Orang
baik dalam dunia ini jika menemui masalah sering membicarakan taraf pemahaman
dan kemampuan mengendalikan diri, sedang bagi seorang kultivator yang
didiskusikan adalah bagaimana berkultivasi xinxing (moral).
Sesungguhnya,
taraf kemurahan hati dari seseorang berhubungan sangat erat dengan xinxing atau
taraf pemahaman dari seseorang. Manusia yang memiliki kemurahan hati, dengan
sendirinya menjadi tinggi watak dan moralnya.
Jika
bisa melaksanakan "Dipukul tidak membalas, dicaci tidak membalas",
maka taraf alam pikiran yang sudah dicapai oleh orang tersebut sudah sangat
tinggi, manusia hanya dengan jalan berkultivasi baru dapat mencapai taraf
pikiran yang mulia.
Zaman
dahulu, ada seorang anak muda yang bertabiat berangasan, dia pergi ke kuil Da
De, Tiongkok, mencari biksu Yi Xiu untuk menanyakan pendapat cara berkultivasi.
Begitu
kakinya menginjak masuk ke dalam pintu, dia langsung bergegas berkata kepada
biksu Yi Xiu, "Guru, saya sudah bertekad bulat, mulai hari ini saya tidak
akan bertengkar atau berkelahi dengan siapapun juga, walau ada orang yang
meludahi diri saya, saya akan menghapusnya dengan diam-diam, mutlak tidak akan
bertengkar dengan orang itu."
Setelah
mendengar perkataan itu dengan tertawa biksu Yi Xiu menjawab, "Bagus
sekali, akan tetapi ketika orang itu meludahi dirimu, Anda juga boleh tidak
menghapusnya, biarkanlah ludah itu mengering secara alami di wajah Anda."
Mendengar
perkataan ini dalam hati anak muda tersebut sulit menerima, lalu dia berkata,
"Hal tersebut agaknya terlalu mempersulit orang! Membiarkan ludah
penghinaan itu mengering dengan sendirinya di wajah kita, saya tidak memiliki
kelapangan dada sedemikian besar!"
Setelah
mendengar perkataan itu biksu Yi Xiu mengeleng-gelengkan kepala dan berkata,
"Hal tersebut sedikitpun tidak sulit! Jika Anda sama sekali tidak
berselisih dengan orang lain, dan orang tersebut masih tetap meludahi Anda,
maka orang semacam ini pada dasarnya bagaikan seekor lalat. Anda lihatlah,
lalat, salah satu jenis serangga ini sejak dulu hingga sekarang tidak tahu
aturan, bertindak sewenang-wenang tanpa menghiraukan apapun, walaupun bagaimana
Anda mencacinya juga tidak akan ada gunanya! Maka dari itu diludahi oleh
manusia lalat semacam ini, sedikitpun tidak akan menjadikan suatu penghinaan,
maka perlukah Anda marah demi orang yang tak berguna semacam in?"
Setelah
mendengarkan perkataan ini anak muda tersebut melanjutkan bertanya kepada biksu
Yi Xiu, "Lalu bagaimana jika ada orang mengayunkan kepalan tangan memukul
saya?"
Biksu
itu menjawab, "Dengan sikap yang sama menghadapi hal tersebut!"
Tak
disangka biksu Yi Xiu baru menyelesaikan ucapannya, satu pukulan telah
dilayangkan oleh si pemuda tersebut. Dengan keras dipukulkan ke atas kepala
plontos biksu Yi Xiu.
Dengan
perasaan tidak setuju, anak muda ini memelototi biksu Yi Xiu, lalu bertanya,
"Bagaimana? saya memukul Anda demikian, apakah Anda tidak marah?"
Seperti
tidak terjadi apa-apa biksu Yi Xiu tertawa dan berkata, "Ha! Kepala saya
ini keras bagaikan batu, Anda menggunakan tenaga yang begitu besar untuk
memukul, saya khawatir tanganmu terluka! Sakitkah tanganmu?"
Anak
muda ini melihat bahwa biksu guru tersebut sama sekali tidak mengekspresikan
kemarahan, sikapnya sangat tenang dan anggun, sedikitpun tidak dibuat-buat.
Menghadapi kemurahan hati seorang kultivator, saat itu anak muda ini menjadi
canggung hingga tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Saat
itu anak muda ini baru mengerti, kelapangan dada dari biksu Yi Xiu beserta
taraf pikiran dari seorang kultivator, yang sama sekali tidak sanggup dikejar
oleh dirinya karena terlampau jauh tertinggal.
Kultivator
yang benar-benar berkultivasi akan melepaskan semua nama dan kepentingan
duniawi dan melihat permasalahan di tingkat yang tinggi.
Manusia
umumnya tidak dapat memahami pikiran dan tindakan seorang kultivator. Hal itu
disebabkan karena taraf pikirannya terpaut terlalu jauh, hanya dengan berjalan
di atas jalan kultivasi barulah seseorang bisa menyadari akan prinsip tingkat
tinggi, dan benar-benar meningkatkan taraf pikirannya sendiri.
No comments:
Post a Comment