Akhir-akhir ini cuaca selalu bersalju. Suatu
pagi, suami mengatakan akan pergi mereparasi mobil di bengkel. Dia meminta saya
menunggu di rumah saja karena cuaca di luar di-nginnya hingga menusuk tulang.
Saya tidak mau mengikuti sarannya, berdalih
bila terlalu lama berada di dalam rumah jadi bosan. Akhirnya suami mengizinkan
saya ikut, dengan syarat harus memakai mantel tebal. Lagi-lagi saya bersikeras,
hanya berbekal sebuah baju luar putih bersih yang tak terlalu tebal, diri ini
sudah merasa puas.
Begitu keluar dari pintu rumah, tubuh ini
serasa terlempar ke dalam lautan kutub, secara refleks tubuh ini langsung
mengerut. Cepat-cepat saya masuk ke dalam mobil dan mendesak suami untuk segera
menyalakan pemanas. Suami tertawa melihat tingkah laku saya itu, dia lalu
berkata bila tidak mendengarkan nasehat orang tua rugi jadinya. Saya
berpura-pura marah padanya, dan menuduhnya senang melihat nasib buruk orang
lain, berhati jahat. Suami membantah tuduhan itu, dia berkata, “Saya hanya
menghormati pilihan dirimu, maka hati saya memancarkan kilauan cahaya seperti
emas.”
Setelah mendengar bantahan suami, saya menjadi
tertawa lalu berkata dengan nada mengejek, “Dengan tubuh yang kotor berlepotan,
bisakah memiliki ‘hati bagaikan emas’?” Dengan tenang suami menjawab, “Baiklah,
coba kita lihat saja apakah di balik tubuh yang kotor hatinya juga kotor.” Saya
merasa suami sedang menciptakan situasi, maka saya tidak menghiraukan
ucapannya. Dalam hati saya masih berpikir, para teknisi di bengkel bekerja
dengan tubuh penuh dengan oli, bicara mereka juga keras, seberapa baik mereka
bisa berkelakuan?
Tiba di bengkel mobil, suami langsung
memasukkan mobil ke dalam bengkel yang terbuka lebar. Bengkel itu terlihat
sangat kotor, tidak ada pintu maupun jendela, angin dingin bertiup masuk ke
dalam bengkel dengan leluasa. Di sudut bengkel terdapat kantor pimpinan.
Bangunan kantor tampak sangat indah, dengan jendela kaca dan lantai dari kayu,
juga pemanas. Suami meminta saya menunggu di luar mobil, dia pergi mencari
teknisi untuk memeriksa mobil. Saya menurut saja keluar dari mobil, berdiri di
depan bengkel dengan tubuh menggigil, waktu terasa berlalu sangat lamban.
Kebetulan seorang teknisi lewat dan melihat
saya berdiri di sana seorang diri. Dia kemudian berkata, “Silahkan Anda masuk
ke dalam agar lebih hangat, di luar sini terlalu dingin.” Saya hanya tersenyum
padanya sambil mengucapkan terima kasih. Namun karena segan, saya tetap tidak
beranjak. Dengan mengandalkan sedikit hawa hangat yang saya kumpulkan, setelah
berdiri di sana sepuluh menit kemudian, sekujur tubuh serasa beku.
Teknisi itu telah memberikan tawaran menarik
pada saya, tetapi saya menampik kebaikannya. Kini saya merasa malu untuk masuk
ke dalam kantor. Lagi pula jika teknisi itu melihat saya masih tetap di sini,
mungkin dia tidak akan memberi perhatiannya lagi, karena saya sudah menolak
kebaikannya.
Akhirnya saya bertahan di luar dengan menahan
rasa dingin yang menusuk. Tak disangka, teknisi itu datang lagi, dan kali ini
ia bersikeras agar saya masuk ke dalam. Saya jadi tertegun, teknisi itu
tersenyum dan membukakan pintu kantor mempersilakan saya masuk ke dalam.
Ketika kita merasa hangat, jika ada orang yang
menawarkan sepuluh mantel akan tidak berarti apa-apa, tetapi jika kita dalam
keadaan menggigil, sepatah kata, sebuah ekspresi dan isyarat tangan saja sudah
bisa menimbulkan keharuan. Dalam perjalanan pulang, saya ceritakan hal tersebut
kepada suami. Suami menertawakan saya, seraya mengatakan bahwa dia sangat paham
dengan sifat para teknisi di bengkel, maka sengaja membiarkan saya kedinginan
di luar mobil untuk merasakan kebaikan hati dari para teknisi. Memang benar,
karena pekerjaan mereka sehingga penampilan luarnya terkesan kurang bersih,
tetapi kebaikan hati mereka siapa yang bisa menyangkal?
Setelah mendengar perkataan suami, dalam hati
berjanji selalu mengingat pelajaran ini. Tiada yang dapat menutupi kilau cahaya
emas. Dalam perjalanan hidup, mungkin segala hal yang kita jumpai, tidak bisa
semua sesuai dengan kehendak hati. Mungkin kita telah banyak berkorban tetapi
masih belum terlihat balasannya, mungkin di banyak waktu harapan itu terlihat
sangat tipis sehingga sama sekali tak berbekas.
Namun kebaikan dan kemurnian yang terpancar
dari lubuk hati, dengan sekilas pandang saja Tuhan sudah mengetahuinya. Mungkin
inilah sebabnya mengapa selama ribuan tahun generasi demi generasi selalu
menurunkan perkataan, “Kebaikan atau kejahatan pasti ada balasannya.
No comments:
Post a Comment