Pada
jaman dulu, di sebuah kota kecil di Tiongkok Utara terdapat dua toko yang
menjual beras, toko yang satu bernama Yong Chang, yang satunya lagi bernama
Feng Yu.
Pemilik
tua toko beras Feng Yu melihat saat itu situasi sedang kacau oleh peperangan
tidak mudah untuk berdagang, dia lalu memikirkan suatu rencana yang bisa
mendatangkan keuntungan yang lebih besar.
Hari
itu, dia mengundang ahli pembuat timbangan ke rumahnya, dengan
sembunyi-sembunyi dia berkata kepada ahli pembuat timbangan itu, “Tolong Anda
buatkan satu timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 15,5 kati, nanti
ongkos pembuatannya saya tambah seratus tael.” (1 kg yang sebenarnya adalah 16
kati)
Demi
untuk mendapatkan uang seratus tael lebih banyak, dia telah mengabaikan
moralnya, dan segera menyanggupi pemilik toko tua itu. Setelah selesai
berpesan, pemilik toko itu pun meninggalkan ahli timbangan itu seorang diri di
halaman rumahnya untuk membuat timbangan, dia sendiri berjalan ke dalam toko
mengurus dagangannya.
Pemilik
toko beras tua itu mempunyai empat orang putra, semua anaknya memban-tu dia
mengolah toko beras itu. Putra yang bungsu dua bulan yang lalu baru menikah,
istrinya adalah putri seorang guru pengajar.
Ketika
mertuanya berpesan dengan ahli pembuat timbangan, dia sedang menjahit di dalam
kamar, percakapan mertuanya dengan ahli timbangan telah terdengar semuanya
olehnya.
Setelah
ditinggal pergi oleh si pemilik toko, menantu baru itu merenung sejenak,
berjalan keluar dari kamar dan berbicara dengan ahli pembuat timbangan itu,
“Mertua saya itu sudah tua, pikirannya agak kacau, tadi pasti salah mengucapkan
kata-kata. Mohon Anda buatkan timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan
16,5 kati, nanti saya berikan ongkos lebih 200 tael. Tetapi, Anda harus
berjanji tidak memberitahukan hal ini kepada mertua saya itu.” Ahli pembuat
timbangan itu demi mendapatkan uang 200 tael lebih banyak lagi, dia mengabulkan
permintaan itu.
Timbangan
yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 16,5 kati dengan cepat telah selesai
dibuat, dan ahli pembuat timbangan itu sungguh tidak memberitahu perubahan berat timbangan itu kepada pemilik
tua.
Pemilik
toko yang tua itu sudah pernah beberapa kali membuatkan dacin kepada ahli
timbangan itu, sangat mempercayai keahliannya, jadi timbangan baru setelah
selesai dibuat hari itu juga dibawa ke dalam toko beras untuk dipergunakan.
Beberapa
waktu kemudian, perdagangan toko beras Feng Yu kian makmur, pelanggan lama dari
toko beras Yong Chang juga ikut meramaikan. Mereka berbondong-bondong beralih
ke toko beras Feng Yu untuk membeli beras.
Tidak
lama setelah itu, orang-orang yang tinggal di sebelah barat dan timur jalanan
kota kabupaten itu juga mencari yang jauh dan melepaskan yang dekat, mereka
menelusuri kampung dan jalanan datang ke Feng Yu untuk membeli beras, sedangkan
toko beras Yong Chang yang berada di depan jalanan menjadi sepi sekali.
Tiba
pada akhir tahun, toko beras Feng Yu mendapatkan keuntungan besar, se-dangkan
toko beras Yong Chang merugi hingga tidak bisa melanjutkan perdagangan, toko
beras itu akhirnya dipindah-tangankan kepada Feng Yu.
Pada
malam tahun baru, keluarga besar pemilik toko Feng Yu duduk berkeliling makan
Shuijiao (sejenis pangsit, yang merupakan makanan utama malam tahun baru imlek
untuk penduduk Tiongkok Utara) bersama.
Hati
pemilik tua sedang bergembira, dia mengeluarkan pertanyaan untuk semua orang.
Dia ingin tahu siapa yang dapat menebak bagaimana dia bisa menjadi kaya raya.
Mereka semua berebut untuk berbicara, ada yang mengatakan berkat perlindungan
Yang Kuasa, ada yang mengatakan pemilik tua menggunakan cara yang tepat untuk
mengelola, ada juga yang mengatakan letak toko beras itu sangat strategis, ada
pula yang berkata berkat kerja sama dari seluruh anggota keluarga.
Pemilik
tua itu dengan tertawa dan berkata, “Jawaban kalian semuanya salah. Kita
menggantungkan apa untuk menjadi kaya? Menggantungkan timbangan yang kita
miliki! Timbangan kita beratnya 1kg sama dengan 15,5 kati, setiap menjual 1kg
beras, kurang 0,5 kati, setiap hari menjual ratusan bahkan ribuan kilo beras,
maka akan mendapatkan untung banyak, dengan mengumpul keuntungan ini dari hari
ke hari, maka akhirnya kita menjadi kaya.”
Selanjutnya
dia menceritakan bagaimana dia pada awal tahun telah membuat timbangan yang
berat 1 kilonya sama dengan 15,5 kati dengan menambahkan 100 tael kepada ahli
pembuat timbangan.
Mendengarkan
penuturan ini, anak cucunya sangat takjub hingga melupakan Shuijiao di mangkuk
mereka. Setelah ketakjuban mereda, semua orang memuji pemilik tua alias orang
tua mereka ini sangat hebat, tidak menunjukkan gelagat sedikitpun, hingga orang
sendiripun tidak menyadari, uang sudah masuk ke dalam saku. Mendengarkan
perkataan ini pemilik tua merasa bangga, girang bukan kepalang, berulang-ulang
memegangi janggut panjangnya.
Saat
itu, menantu barunya perlahan-lahan berdiri dari atas bangkunya, dan berbicara
kepada sang pemilik tua, “Ada
satu hal yang ingin saya sampaikan kepada ayah, sebelum saya beritahukan kepada
ayah, saya berharap ayahanda mau berjanji memaafkan kesalahan saya.”
Dia
menunggu pemilik tua menganggukkan kepala, dengan tenang-tenang saja menantu
baru itu menceritakan kepada semua orang, tentang bagaimana dia pada awal tahun
itu telah memberikan uang 200 tael lebih banyak kepada ahli pembuat timbangan
untuk membuatkan timbangan yang beratnya 1 kilo sama dengan 16,5 kati.
Dia
berkata, “Ucapan ayah sangat benar sekali, kita menjadi kaya berkat timbangan
yang kita pakai. Timbangan kita setiap 1 kilo mempunyai kelebihan berat 0,5
kati, semua pelanggan tahu kita berdagang sangat jujur tidak mencuri timbangan,
maka mereka semua mau membeli beras kita, maka usaha perdagangan kita menjadi
makmur. Walaupun setiap kilonya kita mendapatkan untung lebih sedikit, tetapi
jika penjualannya banyak keuntungan yang didapatkan akan besar pula. Kita telah
menjadi kaya raya berkat ke-jujuran yang kita tunjukkan kepada pelanggan ”
Kali
ini semua orang dibuat jadi lebih takjub, mereka terperangah. Pemilik tua tidak
percaya bahwa hal ini adalah benar, dia mengambil dan menera timbangan yang
dipergunakan setiap hari untuk menjual beras. Ternyata memang benar berat 1
kg-nya sama dengan 16,5 kati. Pemilik tua itu tercengang kaget, dia tidak
mengatakan sepatah katapun, dengan perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam
kamarnya.
Keesokan
pagi setelah sarapan pagi, tepat pada awal tahun baru tanggal satu, pemilik tua
mengumpulkan seluruh anggota keluarga, sambil melepaskan kunci kasir yang
terikat di pinggangnya ia berkata, “Saya sudah tua, sudah tidak berguna.
Kemarin semalaman saya telah mempertimbangkan, memutuskan mulai saat ini,
menyerahkan kendali toko ini kepada menantu saya yang keempat, dikemudian hari,
kita semua orang mematuhi kehendak dia!”
Semua
orang bagai sebuah timbangan, dengan timpang sebelah (tidak jujur), orang lain
akan dapat melihatnya dengan sangat jelas. Berdagang yang diutamakan adalah ‘kejujuran’,
dan sebagai manusia bukankah kita juga harus demikian?
No comments:
Post a Comment