Oleh: Hasanudin
Abdurakhman
Banyak orangtua
mengeluh soal anak yang tidak patuh, bahkan melawan kepada orangtua. Masalahnya,
keluhan jarang menyentuh pada detil substansi masalah.
Para orangtua
umumnya hanya melihat masalahnya dari satu sisi, yaitu anak tidak patuh. Kenapa
anak tidak patuh, dalam hal apa anak tidak patuh, adalah bagian yang sangat
jarang dieksplorasi.
Anak-anak yang
patuh adalah harapan orang tua. Sebab utamanya adalah hal itu membuat nyaman.
Orangtua cukup mengatakan satu hal sekali, anak menurut. Tidak diperlukan
banyak energi untuk melaksanakan sesuatu.
Tapi ingat, ada
sisi lain. Anak adalah suatu individu juga, yang secara alami memiliki kehendak
dan inisiatif sendiri. Bila anak hanya patuh saja, boleh jadi ia akan tumbuh
jadi anak yang tak punya inisiatif dan kemauan.
Peran orangtua
dalam pendidikan anak persis sama seperti saat ia mengajari anaknya naik
sepeda. Di saat awal, orangtua harus memegangi sepeda anaknya, agar ia tak
jatuh. Tapi pada saat yang sama, orangtua harus mendorong inisiatif dan
keberanian anak.
Bahkan, anak
harus didorong untuk mengambil risiko, mencoba sendiri, meski akibatnya ia
jatuh dan terluka. Yang terpenting adalah, pada akhirnya anak harus dilepas
untuk mengayuh sepedanya sendiri, menentukan arah jalannya.
Banyak orangtua
yang gagal memahami soal yang paling fundamental dalam pendidikan anak itu.
Mereka bersikap seperti komandan yang ingin semua perintahnya dipatuhi.
Bahkan saat
anak memilih jodoh, sebuah pilihan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa,
orangtua masih ingin bertengger di pundak anaknya, memegang kendali. Orangtua
seperti inilah yang banyak mengeluh soal anak yang tak patuh.
Bagi saya, anak
tak perlu patuh pada orang tua. Orang tua itu bukan Tuhan, juga bukan nabi.
Mereka manusia juga, persis seperti anaknya. Tak patut ada manusia mematuhi
manusia lain.
Yang patut kita
patuhi adalah nilai-nilai yang mengatur tata cara hidup kita. Nilai itu berupa
nilai agama, aturan hukum, tata krama sosial, dan nalar.
Orangtua
terikat dan wajib mematuhi nilai-nilai itu. Mendidik anak pada dasarnya adalah
mengajak anak untuk patuh pada nilai itu. Ketika anak patuh pada orangtua, pada
dasarnya itu adalah bagian dari kepatuhan pada nilai-nilai tadi.
Konsekuensi
dari prinsip ini adalah, fondasi dari hubungan antara orangtua dan anak adalah
nilai. Bila orangtua menyuruh anak dalam koridor yang dibenarkan oleh nilai,
maka anak wajib patuh. Bila tidak, maka tidak perlu patuh.
Orang tua yang
memaksakan kepatuhan tidak berbasis nilai, adalah orang tua yang zalim.
Orang tua
sering mengeluh, anaknya suka menjawab. Lagi-lagi keluhannya tidak menyentuh
substansi. Anak yang menjawab atau ngeyel tidak otomatis
buruk.
Kemampuan untuk
menjawab atau berargumentasi adalah kemampuan yang sangat penting bagi seorang
manusia dewasa. Anak justru harus kita latih untuk punya kemampuan itu. Jadi,
jangan bungkam anak yang suka menjawab.
Coba telusuri,
apa duduk masalahnya. Kenapa anak menjawab? Apa isi jawabannya? Biarkan anak
kita mengeluarkan pendapatnya. Latih dia untuk menjabarkan pendapatnya dengan
cara yang mudah dipahami orang. Latih dia untuk berargumen dengan benar.
Luruskan bila argumennya salah.
Tapi semua itu
punya konsekuensi, bahwa kita harus adil. Kita bukan penguasa di hadapan anak.
Kita dan anak adalah dua pihak yang tunduk pada nilai. Kalau anak benar
berdasarkan nilai, maka kita harus menerima.
Masalahnya,
kita para orangtua sering berdiri di depan anak dengan ego yang tinggi. Jawaban
anak terhadap kita sering kita terima sebagai serangan terhadap ego kita. Dalam
hal ini, kita bediri pada posisi kanak-kanak, bukan orang dewasa yang mendidik.
Tentu saja, ada
banyak kasus di mana anak melawan karena enggan diarahkan. Anak punya kehendak,
dan tidak semua kehendak itu harus dituruti. Maka sekali lagi, penting bagi
orangtua untuk menetapkan sejumlah aturan berbasis nilai.
Sejak kecil
anak harus dibiasakan berkehendak dalam koridor aturan tersebut. Yang di luar
itu, harus dikoreksi. Maka ketika anak melawan dalam konteks di luar koridor
tadi, anak harus diluruskan.
Yang tak kalah
penting adalah kendali emosi. Orangtua cenderung menjadi emosional secara tak
terkendali saat anak melawan.
Alih-alih
melaksanakan tugas sebagai pengarah sehingga anak bisa berargumentasi, orangtua
sering terjebak menjadi lawan anak bertengkar. Hasilnya adalah konflik yang
melukai kedua pihak.
Untuk
mengindarinya, maka orangtua mutlak harus mengendalikan emosinya.
No comments:
Post a Comment