Feb 17, 2017

CAHAYA EMAS TAK DAPAT TERTUTUP

Akhir-akhir ini cuaca selalu bersalju. Suatu pagi, suami mengatakan akan pergi mereparasi mobil di bengkel. Dia meminta saya menunggu di rumah saja karena cuaca di luar di-nginnya hingga menusuk tulang.

Saya tidak mau mengikuti sarannya, berdalih bila terlalu lama berada di dalam rumah jadi bosan. Akhirnya suami mengizinkan saya ikut, dengan syarat harus memakai mantel tebal. Lagi-lagi saya bersikeras, hanya berbekal sebuah baju luar putih bersih yang tak terlalu tebal, diri ini sudah merasa puas.

Begitu keluar dari pintu rumah, tubuh ini serasa terlempar ke dalam lautan kutub, secara refleks tubuh ini langsung mengerut. Cepat-cepat saya masuk ke dalam mobil dan mendesak suami untuk segera menyalakan pemanas. Suami tertawa melihat tingkah laku saya itu, dia lalu berkata bila tidak mendengarkan nasehat orang tua rugi jadinya. Saya berpura-pura marah padanya, dan menuduhnya senang melihat nasib buruk orang lain, berhati jahat. Suami membantah tuduhan itu, dia berkata, “Saya hanya menghormati pilihan dirimu, maka hati saya memancarkan kilauan cahaya seperti emas.”

Setelah mendengar bantahan suami, saya menjadi tertawa lalu berkata dengan nada mengejek, “Dengan tubuh yang kotor berlepotan, bisakah memiliki ‘hati bagaikan emas’?” Dengan tenang suami menjawab, “Baiklah, coba kita lihat saja apakah di balik tubuh yang kotor hatinya juga kotor.” Saya merasa suami sedang menciptakan situasi, maka saya tidak menghiraukan ucapannya. Dalam hati saya masih berpikir, para teknisi di bengkel bekerja dengan tubuh penuh dengan oli, bicara mereka juga keras, seberapa baik mereka bisa berkelakuan?

Tiba di bengkel mobil, suami langsung memasukkan mobil ke dalam bengkel yang terbuka lebar. Bengkel itu terlihat sangat kotor, tidak ada pintu maupun jendela, angin dingin bertiup masuk ke dalam bengkel dengan leluasa. Di sudut bengkel terdapat kantor pimpinan. Bangunan kantor tampak sangat indah, dengan jendela kaca dan lantai dari kayu, juga pemanas. Suami meminta saya menunggu di luar mobil, dia pergi mencari teknisi untuk memeriksa mobil. Saya menurut saja keluar dari mobil, berdiri di depan bengkel dengan tubuh menggigil, waktu terasa berlalu sangat lamban.

Kebetulan seorang teknisi lewat dan melihat saya berdiri di sana seorang diri. Dia kemudian berkata, “Silahkan Anda masuk ke dalam agar lebih hangat, di luar sini terlalu dingin.” Saya hanya tersenyum padanya sambil mengucapkan terima kasih. Namun karena segan, saya tetap tidak beranjak. Dengan mengandalkan sedikit hawa hangat yang saya kumpulkan, setelah berdiri di sana sepuluh menit kemudian, sekujur tubuh serasa beku.

Teknisi itu telah memberikan tawaran menarik pada saya, tetapi saya menampik kebaikannya. Kini saya merasa malu untuk masuk ke dalam kantor. Lagi pula jika teknisi itu melihat saya masih tetap di sini, mungkin dia tidak akan memberi perhatiannya lagi, karena saya sudah menolak kebaikannya.

Akhirnya saya bertahan di luar dengan menahan rasa dingin yang menusuk. Tak disangka, teknisi itu datang lagi, dan kali ini ia bersikeras agar saya masuk ke dalam. Saya jadi tertegun, teknisi itu tersenyum dan membukakan pintu kantor mempersilakan saya masuk ke dalam.

Ketika kita merasa hangat, jika ada orang yang menawarkan sepuluh mantel akan tidak berarti apa-apa, tetapi jika kita dalam keadaan menggigil, sepatah kata, sebuah ekspresi dan isyarat tangan saja sudah bisa menimbulkan keharuan. Dalam perjalanan pulang, saya ceritakan hal tersebut kepada suami. Suami menertawakan saya, seraya mengatakan bahwa dia sangat paham dengan sifat para teknisi di bengkel, maka sengaja membiarkan saya kedinginan di luar mobil untuk merasakan kebaikan hati dari para teknisi. Memang benar, karena pekerjaan mereka sehingga penampilan luarnya terkesan kurang bersih, tetapi kebaikan hati mereka siapa yang bisa menyangkal? 

Setelah mendengar perkataan suami, dalam hati berjanji selalu mengingat pelajaran ini. Tiada yang dapat menutupi kilau cahaya emas. Dalam perjalanan hidup, mungkin segala hal yang kita jumpai, tidak bisa semua sesuai dengan kehendak hati. Mungkin kita telah banyak berkorban tetapi masih belum terlihat balasannya, mungkin di banyak waktu harapan itu terlihat sangat tipis sehingga sama sekali tak berbekas.

Namun kebaikan dan kemurnian yang terpancar dari lubuk hati, dengan sekilas pandang saja Tuhan sudah mengetahuinya. Mungkin inilah sebabnya mengapa selama ribuan tahun generasi demi generasi selalu menurunkan perkataan, “Kebaikan atau kejahatan pasti ada balasannya.


No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search