Apr 8, 2013

RILEKS



Seorang teman saya baru saja berhasil belajar berenang. Secara iseng saya menanyakan latihan yang dia peroleh. Menurutnya, “Ketika baru masuk ke air, saya merasa takut, sangat tegang. Setiap saya gerakkan anggota tubuh selalu akan tenggelam, air kolam sering terminum, tenggorokan seperti tercekik dan batuk-batuk. Kemudian saya dapat belajar untuk membuat tubuh rileks, air malah menopang diri saya mengapung. Saya menemukan bahwa satu-satunya cara untuk belajar berenang adalah belajar dulu membuat tubuh menjadi rileks.”

Bukankah kehidupan manusia juga demikian?

Akhir-akhir ini, ketika saya mengalami terpaan angin dan hujan dalam kehidupan, atau berjalan pada teriknya matahari, selalu merasakan seperti akan terbang, tubuh tiba-tiba menjadi ringan gemulai. Sesuatu dalam hidup yang perlu ataupun tidak, tampaknya sudah tidak begitu mutlak, seolah-olah sudah melewati filter rileks, telah disaring, telah diendapkan, dimurnikan, kotorannya telah disingkirkan, barulah kemudian saya temukan bahwa hakekat kehidupan adalah sedemikian indah.

Dalam hidup tidak lagi terdapat ampas, endapan lumpur, sudah menjadi tanpa beban ataupun kecemasan karena sangsi. Tidak perlu lagi merasa was-was, mencemaskan untung rugi pribadi, hari-hari berubah menjadi bebas dan sangat nyaman. Datang dengan leluasa, pergi juga dengan sesuka hati, sungguh wajar dan bebas lepas.

Pernah ada suatu masa, saya merasa sangat putus asa terhadap hidup, muak terhadap sifat kejam dan licik manusia. Selalu merasa bahwa yang dunia luas tak terbatas ini, bila terus merosot tak mau berhenti, maka cepat atau lambat akan menjadi “surga yang hilang”. Bukan saja akan mengalami kerusakan parah, bahkan sudah tidak akan ada yang baik, tak cocok lagi untuk dihuni oleh orang yang masih memiliki sedikit rasa kemanusiaan. Usaha keras para filsuf seperti menyalakan lilin, para agamawan memegang senter, para pejuang hak asasi manusia mengacungkan obor tinggi-tinggi, bagaikan buih di samudera luas, membuat orang patah semangat dan kecewa.

Saat mengamati dunia ini dengan hati penuh rasa was-was, bersamaan menimbang hati nurani, ternyata kebaikan juga menjadikan orang jadi tidak tenang. Hati yang memiliki darah dan air mata, yang memiliki kasih sayang dan watak seperti ini bagaimana dapat beradaptasi dengan masyarakat kehidupan modern yang tidak stabil dan penuh kecurangan serta saling mengintrik itu?

Saya bukan menganggap diri saya baik dan sempurna, juga tidak berpandangan bahwa dunia harus bagus tuntas tanpa kelemahan, baru cocok untuk ditinggali. Untuk bekerja dengan sangat rapi dan ideal, sekalipun telah direncanakan sepanjang hidup juga tidak akan mampu saya capai, karena saya sangat jelas tentang diri sendiri, sekalipun tidak melakukan kejahatan besar namun masih terdapat sedikit ketidak-baikan, dan secercah jiwa memberontak, tidak begitu dapat menoleransi peraturan-peraturan yang sangat mengikat, sehingga tidak dapat menjamin adanya pelanggaran-pelanggaran kecil dalam berperilaku.

Saya juga mengetahui bahwa di antara langit dan bumi terdapat banyak sekali kebaikan dan kejahatan besar ataupun kecil. Di balik kebaikan besar tersembunyi kejahatan raksasa, di samping kemolekan luar biasa bersanding keburukan ekstrim, mereka sangat mirip dan sulit dipisahkan. Siapa yang dapat menarik garis pemisah antar mereka?

Sekalipun ketika kita memilih kata-kata dan membuat ungkapan, dapat membedakan mereka dengan pasti, tanpa memberikan celah untuk tawar menawar, benar adalah benar, salah adalah salah, kebalikan ya adalah tidak, kebalikan kebaikan adalah kejahatan, seolah-olah begitu mudah dilewatinya dengan pemisah yang jelas. Namun siapakah yang dapat melewati dengan aman dan mantap lingkaran-lingkaran benar dan salah tanpa sedikit penyimpangan? Bahkan tanpa sedikit noda padanya?

Orang lain mungkin memiliki perilaku hasil kultivasi seperti itu, tentu saja saya tidak demikian, karena saya sudah menganalisa diri saya sendiri. Selain tubuh saya yang terlahir dan akan menjadi tua, dapat berpenyakit, bisa mati serta penuh kelemahan, selain keserakahan panca indra, emosi, lamunan egois tentang keunggulan dan kekurangan diri, saya masih memiliki sedikit pemikiran yang tidak sesuai zaman, terdapat sedikit kepolosan, dan sedikit tabiat suka bermain dengan nasib. Saya suka berjalan mengikuti apa yang akan terjadi secara alami, setelah sampai pada penghujung jalan, membiarkan orang yang menutup peti jenazah memberi penilaian terhadap diri saya, dan membiarkan para tamu yang iseng menjadikan saya sebagai bahan gosip.

Orang yang tidak bahagia, sebab utamanya mungkin adalah karena terlalu rapi, terlalu memaksakan diri, terlalu gigih mempertahankan prinsip. Berjalan akan memilih jalan besar, dengan demikian akan kehilangan jalan hutan sunyi kecil yang menyenangkan. Menanam murbei adalah untuk beternak ulat sutra, menanam labu akan mendapatkan labu, bukan untuk mendapatkan kacang-kacangan, memetik buah murbei juga bertentangan dengan tujuannya, namun hal mana merupakan prinsip kecil yang tidak perlu dihiraukan.

Jika dijalani dengan demikian cermatnya, hidup ini akan sangat menyulitkan dan juga akan kurang berwarna. Lebih baik sedikit dilonggarkan, setelah seharian menabur benih di ladang, biarkan saja, biarkan tumbuh bila akan tumbuh, kalau tidak tumbuh ya sudah; tidak diharapkan berbunga, tidak dinantikan buahnya, semua berjalan sesuai dengan peredaran musim, dikandung dan dibesarkan oleh langit dan bumi, alhasil semuanya ada.

Tidak memaksa untuk memperoleh, hati akan menjadi subur sendiri, melepaskan semua emosi, menyesuaikan diri dengan segala kondisi. Dimulai dari belajar rileks.


No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search