Setelah lulus sekolah tanpa hambatan apa pun
saya mulai bekerja di sebuah perusahaan dengan posisi yang stabil. Pribadi yang
ramah dan humoris membuat banyak rekan kerja yang berebut untuk menjodohkan
saya. Mereka sering bertanya, perempuan seperti apa yang menjadi idaman saya.
Saya sering memperhatikan sesama rekan kerja
di kantor. Wajah mereka terlihat cantik dengan dandanan yang sesuai, bertubuh
langsing, bertutur kata sopan, mereka seharusnya merupakan perempuan idaman
bagi kaum adam! Tapi saya tidak memiliki perasaan yang khusus terhadap mereka.
Bukan karena tidak menyukai perempuan cantik, tapi saya lebih menyukai
seseorang yang dapat membuat saya merasa nyaman, dan menjadi diri sendiri,
seperti adik tetangga saya yang polos dan lugu.
Perempuan idaman saya tidak harus cantik dan
berkulit putih mulus, juga tidak harus memiliki tubuh sempurna bak model. Namun
saya tetap berharap dia memiliki suara yang merdu, tawa yang ceria,
berkepribadian mandiri, ditambah dengan hati yang lembut dan rendah hati.
Mungkin dia akan kebingungan dalam mengenali
jalan, mungkin dia tidak cerdik dalam
menghadapi berbagai konflik, tetapi saya berharap dia dapat memahami orang lain
dan suka menolong. Mungkin ia tidak begitu tanggap akan dunia mode, tidak
begitu modis, juga tidak pandai berdandan, tapi semua itu tidak penting, karena
saya lebih berharap, dia tetap memiliki sifat baik dan jujur. Meskipun dia
tidak dapat melakukan segala hal dengan baik, tapi terkadang, suatu kesalahan
yang tidak berarti akan membuat saya merasa dia adalah seseorang yang dapat
membuat saya tersentuh dan ingin
melin-dunginya.
Saat saya melihat banyak perempuan yang ingin
memiliki suami dengan penghasilan tinggi, saya berharap kelak perempuan idaman
saya dapat memahami bahwa nilai-nilai diri saya yang sesungguhnya bukan terletak
pada gaji saya. Tentu dia memahami pentingnya uang, tapi dia akan lebih
memahami arti penting kehidupan.
Jika suatu hari saya melepaskan pekerjaan
bergaji tinggi demi mengejar idealisme saya, saya berharap dia dapat memberikan
dukungan penuh pada saya dan bergandengan tangan menapaki hidup yang saya
inginkan, dan bukan memperlakukan saya sebagai mesin pengumpul uang.
Tentu saja, mungkin saya akan mengalami suatu
masalah dalam hidup. Saya berharap dia
akan lebih memahami saya daripada siapa pun. Tidak perlu mempertanyakan dan
tidak perlu mengkhawatirkan saya.
Saya berharap ia akan memeluk saya dengan
hangat dan segala kelembutannya, saya ingin dia memberikan semangat agar saya
dapat mengatasi setiap masalah. Di saat bahagia, dia rendah hati dan tidak
manja, di saat susah, dia tidak meninggalkan saya. Meskipun tidak ada pesta
pernikahan yang mewah dan cincin berlian, dia tetap rela menemani dan
menggengam tangan saya.
Begitu banyak persyaratan yang mungkin
terdengar menakutkan tentang perempuan di dunia. Namun saya tidak akan
menyerah, saya yakin suatu hari nanti saya pasti akan menemukan seseorang
seperti harapan saya.
No comments:
Post a Comment