Di
dalam proses pertumbuhan manusia, seiring dengan umur yang bertambah setiap tahun, suasana hati juga kian rumit.
Kesadaran setelah lahir dan konsep yang telah berubah berangsur-angsur
terbentuk di dalam masyarakat serta terkontaminasi oleh berbagai macam
kebiasaan yang kurang baik, hal tersebut sedikit demi sedikit tanpa terasa
telah merongrong kemurnian dan kebaikan pembawaan kita sejak lahir. Masa
kanak-kanak yang bagaikan emas itu telah berlalu menjadi kenangan, sifat
kepolosan bagaikan air dari kanak-kanak itu juga sirna bersama.
Hari
demi hari, tahun demi tahun, waktu berlalu bagaikan air yang sedang mengalir,
jika tidak ada jodoh dengan kultivasi, orang tidak akan mengenal arti
sesungguhnya dari kehidupan, maka seiring dengan waktu, kemurnian dan ketulusan
dari manusia itu akan hilang untuk selama-lamanya.
Masyarakat
orang awam kebanyakan terganggu oleh nama dan keuntungan, merasa cemas akan
untung rugi pribadi, sibuk setiap hari, kian hari kian apatis, berangsur-angsur
mengikis habis ketulusan dan kemurnian yang pada awalnya eksis itu.
Kebanyakan
orang sibuk dengan membabi buta di dalam ketidak-mengertian, tak henti-hentinya
mencari kebahagiaan kian kemari, tetapi justru telah memandang hambar dan
melupakan ketulusan dan kemurnian hati yang pernah dimiliki, melupakan bahwa
memiliki hati tulus dan murni yang sederhana merupakan suatu hal yang paling
menggembirakan.
Teringat
semasa kecil dulu, ada seorang anak gadis cilik yang merupakan anak tunggal
tetangga saya. Setiap hari ia berjalan kaki pergi ke sekolah. Pada suatu pagi
hari cuaca kurang baik, awan berangsur-angsur menjadi tebal, hingga sore hari
ketika pulang sekolah angin mulai bertiup kencang, tak lama kemudian muncul
petir dan suara halilintar di atas angkasa, kelihatannya segera akan turun
hujan lebat.
Ibu
gadis itu sangat khawatir anak gadisnya menjadi ketakutan karena gelegar petir,
bahkan khawatir anaknya akan tersambar petir, maka dia bergegas membawa payung
dan jas hujan menelusuri jalanan yang setiap hari dilalui oleh anak gadisnya ke
sekolah untuk mencari anaknya.
Ketika
ibu yang penuh kecemasan ini menjumpai anak gadisnya, ia melihat anak gadis itu
berekspresi tenang-tenang, dengan sangat santai berjalan di jalanan. Dan setiap
kali ketika muncul kilatan di atas langit, gadis kecil itu akan menghentikan
langkah kaki, mengangkat kepala menengok ke atas langit serta menampilkan
senyuman.
Ibu
tersebut melihat pemandangan ini menjadi sangat heran sekali, tak tertahankan
dia memanggil anak gadisnya dan bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?”.
Dengan bersungguh-sungguh gadis kecil itu menjawab, “Tadi langit hendak
memotret diriku, maka saya harus menampilkan senyuman!”
Setelah
pulang sampai di rumah, ibu tersebut dengan sangat serius berkata pada anak
gadisnya itu, “Keadaan seperti tadi itu sangatlah berbahaya, lain kali
kesempatan jika kamu menjumpai petir dan halilintar lagi, kamu harus segera
berlari pulang ke rumah”.
Dengan
nada tidak terima, anak gadis itu menjawab, “Nenek pernah bertutur kepada saya,
petir dan halilintar hanya menyambar orang-orang jahat, bukan orang yang baik.
Saya adalah orang baik, saya tidak takut. Orang jahatlah yang seharusnya takut!
Mengapa saya harus seperti orang dewasa bergegas-gegas pulang ke rumah? Saya
bisa berjalan ke rumah dengan santai”.
Dari
sini terlihat nyata sekali, hati anak gadis kecil ini polos bagaikan air, oleh
karena kesederhanaan dan keelokan ini, maka dia hidup jauh lebih gembira dan
santai jika dibandingkan dengan ibunya.
Jika
dipikir secara teliti, bagi orang yang benar-benar jahat walaupun berlari
sangat kencang pun, dia tidak akan bisa menghindari hukuman tersambar oleh
petir, karena orang baik berhati murni, mengapa dia tidak boleh berjalan santai
pulang ke rumah?
Kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu sungguh
sangat beralasan sekali! Seseorang jika benar bisa mempertahankan kesederhanaan
dan kemurnian alami, maka dapat dipastikan bahwa kehidupannya akan sangat
gembira dan santai, jauh dari segala kerisauan!
No comments:
Post a Comment