Penjual
air sepeda di Beijing
bersantai sejenak saat menyeberang untuk menyalakan rokok. Akhir minggu di London sangat cerah dan
nyaman, jalan-jalan dengan mengendarai sepeda melewati satu persatu mobil di
jalanan yang sedang macet, sungguh santai dan mengasyikkan, puas, bahkan ada
semacam sedikit perasaan yang membuat saya melayang melebihi orang – orang di
sekitar.
Tidak
ingat lagi perasaan dulu ketika bersepeda di Beijing. Pada saat itu masyarakat yang bersepeda mencapai puluhan juta
banyaknya. Tak peduli apakah cuaca cerah ataupun cuaca hujan, sepeda adalah
alat transportasi satu – satunya bagi semua orang yang tidak punya pilihan
lain. Meskipun saya merasa baik, juga
tidak dapat membangkitkan rasa bangga yang saya akui tidak sepantasnya ini.
Namun
di London alat transportasi utama selama sekian tahun ini adalah mobil, kereta
bawah tanah (subway), atau taksi. Meskipun pengendara sepeda bertambah cukup
mencolok beberapa tahun terakhir ini, namun di sepanjang perjalanan menuju
kantor paling-paling saya hanya menjumpai puluhan sepeda saja.
Emosi
memuncak
Dari
rumah ke stasiun radio hanya berjarak 5 mil (8 km), tidak peduli kapan pun,
setengah jam bersepeda santai saja sudah sampai. Sementara mobil pasti akan
lebih cepat, namun begitu jalanan macet, maka tidak bisa diprediksi lagi. Jika
saya naik taksi kadang kala 1,5 jam baru tiba. Terjebak di tengah kemacetan
panjang tidak berkutik, sulit untuk menghindari emosi yang memuncak. Satu
setengah tahun pertama sebelum menyingkirkan mobil, saya sadar betul akan hal
ini.
Di
saat seperti ini jika ada orang yang melihat Anda bersepeda dengan santai,
bebas tanpa hambatan, rasa tidak adil di dalam hati pada orang tersebut sangat
mudah untuk dipahami. Mobilnya lebih besar dari sepeda Anda, menghabiskan uang
lebih banyak daripada Anda, seharusnya ia mendapatkan keuntungan dari semua
pengorbanan itu, namun sekarang semua keuntungan itu sirna sudah, maka dia akan
cari gara-gara dengan Anda.
Buka
jendela dan mengumpat
Hampir
setiap hari saya selalu bertemu dengan orang yang membuka jendela mobilnya dan
mengumpat, atau membunyikan klaksonnya. Bahkan jika ada kesempatan, ada yang
mempercepat laju mobilnya dan menyerempet saya. Namun asalkan dia tidak terlalu
jahat, terlalu kasar, terlalu berbahaya, saya masih dapat memperlakukan mereka
yang patut dikasihani ini dengan lambaian tangan dan senyum melupakan masalah
itu.
Pada
akhirnya saya juga kadang kala mengemudikan mobil, sudah sepantasnya saya
memahami perasaan orang kala itu. Lagi pula menurut suatu survei yang pernah
saya lihat beberapa waktu lalu, sebanyak 66% pengemudi mobil setuju untuk
mendukung orang bersepeda, meskipun para pengendara sepeda dapat membuat para
pengemudi mobil agak terganggu.
Kekuatan
menahan diri saat bersama
Pada
saat mengendarai sepeda saya sudah memperhatikan, saat di jalanan ada sesama
pengendara sepeda, umumnya pengendara akan mentaati peraturan, saling mengalah.
Ketika lampu merah, juga akan menunggu dengan sabar, meskipun dari arah lain
yang sedang lampu hijau tidak ada kendaraan, tetap akan berhenti menunggu.
Akan
tetapi ketika hanya ada 1 atau 2 pengendara sepeda, maka akan sembarangan, dan
bertindak sesuai keadaan. Kekuatan untuk menahan diri pada saat bersama-sama
seperti ini sangat unik.
Di
antara sesama ada semacam kesepakatan, sehingga merasa berkewajiban untuk
berkelakuan tertib. Adalah mudah menerima cercaan dari pengemudi mobil, namun
akan lebih sulit menerimanya jika sesama pengendara sepeda yang memandang
dingin atau bahkan melontarkan sepatah kata himbauan yang tidak terlalu enak
didengar.
Pengendara
sepeda di London
umumnya mempunyai prinsipnya masing-masing. Sebagian besar di antaranya akan
berhenti jika lampu merah, namun ada juga sebagian yang tidak peduli apa pun,
tidak peduli di persimpangan ada kendaraan yang lewat atau tidak, tetap saja ia
akan menerjang terus.
Saya
lebih berpihak pada yang berprinsip menengah. Sepengamatan saya jumlah mereka
sekitar 20 – 30% dari keseluruhan pengendara sepeda. Di persimpangan yang ramai
mereka akan berhenti, namun jika tidak ada bahaya, maka mereka akan
menerobosnya.
Sekarang
banyak persimpangan yang secara bersamaan lampu merah di keempat arahnya, agar
para pejalan kaki aman saat menyeberang. Namun jika tidak ada pejalan kaki,
lalu untuk apa menunggu sia-sia?
Strategi
yang saya gunakan untuk situasi seperti ini adalah turun dari sepeda lalu menuntunnya
sambil menyeberang, dengan demikian membuat saya lebih merasa tidak bersalah,
sekaligus juga dapat menghemat waktu, namun saya jarang melihat orang lain
mengikuti tindakan saya.
Pengakuan
identitas
Saya
meragukan hal ini adalah ulah dari semacam ‘politik identitas’. Begitu
identitas kita ditetapkan sebagai seorang pengendara sepeda, dan bukannya
pejalan kaki atau pengemudi mobil, maka tidak akan mudah lagi untuk
mengubahnya.
Sebagian
orang sepertinya telah terlanjur beranggapan bahwa jika mengendarai sepeda,
maka aturan dalam mengendarai sepeda itu harus dipertahankan mati-matian. Namun
untuk apa?
Kadang
mengendarai sepeda, kadang berjalan kaki, kadang kala juga mengemudikan mobil,
menggunakan kendaraan bermotor, itulah pola penggunaan alat transportasi
masyarakat pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari, sementara keunggulan dari
sepeda hanyalah ‘praktis untuk naik dan turun’.
Saya
menyadari bahwa banyak sekali pengemudi mobil di London pasti lebih senang
berbagi pengakuan identitas yang agak rumit ini, karena saya sering sekali
menjumpai pengemudi mobil yang dengan sopan, yang mau mengalah agar saya lebih
dulu lewat ketika saya bersepeda. Saya pikir jika mereka turun dari tempat
duduknya di mobil, di truk atau bahkan di bus besar, mereka kadang kala juga
senang mengendarai sepeda.
Menurut
penuturan, di London kini terdapat 40% orang yang memiliki sepeda untuk
sewaktu-waktu dinaiki, dan menurut perkiraan dinas lalu lintas, kini orang yang
keluar rumah bepergian setiap hari menggunakan sepeda telah mencapai 480,000
orang.
No comments:
Post a Comment