Feb 16, 2017

Mengendalikan Lebar Kehidupan

Menjadi seorang karyawan, sangat mementingkan komunikasi. Tidak peduli terhadap atasan, bawahan, rekan sejawat, pelanggan ataupun terhadap bagian yang harus dihubungi untuk berkonsultasi, semua ini membutuhkan teknik komunikasi antar manusia.

Namun di dalam pekerjaan, tidak bisa dihindari menemui banyak hal yang tidak sesuai dengan kehendak hati, bahkan juga kegagalan. Saat itu dibutuhkan penyesuaian perasaan hati atau terus menerus menyemangati diri sendiri, yang disebut berkomunikasi dengan diri sendiri.

Acapkali ketika kita sedang berkomunikasi, secara tidak sadar bisa menggunakan nada berbicara dengan cara negatif, memerintahkan, atau seperti atasan terhadap bawahan. Misalnya, “Salah, salah, Anda salah, perkataan tidak boleh diucapkan seperti itu.” Atau, “Aduh, sudah saya katakan beberapa kali kepada Anda, tidak bisa dilakukan dengan cara Anda itu.  Mengapa Anda begitu bodoh, sudah beberapa kali diberitahu juga tidak dihiraukan.”

Pada umumnya, semua orang tidak senang bila dikritik atau disangkal. Tetapi terkadang dalam ucapan yang kita keluarkan secara tanpa disadari telah menunjukkan suatu perasaan unggul dan keakuan diri sebagai pusat pembicaraan, merasakan diri sendiri yang benar, orang lain salah.

Tetapi ada pepatah yang mengatakan, “Usulan yang diajukan dengan memaksa, sama saja seperti menyalahkan.” Meski  perkataan yang kita ucapkan bertitik tolak dari kebaikan, berniat baik, tetapi jika nada perkataan yang diucapkan terlalu memaksa, tidak memperhatikan perasaan orang lain, maka bagi pihak yang mendengarkan, akan merasakan seperti diserang atau disalahkan, sangat tidak nyaman.

Kadang kala dalam hati akan muncul ungkapan perasaan bahwa, “Tahukah Anda? Sebenarnya saya sangat setuju sekali dengan pemikiran Anda, tetapi saya sangat tidak senang dengan sikap berbicara Anda.”

Kadang kala kita bisa berkata, “Sebenarnya saya orang yang sangat rasional, coba Anda lihat pintu saya selalu terbuka lebar, Anda sekalian setiap saat boleh masuk dan berkomunikasi dengan saya.” Akan tetapi jika kedua pintu telah terbuka lebar, sedangkan hati kita tertutup, lantas apa gunanya semua ini?

Oleh sebab itu ketika kita berkomunikasi harus memperhatikan perasaan orang yang kita ajak bicara, pada hakekatnya setiap orang memiliki rasa martabat diri sendiri, setiap orang berharap dirinya diakui, dipuji, diikuti, dan tidak senang disangkal atau dihina.

Meski kedua belah pihak berbeda pendapat, tetapi harus dicapai “kesamaan dalam perbedaan, berkomunikasi secara sempurna; ada pendapat harus diutarakan, tetapi harus dengan nada lembut”.

Aksara China bermakna sangat mendalam, kata Wo (,= saya) gabungan dari dua kata apa? Kata Shou (,= tangan) dan Ge (,= senjata). Kata Wo, harfiahnya berarti, setiap orang di tangannya memegang senjata.

Karena itu setiap orang sering “membela / menjaga diri sendiri”, untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi ketika berkomunikasi, manusia selain menjaga dirinya sendiri, juga harus berpijak pada pendirian orang lain. Pergunakan dengan baik “kesamaan hati manusia”, juga belajarlah bagaimana mengendalikan lidah kita. Di saat yang tepat, ucapkanlah perkataan yang baik, bersamaan itu dapat segera menahan perkataan yang tidak seharusnya diutarakan.

Oleh sebab itu kita harus belajar, “Jangan tergesa untuk berbicara, jangan berebut untuk berbicara, namun harus berpikir dulu baru diucapkan.” Pastikan jangan menyesal setelah “mengumbar kepuasan berbicara”, karena perkataan yang telah diucapkan tidak bisa dihapus!

Selain itu berkomunikasi dalam profesi, kita juga harus belajar menahan perasaan dan mengembangkan toleransi kita terhadap kegagalan, karena tabiat itu dapat membawa pergi keberuntungan.

Di saat menjumpai masalah yang sangat runyam, tenangkan diri lebih dahulu, jangan melakukan hal-hal yang emosional, juga belajar bagaimana mengendalikan perasaan hati, barulah menyelesaikan masalah, jadi tidak sampai membuat masalah bertambah runyam.

Ada pepatah yang mengatakan, “Panjang dan pendeknya kehidupan seseorang ditentukan Yang Maha Kuasa, tetapi lebarnya kehidupan itu dikendalikan dalam tangan masing-masing orang.”


Memang benar walaupun kita tidak bisa mengendalikan “panjang pendek” kehidupan, tetapi kita bisa mengendalikan “lebar” dari kehidupan. Kita semua orang bisa belajar bagaimana berkomunikasi yang lebih baik dalam pekerjaan kita, sehingga membuat hubungan antara manusia lebih sempurna, juga membuat kehidupan yang kita jalani ini semakin indah semakin berarti, bukankah demikian?

No comments:

Post a Comment

Bookmark and Share
Custom Search