Apr 11, 2013

SIKAP BERKENDARA SEPEDA



Penjual air sepeda di Beijing bersantai sejenak saat menyeberang untuk menyalakan rokok. Akhir minggu di London sangat cerah dan nyaman, jalan-jalan dengan mengendarai sepeda melewati satu persatu mobil di jalanan yang sedang macet, sungguh santai dan mengasyikkan, puas, bahkan ada semacam sedikit perasaan yang membuat saya melayang melebihi orang – orang di sekitar.

Tidak ingat lagi perasaan dulu ketika bersepeda di Beijing. Pada saat itu masyarakat  yang bersepeda mencapai puluhan juta banyaknya. Tak peduli apakah cuaca cerah ataupun cuaca hujan, sepeda adalah alat transportasi satu – satunya bagi semua orang yang tidak punya pilihan lain.  Meskipun saya merasa baik, juga tidak dapat membangkitkan rasa bangga yang saya akui tidak sepantasnya ini.

Namun di London alat transportasi utama selama sekian tahun ini adalah mobil, kereta bawah tanah (subway), atau taksi. Meskipun pengendara sepeda bertambah cukup mencolok beberapa tahun terakhir ini, namun di sepanjang perjalanan menuju kantor paling-paling saya hanya menjumpai puluhan sepeda saja.

Emosi memuncak
Dari rumah ke stasiun radio hanya berjarak 5 mil (8 km), tidak peduli kapan pun, setengah jam bersepeda santai saja sudah sampai. Sementara mobil pasti akan lebih cepat, namun begitu jalanan macet, maka tidak bisa diprediksi lagi. Jika saya naik taksi kadang kala 1,5 jam baru tiba. Terjebak di tengah kemacetan panjang tidak berkutik, sulit untuk menghindari emosi yang memuncak. Satu setengah tahun pertama sebelum menyingkirkan mobil, saya sadar betul akan hal ini.

Di saat seperti ini jika ada orang yang melihat Anda bersepeda dengan santai, bebas tanpa hambatan, rasa tidak adil di dalam hati pada orang tersebut sangat mudah untuk dipahami. Mobilnya lebih besar dari sepeda Anda, menghabiskan uang lebih banyak daripada Anda, seharusnya ia mendapatkan keuntungan dari semua pengorbanan itu, namun sekarang semua keuntungan itu sirna sudah, maka dia akan cari gara-gara dengan Anda.
Buka jendela dan mengumpat
Hampir setiap hari saya selalu bertemu dengan orang yang membuka jendela mobilnya dan mengumpat, atau membunyikan klaksonnya. Bahkan jika ada kesempatan, ada yang mempercepat laju mobilnya dan menyerempet saya. Namun asalkan dia tidak terlalu jahat, terlalu kasar, terlalu berbahaya, saya masih dapat memperlakukan mereka yang patut dikasihani ini dengan lambaian tangan dan senyum melupakan masalah itu.

Pada akhirnya saya juga kadang kala mengemudikan mobil, sudah sepantasnya saya memahami perasaan orang kala itu. Lagi pula menurut suatu survei yang pernah saya lihat beberapa waktu lalu, sebanyak 66% pengemudi mobil setuju untuk mendukung orang bersepeda, meskipun para pengendara sepeda dapat membuat para pengemudi mobil agak terganggu.

Kekuatan menahan diri saat bersama
Pada saat mengendarai sepeda saya sudah memperhatikan, saat di jalanan ada sesama pengendara sepeda, umumnya pengendara akan mentaati peraturan, saling mengalah. Ketika lampu merah, juga akan menunggu dengan sabar, meskipun dari arah lain yang sedang lampu hijau tidak ada kendaraan, tetap akan berhenti menunggu.

Akan tetapi ketika hanya ada 1 atau 2 pengendara sepeda, maka akan sembarangan, dan bertindak sesuai keadaan. Kekuatan untuk menahan diri pada saat bersama-sama seperti ini sangat unik.

Di antara sesama ada semacam kesepakatan, sehingga merasa berkewajiban untuk berkelakuan tertib. Adalah mudah menerima cercaan dari pengemudi mobil, namun akan lebih sulit menerimanya jika sesama pengendara sepeda yang memandang dingin atau bahkan melontarkan sepatah kata himbauan yang tidak terlalu enak didengar.

Pengendara sepeda di London umumnya mempunyai prinsipnya masing-masing. Sebagian besar di antaranya akan berhenti jika lampu merah, namun ada juga sebagian yang tidak peduli apa pun, tidak peduli di persimpangan ada kendaraan yang lewat atau tidak, tetap saja ia akan menerjang terus.

Saya lebih berpihak pada yang berprinsip menengah. Sepengamatan saya jumlah mereka sekitar 20 – 30% dari keseluruhan pengendara sepeda. Di persimpangan yang ramai mereka akan berhenti, namun jika tidak ada bahaya, maka mereka akan menerobosnya.

Sekarang banyak persimpangan yang secara bersamaan lampu merah di keempat arahnya, agar para pejalan kaki aman saat menyeberang. Namun jika tidak ada pejalan kaki, lalu untuk apa menunggu sia-sia?

Strategi yang saya gunakan untuk situasi seperti ini adalah turun dari sepeda lalu menuntunnya sambil menyeberang, dengan demikian membuat saya lebih merasa tidak bersalah, sekaligus juga dapat menghemat waktu, namun saya jarang melihat orang lain mengikuti tindakan saya.

Pengakuan identitas
Saya meragukan hal ini adalah ulah dari semacam ‘politik identitas’. Begitu identitas kita ditetapkan sebagai seorang pengendara sepeda, dan bukannya pejalan kaki atau pengemudi mobil, maka tidak akan mudah lagi untuk mengubahnya.

Sebagian orang sepertinya telah terlanjur beranggapan bahwa jika mengendarai sepeda, maka aturan dalam mengendarai sepeda itu harus dipertahankan mati-matian. Namun untuk apa?


Kadang mengendarai sepeda, kadang berjalan kaki, kadang kala juga mengemudikan mobil, menggunakan kendaraan bermotor, itulah pola penggunaan alat transportasi masyarakat pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari, sementara keunggulan dari sepeda hanyalah ‘praktis untuk naik dan turun’.

Saya menyadari bahwa banyak sekali pengemudi mobil di London pasti lebih senang berbagi pengakuan identitas yang agak rumit ini, karena saya sering sekali menjumpai pengemudi mobil yang dengan sopan, yang mau mengalah agar saya lebih dulu lewat ketika saya bersepeda. Saya pikir jika mereka turun dari tempat duduknya di mobil, di truk atau bahkan di bus besar, mereka kadang kala juga senang mengendarai sepeda.

Menurut penuturan, di London kini terdapat 40% orang yang memiliki sepeda untuk sewaktu-waktu dinaiki, dan menurut perkiraan dinas lalu lintas, kini orang yang keluar rumah bepergian setiap hari menggunakan sepeda telah mencapai 480,000 orang.  

No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search