandang ke atas langit biru dan menengok ke padang rumput yang sangat luas, pada mulanya saya mengira sudah menemukan tambatan batin di seberang sana.

Namun menjelang perayaan Natal, pada malam yang bersalju setelah saya menemukan sebuah pohon natal kecil di sebuah desa terpencil di AS, saya baru mulai menyimak kembali arah batin saya ini.

Hari Natal merupakan perayaan yang selalu dinanti-nantikan seluruh penduduk AS, mereka berupaya menghiasi rumah mereka dengan lampu-lampu hias terbaik serta hadiah-hadiah Natal hingga suasana menjadi baru. Beraneka ragam pohon natal berdiri di pinggir jalan, dahan-dahan pohon dikelilingi lampu kecil yang berwarna-warni, membuat suasana jadi benderang.

Ketika tengah menikmati pemandangan ini dengan hati riang, tiba-tiba pandangan mata saya tertuju pada sebatang pohon natal yang patah.  Pohon itu telah menunjukkan pada saya wajah aslinya, memperlihatkan dengan jelas lingkaran tahun batang pohonnya. Zaman dahulu, orang yang mengetahui jelas lingkaran tahun sebuah pohon acapkali dia adalah seorang seniman pahat atau tukang kayu. Sedangkan zaman sekarang lingkaran tahun sudah menjadi bahan penelitian bagi ilmu sosiologi atau ilmu perlindungan lingkungan hidup. Melalui lingkaran tahun kita bisa mengetahui banyak peristiwa yang terjadi di masa yang telah lampau, bisa meramalkan perubahan cuaca, bahkan bisa menghitung apa yang bakal terjadi di kemudian hari.
Bentuk dan kualitas bagian dalam sebuah materi acapkali memperlihatkan dengan jelas keadaan keseluruhan materi tersebut. Keluar dari satu titik ke seluruh permukaan, dari sebagian lantas menyeluruh, misalnya dengan melihat kondisi daun suatu pohon orang sudah bisa mengetahui cuaca!

Melalui penelitian lingkaran tahun, kita tidak sulit mengetahui bahwa lingkaran tahun itu berawal dari titik yang paling tengah, kemudian berangsur-angsur menyebar menjadi besar. Dia terpendam di bagian paling dalam dari sebuah pohon, tidak ada pahatan yang megah dan mewah, yang ada hanyalah ketulusan dan kesederhanaan yang diam-diam menyimpan segala jejak usia, meski diterpa angin dan hujan, selamanya tidak pernah mengendur dan takluk, mengumpulkan sejarah, menimbun kekayaan budaya yang sangat berharga.
Saya merasa orang kuno bisa mengetahui lingkaran tahun suatu pohon merupakan anugerah, sedangkan lingkaran tahun bagi diri saya merupakan sebuah kejutan yang menggembirakan, karena menemukan perjalanan batin sendiri. Peristiwa kebetulan ini seperti petunjuk dari langit yang menyadarkan saya.

Karena selama ini di dalam pikiran terdalam, saya selalu mencari tempat kesudahan, selalu mencari benda riil yang berada di luar, benda yang bisa diraba atau tempat yang bisa dikunjungi. Saya mengira hanya dengan penglihatan diri sendiri, mengalaminya sendiri baru bisa secara dekat menikmati kegembiraan itu, baru bisa menemukan kunci emas menuju ke pintu keabadian. 

Tetapi saya salah, tersadarkan oleh lingkaran tahun pohon natal itu, yang saya cari selama ini bukanlah tempat peristirahatan yang sangat sulit digapai. Seharusnya kedamaian dan ketenangan dalam hati adalah sebuah rumah bagi batin kita.
Persis seperti pohon natal yang patah itu, pernak-pernik yang berada di luar pohon hanyalah hiasan sementara, kepadatan isi di dalam pohon adalah yang sebenarnya dan abadi. Sama seperti seekor burung yang patah  sayapnya, meski sayapnya terluka, asalkan mempunyai niat sekeras baja, suatu hari nanti pasti bisa terbang kembali dengan riang. Bukan terletak pada burung itu bisa terbang setinggi dan sejauh apa, melainkan terletak pada keteguhan dan kekokohan tekad burung itu untuk pulang!

Kalau begitu sama dengan manusia, kemegahan dan kemewahan pada permukaan luar tidak bisa menutupi kehampaan dalam batin. Tuntutan paksaan dari luar juga tidak akan bisa menghibur harapan sebenarnya di dalam hati! Satu-satunya hanya dengan kekayaan dan kebesaran yang berada di dalam hati baru bisa memantulkan cahaya kilau keemasan hati kita.

Melalui pemikiran sesaat, saya baru menemukan bahwa kehidupan itu bagaikan perahu kecil yang terombang-ambing oleh hujan dan angin, yang mengarungi samudera luas diantara langit dan bumi. Saat berlayar pasti akan menemui arus samudera yang berlawanan arah. Hal yang paling ditakuti adalah hati yang kurang teguh, sehingga sulit untuk bisa berlabuh ke seberang. Ketika menemui arus berlawanan, harus mempertahankan keteguhan dan keyakinan, menanggulangi kemalasan dan pantang mundur, dengan demikian akan menembus segala rintangan, berlayar maju menuju seberang.
Setelah memahami semua ini, mungkin ada sebuah hati kelana yang terombang-ambing bisa berpikir untuk mencari sebuah sudut yang tenang. Dari pada berjalan tak tentu arah tujuan dengan cita-cita hati setinggi langit, lebih baik memurnikan batin dan sanubari, hingga akhirnya bisa mencapai perjalanan batin nan abadi. 

No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search