Menjadi seorang karyawan, sangat mementingkan
komunikasi. Tidak peduli terhadap atasan, bawahan, rekan sejawat, pelanggan
ataupun terhadap bagian yang harus dihubungi untuk berkonsultasi, semua ini
membutuhkan teknik komunikasi antar manusia.
Namun di dalam pekerjaan, tidak bisa dihindari
menemui banyak hal yang tidak sesuai dengan kehendak hati, bahkan juga
kegagalan. Saat itu dibutuhkan penyesuaian perasaan hati atau terus menerus
menyemangati diri sendiri, yang disebut berkomunikasi dengan diri sendiri.
Acapkali ketika kita sedang berkomunikasi,
secara tidak sadar bisa menggunakan nada berbicara dengan cara negatif, memerintahkan,
atau seperti atasan terhadap bawahan. Misalnya, “Salah, salah, Anda salah,
perkataan tidak boleh diucapkan seperti itu.” Atau, “Aduh, sudah saya katakan
beberapa kali kepada Anda, tidak bisa dilakukan dengan cara Anda itu. Mengapa Anda begitu bodoh, sudah beberapa
kali diberitahu juga tidak dihiraukan.”
Pada umumnya, semua orang tidak senang bila
dikritik atau disangkal. Tetapi terkadang dalam ucapan yang kita keluarkan
secara tanpa disadari telah menunjukkan suatu perasaan unggul dan keakuan diri
sebagai pusat pembicaraan, merasakan diri sendiri yang benar, orang lain salah.
Tetapi ada pepatah yang mengatakan, “Usulan
yang diajukan dengan memaksa, sama saja seperti menyalahkan.” Meski perkataan yang kita ucapkan bertitik tolak
dari kebaikan, berniat baik, tetapi jika nada perkataan yang diucapkan terlalu
memaksa, tidak memperhatikan perasaan orang lain, maka bagi pihak yang
mendengarkan, akan merasakan seperti diserang atau disalahkan, sangat tidak
nyaman.
Kadang kala dalam hati akan muncul ungkapan
perasaan bahwa, “Tahukah Anda? Sebenarnya saya sangat setuju sekali dengan
pemikiran Anda, tetapi saya sangat tidak senang dengan sikap berbicara Anda.”
Kadang kala kita bisa berkata, “Sebenarnya
saya orang yang sangat rasional, coba Anda lihat pintu saya selalu terbuka
lebar, Anda sekalian setiap saat boleh masuk dan berkomunikasi dengan saya.”
Akan tetapi jika kedua pintu telah terbuka lebar, sedangkan hati kita tertutup,
lantas apa gunanya semua ini?
Oleh sebab itu ketika kita berkomunikasi harus
memperhatikan perasaan orang yang kita ajak bicara, pada hakekatnya setiap
orang memiliki rasa martabat diri sendiri, setiap orang berharap dirinya
diakui, dipuji, diikuti, dan tidak senang disangkal atau dihina.
Meski kedua belah pihak berbeda pendapat,
tetapi harus dicapai “kesamaan dalam perbedaan, berkomunikasi secara sempurna;
ada pendapat harus diutarakan, tetapi harus dengan nada lembut”.
Aksara China bermakna sangat mendalam, kata Wo
(我,= saya)
gabungan dari dua kata apa? Kata Shou (手,= tangan)
dan Ge (戈,= senjata). Kata Wo, harfiahnya berarti, “setiap
orang di tangannya memegang senjata”.
Karena itu setiap orang sering “membela /
menjaga diri sendiri”, untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi ketika
berkomunikasi, manusia selain menjaga dirinya sendiri, juga harus berpijak pada
pendirian orang lain. Pergunakan dengan baik “kesamaan hati manusia”, juga
belajarlah bagaimana mengendalikan lidah kita. Di saat yang tepat, ucapkanlah
perkataan yang baik, bersamaan itu dapat segera menahan perkataan yang tidak
seharusnya diutarakan.
Oleh sebab itu kita harus belajar, “Jangan
tergesa untuk berbicara, jangan berebut untuk berbicara, namun harus berpikir
dulu baru diucapkan.” Pastikan jangan menyesal setelah “mengumbar kepuasan
berbicara”, karena perkataan yang telah diucapkan tidak bisa dihapus!
Selain itu berkomunikasi dalam profesi, kita
juga harus belajar menahan perasaan dan mengembangkan toleransi kita terhadap
kegagalan, karena tabiat itu dapat membawa pergi keberuntungan.
Di saat menjumpai masalah yang sangat runyam,
tenangkan diri lebih dahulu, jangan melakukan hal-hal yang emosional, juga
belajar bagaimana mengendalikan perasaan hati, barulah menyelesaikan masalah,
jadi tidak sampai membuat masalah bertambah runyam.
Ada pepatah yang mengatakan, “Panjang dan
pendeknya kehidupan seseorang ditentukan Yang Maha Kuasa, tetapi lebarnya
kehidupan itu dikendalikan dalam tangan masing-masing orang.”
Memang benar walaupun kita tidak bisa
mengendalikan “panjang pendek” kehidupan, tetapi kita bisa mengendalikan
“lebar” dari kehidupan. Kita semua orang bisa belajar bagaimana berkomunikasi
yang lebih baik dalam pekerjaan kita, sehingga membuat hubungan antara manusia
lebih sempurna, juga membuat kehidupan yang kita jalani ini semakin indah
semakin berarti, bukankah demikian?
No comments:
Post a Comment