Pria berbadan sehat berusia 37 tahun itu berpostur tinggi besar
dan berotot, tapi keningnya berkerut, dan sorotan matanya kosong tak bercahaya.
Lingkaran hitam terlihat jelas di kantung matanya bak beruang panda, ia
berjalan tanpa semangat hidup.
Ketika pria itu datang berobat langsung mengeluhkan sakit maag
begitu ia terduduk, sakitnya dari depan tembus hingga ke punggung. Rasa sakit
yang berkepanjangan sepanjang hari membuatnya sulit tidur di malam hari.
Setelah genap empat kali terapi, gejala aliran Qi (energi vital)
pada livernya jelas terlihat macet.
Saya bertanya, “Apakah Anda mengalami tekanan berat? Atau
terjadi perubahan besar pada keluarga atau perasaan Anda? Masalah Anda terletak
pada sistem meridian liver, liver mengalami depresi katarsis, sehingga liver
yang berunsur Kayu menekan limpa yang berunsur Tanah. Apakah Anda juga kesulitan
BAB? Juga terkadang merasa sesak di dada? Pada jalur meridian, meridian liver
dan meridian usus kecil adalah dua meridian yang berkaitan luar dan dalam,
perasaan Anda dipahami oleh usus kecil, itu sebabnya ada kiasan sakit hati
ibarat memeras usus.”
Sambil mendengarkan saya, ia menganggukkan kepala, wajahnya yang
tersenyum pahit itu terlihat sangat penuh derita.
Saya mengajarinya untuk menekan titik akupunktur He Gu (lihat
foto), menarik nafas pelan-pelan dan dibatin sampai ke tampat yang terasa sakit
sudah cukup, lalu hembuskan nafas perlahan. Juga harus mengurangi makan bubur,
susu, makanan ringan, makanan dari beras ketan, dan makanan yang dipanggang
atau digoreng.
Seharian ia tidak merasa lapar, tidak bisa makan, juga tidak
bernafsu makan. Penanganan dengan tusuk jarum untuk membetulkan usus dan
menyehatkan lambung, tusuk di titik Shangwan, Zhongwan, Xiawan, Liangmen,
Zusanli, dan Gongsun; untuk meredakan sesak di dada, tusuk pada titik Taichong,
Sanyinjiao, Neiguan, dan Shenmen.
Begitu diterapi tusuk jarum kondisi sakitnya langsung mereda,
tapi tidak seberapa lama lantas kembali pada kondisi semula.
Ia datang lagi berobat, saya bertanya pada dirinya yang telah
saya kenal selama 10 tahun itu, “Apa yang sebenarnya terjadi?
Yang Anda alami ini adalah sakit hati, bukan sakit maag, sakit
maag hanya gejala permukaan saja.”
Ia hendak bicara tapi tertahan, tak terasa kedua matanya
berlinang air mata. Ia menceritakan hal yang telah membuatnya tersiksa. Ia
mengejar istrinya selama 12 tahun baru berhasil menikah, maka ia sangat
menghargai pernikahannya. Kemudian sang istri belajar Qigong (ilmu pernafasan)
dari seorang guru, dan merasa bermanfaat sehingga mengajaknya untuk ikut
berlatih juga, karena sayang pada sang istri ia pun mengikutinya.
Sebelum belajar Qigong ini harus terlebih dahulu melakukan tes
kesehatan pada klinik yang sudah ditentukan, dan setelah membayar biaya
pelajaran, sesuai aturan hanya boleh dipelajari di rumah guru, tidak boleh
berlatih di tempat lain atau berlatih saat tidak ada guru di tempat, juga tidak
boleh mengajarkannya pada orang lain, hanya guru yang boleh mengajarkannya.
Setelah mulai berlatih, ia merasa aliran Qigong ini agak aneh
dan bermaksud mengundurkan diri Begitu kata-kata ini terlontar, ia langsung
dihukum. Istrinya tiga hari tidak boleh pulang, tidak menerima telepon dan
tidak membalas SMS. Dengan terpaksa ia pun kembali menuruti istrinya dan terus
berlatih. Sampai di sini ceritanya, air matanya sudah meleleh, saya
mengambilkan tissue untuknya.
Lalu setelah dipaksakan ikut berlatih lagi selama beberapa saat,
ia merasa pernikahan mereka mulai terganggu, ia kembali berniat mundur, lalu
istrinya menghilang lagi dan kali ini selama tiga minggu. Semua teman
seperguruannya tidak mau berbicara dengannya.
Suatu hari sang istri pulang dengan membawa beberapa saudara
seperguruan dan memukulinya, ia tidak melawan, ia tahu bahwa ini adalah cara
untuk memberi pelajaran pada murid yang membangkang. Kemudian ia pun pergi ke
rumah guru Qigong itu dan berteriak lantang, “Kembalikan istriku!”
Setelah itu ia dikeluarkan dari perguruan dan dipaksa bercerai
dengan istri! Sejak saat itu tidak ada lagi kabar berita tentang istrinya. Tapi
ia terus merasa diperlakukan tidak adil dan marah terpendam, juga masih
berharap istrinya akan kembali padanya. Tiga tahun telah berlalu, tetap tiada
berita.
Bergelut di tengah gejolak dunia fana ini dibutuhkan sedikit
kecerdasan dan keberanian. Setiap kali ia datang berobat saya harus memberinya
sedikit terapi kejiwaan, suatu kali saya berkata, “Drama yang memilukan ini
sepertinya sudah harus diakhiri! Bisa atau tidak orang lain melukai perasaan
Anda, semua itu tergantung diri sendiri. Jika Anda menerimanya, maka Anda akan
terluka. Jika Anda tidak menerimanya, siapa pun tak akan bisa melukai Anda.
Air yang sudah mengalir tidak bisa dikembalikan, jodoh datang
dan pergi. Ikhlaskan istri Anda, juga lepaskan belenggu cinta yang mengekang
Anda itu. Jangan lagi menghukum diri Anda sendiri dengan kesalahan yang
dilakukan oleh orang lain. Hal yang tidak seharusnya, akan diselesaikan oleh
Yang Maha Kuasa.
Dua bulan kemudian maag-nya tidak sakit lagi, ia pun bisa makan
dan tidur, bahkan telah mempunyai seorang pacar baru.
No comments:
Post a Comment