Dalam setiap kurun waktu tertentu, tempat
kerja saya selalu mengadakan kenaikan pangkat bagi para pegawai, ada yang
merasa senang, ada juga yang kecewa. Suasana hati saya juga ikut naik turun
karena pengaruh situasi tersebut, dapat sedikit sangat senang, kehilangan
sedikit merasa sedih.
Perasaan semacam itu bagaikan lima rasa
bercampur aduk (manis, asam, pahit, pedas, dan asin). Walaupun hidup saya tidak
kurang suatu apa pun, tapi dalam hati masih saja merasa kurang, sulit untuk
dikatakan apa sebenarnya kekurangan itu.
Suatu hari, mendadak saya menemukan bahwa
ternyata kekurangan saya itu adalah puas diri. Hasrat telah menarik saya
mengerjakan tuntutan tanpa batas, saya berharap angka di buku tabungan saya
makin hari makin bertambah; berharap suami saya berjaya seperti suami orang
lain; berharap dalam pekerjaan bisa menjabat suatu posisi penting, sehingga
tidak perlu selalu melihat ekspresi muka orang lain.
Di luar dugaan semula pengejaran terhadap
keinginan-keinginan inilah yang telah menjadi sumber dari kesengsaraan saya.
Atasan langsung saya adalah seorang manager wanita, sangat pandai di bidang
Public Relation, menjilat dan mengambil hati dialah jagonya, sebenarnya
hidupnya sangat melelahkan. Wajar jika dia juga mengharapkan bawahan yang
menurut dan bisa menyanjung.
Jujur dan berterus terang adalah watak
pembawaan saya, jika bukan hitam pastilah putih, tidak senang melebih-lebihkan
suatu hal, menjilat atau mengambil muka, juga adalah orang yang suka berbicara
demi keadilan, melindungi yang lemah. Orang seperti saya di mata pimpinan saya
bagaikan duri dalam mata, meskipun dalam mulutnya selalu mengatakan jika saya
yang mengerjakan suatu pekerjaan dia sangat lega, tapi hasil penilaian akhir
tahun selalu memberikan nilai jelek.
Saya sangat benci sekali, merasakan ketidak
adilan Tuhan terhadap saya, mengapa orang yang patuh dan mentaati peraturan
selalu diperlakukan dengan sewenang-wenang. Suatu ketika saya mencarinya untuk
berargumentasi, dia ketakutan oleh kemarahan saya, ditambah lagi dengan dia
sendiri telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, takut
saya bongkar. Jika saya bongkar skandal itu, maka dia tidak hanya akan
kehilangan pekerjaan, juga akan dituntut secara hukum.
Akhirnya dia menggunakan relasi-nya untuk
memutasi saya secara paksa, serta mengancam akan mengambil tindakan. Hati saya
juga berusaha keras ingin balas dendam, sisi baik dari hati nurani saya
mengatakan bahwa dendam harus dilepaskan, bukan justru disimpan di hati. Jika
dia sampai dituntut karena perkara ini, maka yang saya menangkan adalah harga
diri, tapi yang kalah adalah di dalam hati saya, karena saya tahu hati saya
pasti akan sangat sedih.
Hati saya telah hambar, tidak lagi menyimpan
dendam padanya. Saya percaya akan hukum karma dan reinkarnasi, tahu bahwa
mengalami kesengsaraan dan berbuat kebaikan pada akhirnya akan mendatangkan
kehidupan yang bahagia, dan dia selalu berbuat kejahatan, akhirnya karma akan
kembali pada dirinya.
Setelah melepaskan nama, keuntungan pribadi
dan perasaan, saya sekarang baru benar-benar bisa merasakan arti memiliki yang
sesungguhnya. Dalam hati saya merasa puas, tidak berebut dan bertentangan
dengan orang lain, saya juga telah memandang hambar akan harta, saya sudah
merasa puas dengan uang yang sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan saya.
Sekarang saya merasakan bahwa saya adalah
orang yang terkaya, karena saya sangat puas dengan penghasilan saya, masih bisa
menyisihkan sebagian dari penghasilan saya untuk melakukan hal-hal yang
bermanfaat bagi masyarakat, saya merasakan kemantapan dalam hati saya. Terhadap
suami saya, saya mulai menghargai kelebihannya, jujur, setia, bisa memikirkan
orang lain, hati yang tenang tanpa banyak keinginan, di dunia ini masih adakah
seorang suami yang lebih baik dari pada dia?
Baru-baru ini saya menyadari, ada banyak hal
disebabkan karena kita selalu berpikiran negatif, menyusup ke ujung tanduk
(menelusup ke liang buntu), maka keadaan akan mengikuti pergerakan hati,
sehingga merasakan segenap hal (manusia, peristiwa, benda) di sekitar kita
tidak mulus (lancar). Ketika hati pikiran saya berbalik, segala hal yang sangat
tidak baik pun bisa berubah menjadi baik, hal yang baik.
Dulu kelihatan orang tersebut sangat
menjengkelkan, sekarang saya merasa orang itu sangat manis. Mengapa bisa
mengalami perubahan yang begitu besar, karena hati saya telah berubah menjadi
baik, hingga membuat hal yang memalukan menjadi hal yang menyenangkan, hal yang
buruk menjadi hal yang baik.
Pepatah mengatakan : “Hati timbul pikiran
baik, Langit (Tuhan) akan memberkahi keselamatannya”. Orang yang baik dan jujur
paling indah, orang yang baik dan jujur pasti akan mendapatkan perlindungan
dari Langit (Tuhan).
No comments:
Post a Comment