“Anakku,
suatu
saat dirimu akan pergi jauh. Kelak, masih ada perjalanan hidup yang panjang
yang menantikan dirimu untuk dilalui. Ayah berikan padamu tiga patah kalimat
untuk menyertai hidupmu.”
Ayah
Kegembiraan
adalah semacam kebaikan
Anakku,
engkau
haruslah senantiasa bergembira. Ini merupakan kemewahan terakhir bagi kita kaum
miskin, jangan punya kebiasaan membuang
kegembiraan begitu saja, kalau tidak kelak kita akan menjadi semakin miskin.
Engkau
harus senantiasa bergembira, baik pada setiap pagi maupun senja hari. Engkau
harus belajar mendengarkan bahasa dari segala benda dan makhluk yang berada di
dunia ini. Engkau harus mencoba berkomunikasi dengan sungai, gunung, dan bumi
yang berada di dekatmu.
Di
setiap desa yang kau lewati, engkau harus meninggalkan suara tawamu sebagai
kenangan, dengan demikian bertahun-tahun kemudian ketika mereka berbicara
tentang dirimu, mereka juga akan teringat bahwa ketika itu pernah ada seorang
pemuda atau gadis yang riang gembira melewati desa ini.
Gembira
adalah semacam kebaikan. Engkau harus senantiasa membawanya di sampingmu,
memperlakukannya bagai sebuah sapu tangan dari sang kekasih. Tak peduli berapa
pun banyaknya barang bawaanmu, engkau juga jangan membuangnya ke dalam selokan
yang berada di pinggir jalan.
Walaupun
sepatumu telah rusak, kakimu tergores hingga berdarah, engkau juga harus tetap
memegang kegembiraan itu dengan sangat erat, jangan sekali-kali meninggalkannya
walau sedetik pun.
Anakku,
kegembiraan
adalah semacam kebaikan, karena ia bisa ditularkan. Engkau harus menularkan
kegembiraanmu kepada setiap orang yang berada di dekatmu, tak peduli dia adalah
petani yang sedang kelelahan atau turis yang sedang sakit. Tak peduli dia
adalah seorang anak yang tidak memakai sepatu atau seorang ibu yang sedang
murung memikirkan berasnya. Engkau harus menularkan kegembiraanmu itu kepada
mereka semua, jadikan mereka semua bunga segar dengan wajah senyum merekah.
Anakku,
di
setiap desa yang engkau lalui, para penduduk desa akan memperlakukan dirimu
bagaikan sanak keluarganya sendiri, mereka akan memberimu air yang manis,
mengisi tasmu penuh dengan bekal makanan.
Berikanlah
kegembiraanmu itu kepada mereka, ingatlah, kegembiraan adalah semacam kebaikan,
dia bisa membuat dirimu hidup dalam hati orang-orang itu selama bertahun-tahun.
Jangan
berhenti terlalu lama demi sekuntum bunga
Anakku,
dalam
perjalanan yang engkau tempuh, engkau akan menjumpai banyak sekali bunga-bunga
segar yang belum pernah engkau jumpai dipinggir jalan. Bunga-bunga itu berjaga
di pinggir sungai, bernyanyi dan menari tertiup oleh angin lalu.
Anakku,
jangan
mengabaikan mereka, jangan pernah membiarkan mata kita mengabaikan dan
melewatkan suatu keindahan. Engkau harus menikmati gerak tubuh dan suara
nyanyiannya, engkau harus merasakan keindahan hidup ini melalui kehadiran
mereka. Tidak peduli seberapa jauhnya perjalananmu, tidak peduli betapa sulit
dan bahayanya jalanan itu, engkau juga harus berkomunikasi dengan bunga-bunga
itu, walaupun hanya menggunakan waktu-waktu
saat sedang minum air atau mencuci muka.
Jangan
mengabaikan bunga-bunga segar yang tumbuh penuh di pinggir jalan itu. Tetapi
ayah beritahukan kepadamu, ketika engkau sedang terbenam dalam keharuman bunga,
jangan lupa bergegaslah untuk melanjutkan perjalananmu, jangan berhenti terlalu
lama demi sekuntum bunga.
Anakku,
engkau
hanyalah seorang yang kebetulan lewat di sana .
Tujuanmu yang sesungguhnya adalah mengarah di depan sana , perjalananmu masih lama dan panjang.
Sepatumu masih tetap utuh, sepasang matamu masih tetap bersemangat, engkau
adalah milik suatu tempat yang nan jauh di sana , tempatmu bukanlah di sini.
Jangan
berhenti terlalu lama demi sekuntum bunga. Saya yakin dalam perjalananmu ke
depan sana
masih ada puluhan ribu kuntum bunga yang menantikanmu. Engkau harus tahu dengan
jelas kemana dirimu hendak pergi.
Anakku,
sebelum
dirimu sampai di tujuan yang sesungguhnya, janganlah memberhentikan langkahmu
demi sekuntum bunga.
Anakku,
engkau
harus tahu tempat yang hendak kau tuju adalah sangat jauh, itu merupakan tempat
yang benar-benar jauh sekali.
Memberikan
hadiah kepada orang yang pernah membantu kita
Pada
suatu hari nanti, setibanya di tempat tujuan, engkau akan menginjak tanah yang
penuh dengan sinar matahari.
Anakku,
asalkan
dalam tubuhmu mengalir darah panas yang menggelora, asalkan engkau mengacungkan
obor yang berada di tangan mengusir binatang-binatang buas, cepat atau lambat
engkau pasti tiba di tempat yang ingin engkau tuju. Tempat itu adalah suatu
tempat yang jauh, itu adalah sebuah desa kebahagiaan.
Ketika
engkau berkemas-kemas akan pulang, ayah harus memberitahu dirimu, jangan lupa
menyediakan hadiah bagi orang-orang yang pernah membantu dirimu.
Engkau
harus ingat dalam perjalananmu, kau pernah minum air yang disuguhkan oleh orang
lain. Engkau pernah makan makanan yang diantarkan oleh orang lain. Engkau
pernah mendengarkan suara nyanyian dari seorang gadis ataupun alunan seruling
dari seorang pemuda. Engkau pernah menanyakan jalan kepada seorang anak kecil.
Engkau pernah melewatkan malam yang sangat pekat dan panjang di dalam rumah
kecil milik seorang pemburu.
Anakku,
engkau
harus mengingat mereka, mengingat raut wajah dan suara mereka. Sebelum engkau
kembali, engkau harus menyiapkan hadiah bagi mereka.
Engkau
bungkus dengan teliti dan baik beberapa potong kain sutera, beberapa biji batu
yang indah. Engkau harus menyediakan bunga segar untuk gadis itu, engkau harus
menyiapkan tembakau bagi orang yang tua, engkau mengingat anak-anak kecil yang
jenaka itu, hadiah untuk mereka adalah yang paling mudah tetapi juga yang
paling sulit didapat.
Hadiah-hadiah
berikut ini sudah lebih dari cukup bagi mereka. Ceritakan pemandangan yang
pernah engkau lihat dalam perjalanan, ceritakan cerita yang pernah engkau dengar, juga sampaikan ke
mereka pikiran, perasaan dan pengalaman, ceritakan semuanya kepada mereka di
pinggir api unggun.
Memberitahu
kepada mereka yang kekurangan air, tempat dimana mereka dapat memperoleh air
itu. Memberitahukan kepada mereka yang
sakit, tumbuhan apa yang bisa menyembuhkan penyakit. Beritahukanlah pengalaman
perjalananmu ini kepada mereka, beritahukanlah kepada mereka jalan terjal yang
berada di depan sana .
Semuanya
ini merupakan hadiah yang terbaik.
Anakku,
jangan lupa menyediakan hadiah bagi mereka yang
pernah membantu kita, hanya dengan demikian, perjalanan jauhmu baru bisa dikatakan
tidaklah sia-sia.
No comments:
Post a Comment