Seorang teman menceritakan sebuah lelucon: Ada
seorang anak perempuan yang sejak kecil mendapat pendidikan di sekolah elit.
Suatu hari dia datang ke sebuah kelas di sebuah sekolah negeri. Dia berkata
dengan kagum, “Di sekolah kalian ini enak sekali! Ada kipas anginnya, tidak
seperti ruangan kelas kami hanya ber-AC, membuat saya jadi kedinginan!”
Ucapan polos anak kecil memang bisa membuat
orang tersenyum, tetapi selain itu mengandung cukup banyak keluh kesah. Dalam
kepolosan ucapan seorang anak sama sekali tidak ada yang ditutupi, apa yang
dikatakan mereka itu adalah kenyataan, tetapi juga telah menunjukkan masalah
dalam pendidikan.
Sejak dilahirkan, orangtua akan berusaha
segenap tenaga untuk memberikan yang terbaik kepada anak mereka, ingin kelak
menjadi orang berguna. Agar tidak kalah dengan anak lain di tempat start
berlari, kebanyakan orang tua berusaha sekuat tenaga mencari uang, membangun
sebuah surga dunia bagi anak mereka. Karena itu, anak-anak polos yang berada
dalam naungan dan perlindungan orang tua, akan menjadikan banyak hal sebagai
suatu kewajaran.
Terhadap materi yang berlimpah dan mudah
didapat, ia tidak akan tahu bagaimana menyayanginya. Bila langit runtuh, ada
orang tua yang menahan, bila membuat masalah, masih ada orang tua yang
diandalkan. Dalam kegemerlapan dunia yang dibangun dengan cermat, hanya ada
warna-warni kegemilangan, tidak ada gelombang badai yang mengejutkan juga tidak
ada tantangan cobaan dan kesulitan. Ketika mereka terjun ke dalam masyarakat,
maka tragedi menyedihkan akan mulai menimpa sekali dan sekali lagi. Karena
kelalaian dan sikap acuh, orang tua juga akan mengalami penyesalan yang sama
berulang kali.
Cara mendidik anak yang menyimpang, membuat
anak tersebut setelah tumbuh dewasa seperti sebuah pohon yang tumbuh miring,
setiap saat bisa tumbang dan ditimpa
malapetaka atau mati muda. Ketika kita hanya memberikan anak dengan uang
dan materi dalam jangka waktu panjang, dan tidak rela menghabiskan waktu untuk
menemani anak, mendengarkan suara hati anak, perhatian terhadap perasaan anak,
hingga pada suatu hari ketika kita sudah berusia lanjut, anak-anak kita juga
sama seperti kita dulu dengan uang saja memasok kita, tidak ada waktu menemani
dan mendengarkan suara hati kita, perhatian terhadap perasaan kita. Jika saat
itu baru mengeluhkan mengapa kehidupan ini tidak bisa diulang sekali lagi,
bukankah sudah terlambat!
Menarik pelajaran dari kesalahan terdahulu,
biarkanlah kita mengambil keputusan tegas sekali lagi atas diri sendiri dan
anak-anak kita. Sebenarnya kita harus menyayangi jodoh pertemuan kita bersama
anak-anak yang sulit kita dapatkan, karena memiliki anak, baru ada pendidikan
antara ayah dan anak. Pendidikan sekali lagi telah memberikan kepada kita
kesempatan berharga untuk berkembang, karena itu boleh dikatakan bahwa anak
adalah guru bagi kita. Seiring pertumbuhan anak, kita juga terus-menerus
belajar dari pengalaman hidup yang baru dan kecerdasan jiwa.
Anak yang polos dan naïf tidak akan mendendam,
anak yang polos meletakkan posisi hati pada titik nol, mengosongkan diri
sendiri dan belajar dengan serius. Setelah dipikir dengan saksama, kita akan
menemukan, sei-ring dengan berlalunya waktu tidak terasa kita sudah
berangsur-angsur memikul banyak sekali prasangka, telah memupuk terlalu banyak
kesenangan dan ketidak senangan serta rasa nyaman. Semua keterikatan hati yang
tidak bisa dilepaskan telah membelenggu pikiran dan tindakan kita.
Mulai hari ini biarkanlah kita semua setiap
hari menyambut kehidupan yang baru ini dengan perasaan hati yang baru pula —
laksana seorang bayi yang menerima berkah kehidupan dari alam ini, kita akan
merasa terkejut bahwa dalam berbagai musim penuh dengan pemandangan indah yang
membuat orang melompat kegirangan.
Bila melihat perasaan manusia dengan sebuah
hati anak kecil, kita akan menemukan dalam watak hakiki manusia, sebenarnya
kebaikan dan kemurnian selalu menyertai kita. Bagaikan selembar kertas putih
yang diwarnai dengan kebenaran dan kesetiaan, kita akan menemukan warna yang
sangat indah yang dulu tak pernah tampak oleh kita. Biarkanlah sejak awal kita
hanya membawa sebuah ketulusan hati, setiap hari memulai kehidupan baru!
Belajar dan belajar lagi!
No comments:
Post a Comment