Menemukan seberkas cahaya sinar mentari untuk
menghapus kutukan iblis. Keyakinan dan keberanian, serta bisa memperteguh
keyakinan diri terhadap kebaikan dan kemurnian diri yang paling asal, watak
hakiki diri kita baru bisa tidak tertutupi oleh benda-benda rendahan yang
berada dalam dunia ini.
Dahulu hidup seorang putri kecil yang sangat
cantik. Dia tumbuh dewasa dalam sebuah kastil yang indah. Saat menginjak usia
15 tahun, pada suatu malam, ketika sedang tidur nyenyak, mendadak muncul jin
berwajah jelek seperti seekor tikus besar, sekujur tubuhnya berbau busuk,
diam-diam merangkak ke tempat tidur bermaksud ingin menggoda sang puteri.
Selanjutnya datang lagi satu, dua, tiga jin...
banyak sekali jin yang mengelilinginya, mereka tertawa cekikikan. Sang putri
terbangun dari tidur, membuka mata melihat jin yang begitu banyak, dia segera
ketakutan sekali hingga tak bisa mengeluarkan suara.
Jin-jin itu menarik-narik baju sang putri
sambil berbicara bergantian, “Anda manusia yang tidak tahu budi! Apakah lupa
bahwa Anda asalnya juga jin, salah satu dari kami? Ketika sang putri sebenarnya
masih kecil, kita bunuh dan makan dagingnya. Anda memakan sumsum putri itu
sehingga bisa berubah menjadi manusia. Meski wajah Anda mirip manusia, tetapi
darah yang mengalir dalam tubuh itu adalah darah jin, dalam lubuk hati Anda
masih adalah jin!
Beberapa jin mendorong cermin hias kehadapan
putri, dan berkata, “Jika Anda tidak percaya silahkan melihatnya!” Dari cermin
itu, sang putri melihat hidungnya bulat seperti jin. Matanya juga agak kecil
seperti jin, semakin dilihat semakin merasakan wajahnya mirip jin. Sang putri
mulai curiga pada diri sendiri, apakah benar seperti yang mereka katakan.
Jin-jin itu berkata sambil berteriak, “Putri
adalah jin.” Mereka tertawa jail karena berhasil mengelabui sang putri. Sebelum
sang putri terbangun, kaca cermin itu sudah diberi sihir oleh jin-jin itu,
sehingga ketika sang putri melihat dirinya dalam cermin semakin lama terlihat
persis dengan jin, dan bukan seperti dirinya diluar cermin yang masih tetap
cantik.
Sejak malam itu, sang putri berubah menjadi
pemurung, mengurung diri sepanjang hari di kamar, sering kali menangis seorang
diri, mengkhawatirkan parasnya yang buruk pasti akan ditertawai orang. Jin-jin
itu setiap malam mendatangi kamar sang
putri, terus-menerus mengusik dan menyiksa batinnya. Jin-jin itu juga membuat
kamar sang putri jadi kotor dan berbau, kacau sekali.
Akhirnya sang putri tak tahan lagi, dia
bertanya kepada ibunya, “Ibunda ratu, apakah paras saya jelek sekali?”
Ibunda ratu menjawab, “Mana mungkin?! Kamu
putriku yang paling cantik dan elok diseluruh dunia!”
Dalam hati sang putri berpikir, “Pasti Ibunda
ratu sangat menyayangi diriku, sehingga berkata demikian untuk menghiburku.”
Putri melewatkan keseharian dengan muram, hal tersebut diketahui dan sangat
dikhawatirkan Ibunda ratu.
Beberapa hari lagi hari ulang tahun sang putri
yang ke-16, Ibunda ratu memutuskan mengadakan pesta ulang tahun untuk putrinya,
berharap suasana keramaian pesta bisa
membuat sang putri menjadi gembira. Sudah tentu sang putri bersikeras tidak
setuju, karena khawatir orang lain akan menertawai paras jeleknya. Tetapi
karena Ibunda ratu tetap mempertahankan, pesta ulang tahun tetap
diselenggarakan.
Sang putri mengurai rambut panjangnya untuk
menutupi wajah, melalui rambut poninya dia mengintai kumpulan orang yang hadir
dalam pesta ulang tahunnya itu.
Banyak sekali pemuda tampan dan berprestasi
mereka meminta putri untuk berdansa dengan mereka, tetapi mereka semuanya
ditolak sang putri. Putri merasakan bahwa mereka hanya ingin menyindir
kejelekan wajahnya saja, semakin banyak orang yang memintanya untuk berdansa
dia semakin merasa terhina, dan semakin menjadi berang.
Kemudian ada seorang pria yang berwajah
garang, tutur kata dan perilakunya sangat tidak sopan, dia maju dan berbincang
dengan sang putri. Meski dalam hati putri merasa sangat benci, tetapi dia juga
bersyukur bahwa setelah kedatangan pria tersebut tidak ada lagi orang lain yang
mendekat. Kemudian pria bejat ini menggandeng tangan sang putri dengan kurang
sopan, sedangkan sang putri juga berpura-pura tidak menghiraukannya. Bahkan
akhirnya putri menyetujui permintaan pria tersebut untuk berhubungan dengannya.
Setiap orang menasehati sang putri bahwa pria
pilihannya itu seorang pria nakal, dan menyarankan untuk tidak berhubungan
dengannya, lagi pula dia sama sekali tidak sepadan dengan putri. Meski dalam
hati sang putri sangat jelas terlihat betapa tidak baik pria tersebut, tetapi
sang putri tetap membela pria tersebut, bertahan untuk berhubungan terus dengan
pria tersebut. Saat ini putri sudah menganggap keterbelakangan dirinya sebagai
suratan takdir.
Hari demi hari berlalu, putri dalam cermin
makin hari semakin mirip jin. Putri menutup erat jendela dan pintu, sangat
takut orang lain melihat keburukan wajahnya. Kutukan jin pada cermin itu masih
belum terhapus, hanya sinar mentari pagi yang cerah, bisa menghapusnya.
Suatu hari, secara kebetulan ada seberkas
sinar matahari masuk ke dalam kamar sang putri. Sinar itu persis jatuh pada
cermin, dan segera kutukan itu terhapuskan. Ketika sang putri berjalan lewat di
depan cermin, tiba-tiba ia menemukan bahwa wajah aslinya masih tetap cantik
sekali. Dia baru sadar apa yang telah terjadi, ternyata semua ini perbuatan
jail jin-jin itu.
Malam itu ketika seperti biasa jin datang ke
kamar sang putri untuk berbuat onar. Sang putri berpura-pura masih tidak tahu tipu
muslihat mereka, membiarkan mereka berbuat onar. Hingga menjelang pagi, sang
putri mengatakan bahwa dirinya sudah tidak tahan lagi, meminta jin meninggalkan
dirinya. Putri tahu semakin dia memohon, mereka semakin tidak mau meninggalkan
tempat itu.
Putri berpura-pura mundur ke arah jendela.
Sedangkan para jin itu juga hendak melanjutkan menggodanya. Secara mendadak
sang putri membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Sinar matahari yang terang
menyoroti semua tubuh jin itu. Mereka bergulung-gulung kesakitan di atas
lantai, berangsur-angsur mengerut menjadi bola kering.
Meski sang putri sangat membenci jin itu,
tetapi ia merasakan sedikit tidak tega melihat jin-jin itu mengalami kesakitan
yang begitu hebat. Cahaya matahari terus
menyinari bola-bola kering, berangsur-angsur bola-bola itu berubah menjadi
bening. Di luar dugaan kemudian berubah menjadi peri-peri yang cantik,
mengibaskan sayap mereka yang bening dan terang itu terbang keluar jendela.
Ada satu peri yang berhenti di atas teras
jendela dan berkata kepada sang putri, “Terima kasih Anda telah menolong kami!
Kami sebenarnya berasal dari negeri peri di sebelah utara, karena dikutuk
tukang sihir menjadi jin. Kami berubah menjadi sangat jelek, dan hanya bisa
hidup ditempat yang gelap dan basah. Kami merasa sangat risau sehingga mencari
kesenangan dengan menggoda orang lain, kami merasa menyesal sekali telah
membuat Anda sengsara!”
Selesai berbicara, peri itu terbang pergi ke
arah sinar matahari mengikuti peri-peri yang lain. Dalam hati sang putri penuh
dengan ketenangan, melihat titik cahaya terang ketika peri-peri itu terbang
pergi.
Selanjutnya putri membatalkan janji
pernikahannya dengan pria nakal itu.
Setiap orang adalah pusaka yang tak ternilai
harganya, sama terhormatnya seperti diri seorang putri dan pangeran. Setiap
orang memiliki bakat dan kemampuan terpendam yang sangat baik dan indah,
seperti kecantikan putri dalam kisah ini. Namun kadangkala karena bermacam
opini publik bagai kutukan iblis yang berada di sekitar kita, berbagai macam godaan
dari nama, keuntungan dan perasaan, lalu melupakan diri kita yang sejati dan
mengalir mengikuti arus.
Jika kita bisa menemukan seberkas sinar
matahari yang bisa menghapuskan kutukan iblis itu... yakni keyakinan dan
keberanian, serta bisa percaya dengan teguh kepada kebaikan dan kemurnian diri
kita yang paling hakiki, barulah bisa membuat diri kita sendiri tidak tertutupi
oleh benda-benda dalam dunia yang sangat rendah itu.
No comments:
Post a Comment