Saya
duduk di samping Paul, tanpa bersuara mendengarkan dia yang sedang mencurahkan
kemarahan, kebencian dan kebutuhannya. Setelah proses curhat dan mendengarkan
ini selesai, maka kesengsaraan yang berada diantara kami berdua sepertinya
telah menguap pergi, ini benar-benar merupakan awal yang baru.
Ketika
saya menghampiri kotak surat
yang berada di luar rumah, beberapa tetes air hujan jatuh di atas wajah saya,
juga jatuh ke dalam hati saya.
Pagi
hari ini baru saja bangun dari tempat tidur, saya sudah mengalami terpaan
badai, badai tersebut berawal dari pertengkaran dengan anak saya Paul. Dia
ingin mengenakan kaus olaraga lama yang sudah pudar warnanya pergi ke sekolah,
tetapi saya ingin dia mengenakan pakaian mahal pemberian neneknya. Di atas saku
pakaian itu terbordir huruf “P” , inisial
namanya, sambil menunjuk huruf itu, saya katakan, “Tidak semua
pakaian orang dapat tertera huruf depan
namanya sendiri.”
Dengan
tidak rela dia memandang ke atas langit-langit rumah sambil berkata, “Ma, jaman
sekarang tidak ada orang yang memakai pakaian dengan bordiran huruf depan
namanya!”
Dengan
sangat cepat kita berdua lalu terlibat dalam pertengkaran, kami berdua
sama-sama mengeluarkan kata-kata yang melewati batas, akhirnya dengan tidak
rela dia mengenakan pakaian itu.
Ketika
dia mengambil buku, saya menjulurkan tangan untuk memberinya sebuah rangkulan,
tetapi dia menghindar dengan mundur satu langkah. Sebenarnya, semenjak Paul
memasuki masa puber, dari awal hingga akhir saya tidak tahu harus bagaimana
menghadapinya.
Dia
adalah seorang anak yang baik, tetapi belakangan dia selalu meragukan setiap
kata yang saya ucapkan, sepertinya sedang dengan sengaja menguji kesabaran
saya. Setelah mengalami begitu banyak perseteruan dan pertengkaran, saya sudah
siap-siap mengangkat tangan untuk menyerah.
Sambil
menghela nafas saya berjalan menuju ke kotak surat , kelihatannya dia juga sama seperti
saya yang kenyang dengan kegagalan. Kotak surat
itu pernah ditabrak oleh mobil, hingga penyanggahnya bengkok, dan pintu kotak
tidak bisa ditutup.
Saya
menjulurkan tangan ke dalam kotak, kecuali setumpuk surat , saya masih meraba setumpuk benda aneh.
Melongok ke dalam kotak, saya melihat ternyata di bawah surat-surat itu masih
terdapat setumpuk rumput dan daun tusam yang berbentuk seperti jarum. Saya
kira, pasti ada orang yang sedang mengerjai, maka sambil lalu benda-benda itu
saya bersihkan.
Sore
hari setiap pulang dari sekolah, Paul selalu bagaikan angin, yang akan
menyelinap masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi. “Bagaimana sekolah
hari ini?” saya berkata sambil mengikuti dirinya dari belakang, sebisanya
berpura-pura lupa akan pertengkaran diantara kami pagi tadi.
“Lumayan”
sambil berkata dia melepaskan pakaian, lalu dilemparkan ke bawah kaki saya
bagaikan sedang menantang, kemudian dia membalik pakaian-pakaian yang ada dalam
lemari mencari kaus olahraganya.
Saya
membalikkan badan bermaksud meninggalkan dia pergi, tetapi masih menengok ke
belakang sambil berkata, “Daun tusam yang ada di dalam kotak surat apakah kamu yang meletakkannya?” Dia
memandang saya dengan pandangan tidak mengerti, “Apa Ma?”
“Oh,
tidak apa-apa” sahut saya.
Keesokan
harinya saya memeriksa lagi kotak surat
itu, di dalamnya ada beberapa daun tusam, ranting pohon yang kecil-kecil dan
dua helai rumput yang sudah kering. Setiap hari saya selalu menemukan setumpuk
rumput-rumputan yang serupa di dalam kotak surat , dan setiap hari pula akan saya
keluarkan sejumlah rerumputan itu.
Saya
tidak membicarakan hal ini lagi kepada Paul, sebenarnya saya sudah tidak
mendiskusikan masalah apa pun juga dengan dirinya. Setiap kali terjadi
bentrokan, saya akan meninggalkan kamar atau mengalihkan topik pembicaraan.
Akhir
pekan lalu, ketika saya sedang membaca koran di ruang baca, Paul masuk dan
bertanya, “Ma, bolehkah saya pergi nonton bioskop?” Saya membalik halaman koran
yang memuat iklan bioskop, film yang akan ditonton itu termasuk katagori PG-13,
artinya anak yang berumur di bawah 13 tahun harus didampingi oleh orang tuanya
untuk menonton.
Saya
memandang ke arah anak saya yang baru saja genap 13 tahun, berkata, “Tidak,
untuk film ini tidak boleh.”
“Apakah
tidak ada kemungkinan untuk kita bicarakan lagi?” Dia memohon.
“Tidak
ada yang perlu dibicarakan lagi” Saya berkata, “Jika dilanjutkan maka niscaya
akan berakhir dengan pertengkaran.”
“Ma,
mama tidak memahami saya” Dia menangis, “Mama bahkan tidak pernah mau mencoba
untuk memahami saya!”
Seperti
biasa, pagi itu saya pergi mengambil surat ; di
dalam kotak surat
masih ada setumpuk benda yang kacau balau, sungguh membuat orang emosi. Saya
menjulurkan tangan untuk mengambil benda-benda di dalam kotak pos. Diantara
rerumputan dan ranting-ranting pohon, saya mendapatkan suatu benda bulat kecil,
yang ternyata adalah sebutir telur burung.
Dari
atas pohon yang tumbuh di dekat kotak pos terdengar suara kicauan burung, saya
menengok ke arah datangnya suara, di sana
terlihat seekor induk burung sedang berada di atas dahan, dengan mulut sedang
menggigit daun tusam. Oh, ternyata dialah yang setiap hari membangun sarang di
dalam kotak surat
yang sudah rusak itu. Setiap kali begitu mendapatkan bahwa jerih payahnya telah
rusak, dia tidak putus asa, dan akan selalu membangun kembali dengan
keterikatan. Mau tidak mau saya jadi teringat akan ucapan Paul, “Mama bahkan
tidak pernah mau untuk mencoba!”
Anak
saya sedang duduk di depan meja belajar, memutar-mutar bola dunia tanpa tujuan.
“Hai,” saya menyapanya.
Dia
mengangkat kepala memandang ke arah saya, dalam sekejab dari sosok pria kecil
yang mudah terluka ini, saya seakan-akan melihat seorang pemuda yang segera
akan terbentuk. “Apakah engkau ingin berbicara sesuatu?” Saya menanyainya,
“Mama pasti akan mendengarkannya dengan seksama.” lanjutku lagi.
Saya
duduk di samping Paul, dengan tanpa bersuara mendengarkan dia yang sedang
mencurahkan kemarahan, kebencian dan kebutuhannya. Setelah proses curhat dan
mendengarkan ini selesai, maka kesengsaraan yang berada diantara kami berdua
sepertinya telah menguap pergi, ini benar-benar merupakan awal yang baru.
Dari
dalam lubuk hati yang terdalam, saya benar-benar berterima kasih kepada induk
burung yang demi cinta kasih telah berjuang tanpa kenal menyerah. Saya kemudian
menuliskan satu pengumuman di atas
secarik kertas dan menempelkannya pada kotak surat itu, bunyinya demikian, “Pak Pos yang
baik, seekor burung telah membuat sarang di sini. Sebelum telur burung ini
menetas dan burung itu terbang pergi, bolehkah meminta Anda untuk meletakkan
surat-surat yang ada di depan pintu rumah?”
Tak lama, di dalam kotak surat
bertambah lagi 3 ekor burung kecil, setiap hari induk burung akan berdiri di
atas kotak surat
sambil bernyanyi. Nyanyiannya sangat merdu, penuh dengan rasa ikatan cinta yang
tak akan dilepas untuk selamanya
No comments:
Post a Comment