Lingkaran tahun pohon Natal itu telah
menyadarkanku, yang saya cari selama ini bukanlah tempat peristirahatan yang
sangat sulit digapai, kedamaian dan ketenangan di dalam hati, merupakan sebuah
rumah bagi batin kita.
Sesampainya di penghujung tahun, acapkali
kebanyakan orang senang mengingat kembali masa-masa lalu dan mengeluh dengan
usia yang mengalir cepat seperti air.
Memang benar waktu itu berlalu dengan sangat cepat.
Setelah melalui seperempat perjalanan hidup, di luar dugaan saya menemukan ada
suatu kekuatan gaib yang dalam sekejab telah mengubah seorang bocah nakal dan
usil menjadi remaja berpendidikan yang santun. Masa kanak-kanak adalah
masa-masa yang sangat melekat dalam memori, sedangkan masa remaja juga
merupakan masa yang sekejab akan berlalu.
Waktu itu bila diulur dan ditarik seperti
layang-layang, maka akan membuat waktu terkadang terasa cepat dan lamban.
Tetapi kenyataannya, langkah nasib tetap berjalan maju dengan mantap, sedikit
pun tidak pernah terlalu dini atau terlambat. Cepat atau lambat waktu yang kita
rasakan acapkali muncul dari dalam hati sendiri.
Seorang pembalap akan merasa selamanya
kecepatan adalah tuntutan mutlak dalam
sirkuit, sedangkan perayaan hari Valentin, bagi remaja yang jatuh cinta
mengharapkan selamanya bunga mawar tidak akan layu dan waktu akan berdiam di
sana.
Akan tetapi kehidupan nyata tidak seperti film
serial TV, tidak bisa diulang untuk ditonton, juga tidak akan tidak ada suatu
kesudahan. Pembalap setelah menyelesaikan putaran sirkuitnya harus melaju ke
garis finish, para remaja setelah bergandengan tangan dan akhirnya menjadi
suami istri, hasil akhir yang paling sempurna juga hanya dapat hidup
berdampingan hingga akhir dari perjalanan hidup mereka.
Tetapi akhirnya orang menyadari dan menemukan
bahwa akhir perjalanan hidup bukanlah kediaman abadi bagi manusia, kehidupan
itu masih mengandung makna yang lebih dalam, karena itu orang-orang masih terus
melanjutkan pencarian mereka kepada jalan yang menuju keabadian.
Untuk dapat menggenggam “benang emas waktu”
agar bisa menemukan pelabuhan yang dapat
disinggahi untuk selamanya, saya membawa sikap hati selalu mencari dan berharap
bisa menemukannya, membawa angan-angan
dan impian berangkat ke seberang sana. Ketika mengunjungi Gunung Fuji di Jepang
dan menjelajahi Grand Canyon di Amerika
Serikat, memandang ke atas langit biru dan menengok ke padang rumput yang
sangat luas, pada mulanya saya mengira sudah menemukan tambatan batin di
seberang sana.
Namun menjelang perayaan Natal, pada malam
yang bersalju setelah saya menemukan sebuah pohon natal kecil di sebuah desa
terpencil di AS, saya baru mulai menyimak kembali arah batin saya ini.
Hari Natal merupakan perayaan yang selalu
dinanti-nantikan seluruh penduduk AS, mereka berupaya menghiasi rumah mereka
dengan lampu-lampu hias terbaik serta hadiah-hadiah Natal hingga suasana
menjadi baru. Beraneka ragam pohon natal berdiri di pinggir jalan, dahan-dahan
pohon dikelilingi lampu kecil yang berwarna-warni, membuat suasana jadi
benderang.
Ketika tengah menikmati pemandangan ini dengan
hati riang, tiba-tiba pandangan mata saya tertuju pada sebatang pohon natal
yang patah. Pohon itu telah menunjukkan
pada saya wajah aslinya, memperlihatkan dengan jelas lingkaran tahun batang
pohonnya. Zaman dahulu, orang yang mengetahui jelas lingkaran tahun sebuah
pohon acapkali dia adalah seorang seniman pahat atau tukang kayu. Sedangkan
zaman sekarang lingkaran tahun sudah menjadi bahan penelitian bagi ilmu
sosiologi atau ilmu perlindungan lingkungan hidup. Melalui lingkaran tahun kita
bisa mengetahui banyak peristiwa yang terjadi di masa yang telah lampau, bisa
meramalkan perubahan cuaca, bahkan bisa menghitung apa yang bakal terjadi di
kemudian hari.
Bentuk dan kualitas bagian dalam sebuah materi
acapkali memperlihatkan dengan jelas keadaan keseluruhan materi tersebut.
Keluar dari satu titik ke seluruh permukaan, dari sebagian lantas menyeluruh,
misalnya dengan melihat kondisi daun suatu pohon orang sudah bisa mengetahui
cuaca!
Melalui penelitian lingkaran tahun, kita tidak
sulit mengetahui bahwa lingkaran tahun itu berawal dari titik yang paling
tengah, kemudian berangsur-angsur menyebar menjadi besar. Dia terpendam di
bagian paling dalam dari sebuah pohon, tidak ada pahatan yang megah dan mewah,
yang ada hanyalah ketulusan dan kesederhanaan yang diam-diam menyimpan segala
jejak usia, meski diterpa angin dan hujan, selamanya tidak pernah mengendur dan
takluk, mengumpulkan sejarah, menimbun kekayaan budaya yang sangat berharga.
Saya merasa orang kuno bisa mengetahui
lingkaran tahun suatu pohon merupakan anugerah, sedangkan lingkaran tahun bagi
diri saya merupakan sebuah kejutan yang menggembirakan, karena menemukan
perjalanan batin sendiri. Peristiwa kebetulan ini seperti petunjuk dari langit
yang menyadarkan saya.
Karena selama ini di dalam pikiran terdalam,
saya selalu mencari tempat kesudahan, selalu mencari benda riil yang berada di
luar, benda yang bisa diraba atau tempat yang bisa dikunjungi. Saya mengira
hanya dengan penglihatan diri sendiri, mengalaminya sendiri baru bisa secara
dekat menikmati kegembiraan itu, baru bisa menemukan kunci emas menuju ke pintu
keabadian.
Tetapi saya salah, tersadarkan oleh lingkaran
tahun pohon natal itu, yang saya cari selama ini bukanlah tempat peristirahatan
yang sangat sulit digapai. Seharusnya kedamaian dan ketenangan dalam hati
adalah sebuah rumah bagi batin kita.
Persis seperti pohon natal yang patah itu,
pernak-pernik yang berada di luar pohon hanyalah hiasan sementara, kepadatan
isi di dalam pohon adalah yang sebenarnya dan abadi. Sama seperti seekor burung
yang patah sayapnya, meski sayapnya
terluka, asalkan mempunyai niat sekeras baja, suatu hari nanti pasti bisa
terbang kembali dengan riang. Bukan terletak pada burung itu bisa terbang
setinggi dan sejauh apa, melainkan terletak pada keteguhan dan kekokohan tekad
burung itu untuk pulang!
Kalau begitu sama dengan manusia, kemegahan
dan kemewahan pada permukaan luar tidak bisa menutupi kehampaan dalam batin.
Tuntutan paksaan dari luar juga tidak akan bisa menghibur harapan sebenarnya di
dalam hati! Satu-satunya hanya dengan kekayaan dan kebesaran yang berada di
dalam hati baru bisa memantulkan cahaya kilau keemasan hati kita.
Melalui pemikiran sesaat, saya baru menemukan
bahwa kehidupan itu bagaikan perahu kecil yang terombang-ambing oleh hujan dan
angin, yang mengarungi samudera luas diantara langit dan bumi. Saat berlayar
pasti akan menemui arus samudera yang berlawanan arah. Hal yang paling ditakuti
adalah hati yang kurang teguh, sehingga sulit untuk bisa berlabuh ke seberang.
Ketika menemui arus berlawanan, harus mempertahankan keteguhan dan keyakinan,
menanggulangi kemalasan dan pantang mundur, dengan demikian akan menembus
segala rintangan, berlayar maju menuju seberang.
Setelah memahami semua ini, mungkin ada sebuah
hati kelana yang terombang-ambing bisa berpikir untuk mencari sebuah sudut yang
tenang. Dari pada berjalan tak tentu arah tujuan dengan cita-cita hati setinggi
langit, lebih baik memurnikan batin dan sanubari, hingga akhirnya bisa mencapai
perjalanan batin nan abadi.
No comments:
Post a Comment