Namanya Gulam. Tubuhnya tinggi,
atletis, dengan kulit cenderung hitam. Penampilannya necis. Untuk ukuran orang Pakistan,
wajahnya terbilang tampan. Dia menjemput saya dan keluarga di Heathrow Airport,
London,
kemudian selama dua hari menemani kami sebagai supir paruh waktu merangkap
guide.
Awalnya saya tidak merasa Gulam istimewa, selain
perilakunya yang sangat santun. Tetapi setelah bersama-sama selama dua hari,
saya baru menyadari pemikiran-pemikiran Gulam jauh lebih luas dibandingkan
profesinya. Begitu pula pandangan-pandangannya tentang hidup.
Gulam menikah dalam usia relatif muda, 18 tahun. Dia
menikah dengan seorang gadis kulit putih berkebangsaan Inggris. Mereka bertemu
ketika sang gadis berkunjung ke Pakistan
untuk berlibur. Bagai dalam cerita-cerita karangan Hans Christian Andersen,
mereka saling jatuh cinta hanya dalam hitungan minggu. Singkat kata, Gulam dan
sang gadis Inggris itu lalu menikah.
Dengan status sebagai suami seorang wanita
berkewarganegaraan Inggris, berangkatlah Gulam ke negeri yang sama sekali tak
terbayangkan akan menjadi negara keduanya: United Kingdom.
Setelah lima
tahun menikah dan menetap di negeri Big Ben itu, Gulam memperoleh
kewarganegaraan Inggris berikut seluruh hak dan kewajiban sebagai warganegara.
Dalam perkawinannya, Gulam memperoleh tiga anak perempuan yang cantik-cantik,
campuran Pakistan
dan Inggris. Gulam terlihat bangga ketika memperlihatkan foto anak-anaknya.
Gulam hanya bisa menyelesaikan pendidikannya sampai
SMA. Dia mengaku kedua orangtuanya tidak mampu menyekolahkannya lebih tinggi dari
itu. “Saya lahir dari keluarga miskin di Pakistan,” ungkapnya. Karena itu
sama sekali tak terbayang olehnya pada suatu ketika, dalam hidupnya, dia akan
tinggal di Inggris sebagai warganegara. Meninggalkan ayah dan ibunya,
saudara-saudaranya, kampung halamannya, juga handai-taulannya. Termasuk
kemiskinannya.
Gulam mengaku dia menyadari betul dengan pendidikan
yang minim dan kondisi ekonomi di negaranya, dia tidak akan ke mana-mana.
“Jujur saja, saya tidak bisa membayangkan masa depan saya. Apalagi Cuma bermodal
ijasah SMA,” ujarnya.
Maka, perkawinan dengan gadis Inggris dan menjadi
warganegara Inggris, oleh Gulam dilihat sebagai karunia Tuhan yang harus
dimaknai secara optimal. “Tidak setiap orang punya kesempatan seperti yang saya
dapatkan,” ujarnya.
Sempurnahkah hidup Gulam? Ternyata tidak. Ketika saya
bertanya apakah dia bahagia menjadi warganegara Inggris dan menetap di luar
negara asalnya, dia menggeleng. Hal yang paling membuatnya sedih adalah harus
berpisah dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Dia juga merasa tercabut
dari akar budayanya.
Tidak mudah untuk mengajak serta orangtuanya ke
Inggris. Selain biaya perjalanan yang mahal, juga sulitnya mendapatkan visa
untuk masuk Inggris. Terlebih ketika negara itu belakangan juga terkena dampak
krisis global. Banyak imigran pengangguran membuat pemerintah Inggris
memperketat pengawasan terhadap masuknya pendatang asing. Terutama dari India dan Pakistan.
Sementara bagi Gulam, tidak mudah pula untuk membawa
istri dan anaknya pulang kampung. Ongkos pesawat yang mahal membatasi
keinginannya. Selama 15 tahun hidup di Inggris, baru sekali dia membawa anak
dan istrinya ke Pakistan.
Berpisah dari keluarga tercinta dan tanah tumpah darahnya itulah penderitaan
yang harus dipikul atas pilihannya bermigrasi ke negara Union Jack tersebut.
“Tapi itulah pilihan yang harus saya ambil,” ujarnya
dengan suara bergetar. Pilihan itu disadari Gulam tidak membuatnya bahagia
sebagai pribadi. “Kalau disuruh memilih, saya lebih ingin hidup di negeri
sendiri,” katanya. Tetapi, jika Gulam tetap menguatkan hatinya untuk menetap di
Inggris, maka itu dilakukannya demi masa depan ketiga anaknya.
“Pendidikan anak-anak lebih penting dari perasaan
saya,” Gulam menegaskan. Sebagai anak yang lahir dari keluarga kurang mampu
dengan pendidikan yang terbatas, dia mengatakan bertekad agar kondisi tersebut
tidak akan dialami oleh anak-anaknya. “Di Inggris mereka mendapatkan pendidikan
yang lebih baik. Adalah kewajiban saya untuk mengusahakan pendidikan terbaik
bagi anak-anak saya,” ujar Gulam.
Selama dua hari bersama Gulam, saya mendapatkan begitu
banyak pelajaran. Terutama perjuangan seorang ayah dalam mengusahakan keadaan
yang lebih baik bagi anak-anaknya. “Mereka tidak boleh mengalami nasib seperti
saya,” dia menegaskan. “Saya harus memberikan pendidikan terbaik kepada mereka.
Sebab keberuntungan untuk bisa keluar dari kemiskinan, seperti yang saya alami,
tidak bisa diharapkan akan berulang. Kebetulan saja nasib saya berubah setelah
bertemu istri dan tinggal di Inggris. Tapi saya tidak bisa berharap itu akan
terjadi pula pada anak-anak saya. Mereka harus mampu keluar dari keterbatasan
-- yang selama ini membelenggu hidup ayah mereka -- dengan usaha sendiri.
Jangan mengharapkan keajaiban.”
Maka, dengan segala konsekuensi selama tinggal dan
menjadi warganegara Inggris, Gulam yang profesi sehari-harinya supir antar
jemput anak-anak sekolah, memilih berkorban memendam kerinduan dan kecintaan
pada tanah airnya. Termasuk kerinduan dan kecintaan pada kedua orangtua dan
sanak saudaranya. Semua demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
No comments:
Post a Comment