Ada seorang anak muda yang mengeluh sering
tidak bertemu dengan ayahnya. Sejak
kecil, ia sudah jarang mendapatkan pelukan dari ayahnya, saat tumbuh
dewasa juga jarang melihat sosok ayahnya. Yang dia miliki hanyalah materi yang
tak terhitung jumlahnya. Dia sama sekali tidak punya kesan terhadap ayahnya!
Seorang gadis belia merasa sangat jemu
terhadap ibunya yang sering kali mengomel. Sejak kecil sudah mulai diomeli,
setelah dewasa segala hal juga diurusi, semua hal seperti sekolah, pekerjaan
rumah, dan berteman selalu diomeli. Sehingga kesannya terhadap sang ibu hanya
sosok yang tiada henti mengomel.
Sepasang suami isteri pada mulanya tidak
mengerti kehendak anak mereka. Tidak memahami mengapa anak mereka itu bisa
bertingkah laku aneh, selalu mencari masalah, baik kecil maupun besar tidak
pernah berhenti. Diberi nasihat pun tidak pernah dihiraukan, selalu
berseberangan dengan orang tua. Apakah anak itu tidak mengerti bahwa orang
tuanya telah bersusah payah mencari nafkah demi memberikan mereka kehidupan
yang tenteram? Orang tua mulai kehilangan kepercayaan terhadap anak mereka,
kesan yang diberikan hanyalah anak bandel, tidak mau mendengarkan nasihat serta
selalu menciptakan masalah!
Sepasang kekasih mulai bertengkar. Si pria
mulai mencurigai kekasihnya tidak setia, sedangkan si perempuan marah karena
tidak mempercayai dirinya. Sehingga setiap kali berjumpa, akan menjadi arena
pertengkaran. Karena kesal hati, mereka
mulai melakukan hal-hal yang semakin membuat kemarahan pasangannya.
Percintaan mereka mulai dirasakan hanya indah diawalnya saja!
Cinta kasih itu apa? Harus bagaimana bisa
mengerti? Bagaimana mengasihi? Siang malam susah payah mencari uang demi
memberikan anak-anaknya kehidupan yang berkecukupan dan segala materi yang
mereka butuhkan. Tidak bisa diungkapkan melalui perkataan hanya bisa ditunjukkan
melalui tindakan, inilah kasih dari seorang ayah.
Terus mengkhawatirkan anak-anaknya sejak
kecil. Diperingatkan dan diperhatikan terus-menerus, berubah menjadi bahasa
percakapan yang diucapkan setiap hari. Inilah kasih seorang ibu.
Manifestasi yang semaunya sendiri, setiap kali
menimbulkan masalah, tidak peduli dimarahi atau dipukuli, kian hari kian
bertolak belakang dengan nasihat orang tua, sehingga membuat orang tua yang
tidak ada waktu mengurusi anak-anaknya itu kian sakit kepala. Ini adalah kasih
yang dimanifestasikan anak-anak. Mereka akan melakukan hal-hal yang bisa
menarik perhatian Anda, saya membutuhkan perhatian kalian yang benar-benar
tulus, bukan perhatian yang berlandaskan uang.
Agar lebih memahami pemikiran dari pihak pria,
serta agar pihak perempuan itu bisa lebih perhatian kepada dirinya saja, pihak
pria dan perempuan mulai saling bertengkar. Ini adalah cinta kasih mereka.
Karena mencintai Anda maka ia jadi lebih perhatian kepada Anda, oleh karena
mencintai Anda maka ia baru melakukan hal-hal yang kian membuat Anda marah!
Lantas apa yang disebut cinta sejati?
Cinta yang tanpa pamrih di dunia ini tidak ada
yang lebih dari pada cinta kasih seorang ibu, dan cinta yang paling bisa
membuat manusia menjadi rela sehidup semati adalah cinta kasih sepasang
kekasih. Mencintai dan dicintai seseorang semuanya mempunyai pergerakan hati
secara relatif. Tetapi bagaimana baru bisa terhitung sebagai cinta sejati?
Cinta dari masyarakat timur selalu sulit
diungkapkan, kebanyakan mereka menyatakan rasa cinta kasih mereka melalui
tindakan. Cinta dari masyarakat Barat selalu tergantung di bibir, selalu
mengingatkan Anda.
Ada perkataan, “Empat unsur yang membentuk
cinta: perhatian, tanggung jawab, saling menghormati, saling memahami.” Cinta
itu bagaikan sebidang ilmu, juga seperti sebuah mata pelajaran, ingin mencintai
seseorang pertama-tama Anda harus memahami lebih dulu, cinta itu apa?
Mencintai seseorang itu, harus lebih dulu
mempercayai orang yang Anda cintai itu. Karena cinta itu tanpa syarat juga
tidak ada bayaran. Persis seperti cinta kasih ayah dan ibu, adalah tidak
menuntut balas, tetapi cinta kasih sepasang kekasih yang bersumpah sehidup
semati, jika ingin saling mencintai sepanjang masa bukankah harus mempunyai
dasar yang stabil?
Cinta itu harus saling menghormati. Karena
cinta itu berasal dari saling percaya, melindungi, perhatian dan bisa menerima.
Ketika Anda benar-benar mulai merasakan hati tergerak, serta memperhatikan
gerak gerik orang yang membuat hati Anda tergerak itu, maka tindakan Anda sudah
mulai mengandung kadar cinta di dalamnya. Tetapi mencintai seseorang itu bukan
hendak memiliki keseluruhan orang itu, melainkan bisa lebih mempertimbangkan
dari sudut pandang dan perasaannya, serta bisa menyuarakan pada saat yang
tepat.
Jika hanya ingin memiliki orang lain dan tidak
mempedulikan segalanya, ini namanya cinta yang egois. Bila hanya untuk bisa
hidup bersama dan tanpa mempedulikan segalanya, ini namanya cinta dengan
semaunya sendiri. Saat menghadapi cobaan, bila memilih meninggalkan kekasih, cinta
demikian ini bukan cinta sejati. Saat menghadapi tekanan, bila menghindar dan
meninggalkan kekasih untuk pergi, ini bukan cinta sejati. Bila dapat demi
cita-cita dan kebahagiaan orang lain, dan menahan hati cinta kasih diri
sendiri, ini adalah pengorbanan cinta.
Bila demi kebahagiaan bersama di masa yang
akan datang, menahan perasaan hati karena tidak bisa bersama, ini adalah cinta
kasih tanpa pamrih. Dalam mencintai seseorang, bila sejak awal bisa menghormati
pihak lawan itulah permulaan dari cinta. Dalam mencintai seseorang, bila sejak awal bisa
mempercayai pihak lawan, itulah manifestasi dari cinta. Bila dapat memahami
perasaan pihak lawan, dengan berpijak atas dasar pemikiran pihak lain, itulah
yang disebut benar-benar mengerti bagaimana mencintai!
Tidak diragukan lagi bahwa cinta kasih itu
akan membuat seseorang menjadi baik, cinta kasih itu mempunyai kekuatan menuju
ke atas serta mendapatkan kegembiraan. Tetapi mencintai atau dicintai itu
sama-sama merupakan suatu pembelajaran, karena cinta itu adalah subyektif.
Ketika seseorang sudah memutuskan hatinya diberikan kepada seseorang,
berpendapat bahwa pihak lawan sudah bisa seia-sekata dengan dirinya, maka Anda
harus benar-benar memahami makna yang hakiki dari cinta!
Sebab bila Anda ingin benar-benar “mencintai”,
bukan hanya menuntut balasan saja, tetapi harus ada pengorbanan dan tekad
mengambil keputusan.
No comments:
Post a Comment