Jantung saya rasanya
berhenti. Wajah sudah pasti pucat pasi. Terutama ketika motor yang saya
tumpangi menuruni jalan terjal berbatuan. Di kanan tebing, di kiri jurang yang
cukup dalam.
Tinggal menunggu, ban sepeda motor tua itu terpeleset
oleh bebatuan yang licin, maka nama saya tinggal kenangan. Sepanjang jalan saya
hanya berdoa semoga Tuhan melindungi saya dan tim Kick Andy yang saat
itu sedang menuju ke Dusun Ciseel, Kecamatan Sobang, Lebak, Banten. Doa saya
semakin kencang manakala jalanan menukik atau menanjak tajam.
Untuk mencapai desa di kaki Gunung Halimun itu, hanya
dapat ditempuh dengan jalan kaki atau menumpang kendaraan beroda dua. Jalanan
menuju dusun tersebut terlalu sempit untuk dilalui kendaraan roda empat.
Bahkan di beberapa bagian, lebar jalan hanya cukup untuk dilalui satu sepeda
motor. Belum lagi di beberapa ruas jalanannya hanya tanah liat yang becek dan
licin jika hujan. Beberapa kali sepeda motor yang saya tumpangi harus
berakrobat agar tidak terpeleset atau terpaksa berhenti karena rodanya
tertancap di lumpur.
Penduduk Ciseel tidak lebih dari 150 Kepala Keluarga. Ada sekitar 96 rumah di
desa yang terpencil dan terisolasi itu. Dari sekian rumah tadi, hanya dua rumah
yang sudah dialiri listrik. Di sanalah para penduduk berkumpul untuk menonton
televisi jika malam tiba. Berdesak-desakan di ruang tamu yang sempit.
Pemandangan yang sungguh ironis jika dibandingkan dengan kondisi di kota-kota.
Perjalanan ke Dusun Ciseel yang terjal dan licin itu
rata-rata ditempuh dalam waktu 20 menit dari batas akhir jalanan yang dapat
diakses kendaraan roda empat. Tetapi selama 20 menit itulah pertarungan “hidup
dan mati” berlangsung. Situasi yang terburuk bisa saja terjadi dalam kurun
waktu itu.
Saya mungkin berlebihan menggambarkan kondisi jalanan
dan perjuangan menuju Dusun Ciseel. Sebab pertarungan hidup dan mati yang saya
lukiskan tadi harus dijalani masyarakat di sana setiap hari jika mereka hendak keluar
dari dusun. Pilihan lain: jalan kaki berjam-jam menuju Desa Ciminyak, Kecamatan
Muncang, kota
kecamatan terdekat.
Namun perjuangan berat dalam perjalanan menjadi tidak
sia-sia manakala saya dan tim Kick Andy bertemu Ubaidilah Mukhtar,
seorang guru SMP di desa itu. Kang Ubay, begitu pemuda berusia 32 tahun ini
biasa disapa, sudah tiga tahun bertugas sebagai guru PNS di dusun ini. Tetapi,
dalam kurun waktu tersebut, dia berhasil membawa perubahan bagi anak-anak dusun
kecil itu.
Setelah lulus tes masuk untuk menjadi guru dengan
status pegawai negeri sipil, Kang Ubay ditugaskan untuk mengajar di sebuah SMP
di Dusun Ciseel. Sebagai warga Depok, yang sudah terbiasa dengan aktivitas di
malam hari dengan penerangan lampu 24 jam, Ubay sempat risau dengan
penugasannya di tempat yang gelap gulita jika malam itu.
Namun kuatnya panggilan dalam hatinya untuk mengabdi
pada penduduk di dusun itu, maka Ubay mulai merintis sebuah taman baca yang
sederhana. Taman baca itu menempati ruang tamu tempat dia mengontrak di sana .
Dari ruang sempit itulah perubahan mulai dicanangkan.
Dengan bantuan teman-temannya, dan juga gaji yang dia sisihkan, Ubay mulai
mengumpulkan buku-buku. Tapi yang membedakan taman baca Multatuli yang
dia dirikan itu dengan taman baca lainnya adalah, di taman baca ini kita bisa
menjumpai buku Max Havelaar karya Multatuli dalam beragam bahasa. Mulai
dari bahasa Indonesia ,
Sunda, Belanda, Prancis, sampai yang berbahasa Jerman.
“Saya ingin tunjukkan kepada anak-anak di sini bahwa
buku Max Havelaar yang ceritanya mengambil latar belakang daerah Lebak,
Banten, dan sekitarnya itu sudah menjadi kisah yang mendunia,” ujar Ubay.
“Supaya anak-anak bangga pada daerah asal mereka ini,” dia menambahkan.
Multatuli memang nama samaran yang dipakai oleh Eduard
Douwes Dekker, lelaki keturunan Belanda, saat menuliskan kisah tersebut. Eduard
Douwes Dekker pernah menjadi Asisten Residen di Karesidenen Lebak, Banten pada
masa kolonial Belanda. Kondisi masyarakat Lebak yang memprihatinkan akibat
kesewenang-wenangan para pengusaha kopi dan bupati yang dilindungi Residen
Belanda mendorong Multatuli untuk membelanya. Hal ini dilakukan dengan
menuangkan pikiran dan cara pandangnya dalam buku Max Havelaar. Dengan gaya tulisan yang
satiris, Multatuli yang artinya–saya banyak menderita--menceritakan
budaya berdagang Belanda saat itu yang hanya mencari untung di satu sisi.
Namun, di lain pihak sangat menggurui. Multatuli menggugat pejabat kolonial
yang korup dan memuji mereka yang berusaha mendobrak ketimpangan tersebut.
Namun lebih dari sekadar kebanggaan, pesan moral dalam
buku itulah yang sebenarnya ingin disampaikan Kang Ubay kepada anak-anak di
Dusun Ciseel. “Buku ini sarat dengan pesan moral. Pertama, bahwa siapa saja
tidak boleh merampas hak orang lain. Kedua, soal kejujuran,” Ubay menegaskan.
Dalam konteks kondisi bangsa kita saat ini yang sedang dilanda badai korupsi,
pesan itu terasa sangat kuat dan mengena.
Apa yang dilakukan Ubay terkesan sederhana. Dalam
kegiatan taman baca Multatuli, anak-anak di dusun itu diajak ke sawah
atau ke sungai. Di sana
mereka melakukan kegiatan reading group. Secara bergiliran masing-masing
anak diminta untuk membacakan halaman demi halaman—dengan suara keras–buku Max
Havelaar. Pada saat seorang anak mendapat giliran, maka yang lain menyimak
dengan serius.
“Sudah puluhan kali buku ini kami baca berulang-ulang.
Dengan begitu anak-anak akan semakin mampu menangkap pesan yang ingin
disampaikan melalui kisah Max Havelaar,” tutur Ubay.
Tidak berhenti di situ, untuk semakin menangkap pesan
moral tadi dalam kehidupan nyata, karya-karya di dalam buku mereka pentaskan
menjadi drama kehidupan yang seakan nyata. Anak-anak diminta menghayati
kisah-kisah di buku itu melalui pementasan drama.
Saya beruntung bisa menyaksikan anak-anak komunitas
Multatuli mementaskan drama Saijah dan Adinda, salah satu bab dalam buku
Max Havelaar. Ini kisah yang sarat pesan moral yang dibungkus romantisme jaman
penjajahan. Bagi Anda yang belum pernah membaca karya sastra yang menarik ini,
tidak ada salahnya untuk membacanya.
Anak-anak desa memainkan lakon tersebut di lapangan
dekat sekolah. Bahkan, untuk menjadikan karya tersebut lebih hidup, mereka
menggunakan kerbau sungguhan sebagai pendukung. Akting mereka sederhana dan
kerap menimbulkan tawa bagi para penonton yang terdiri dari anak-anak dan
ibu-ibu di dusun itu.
Apa yang saya saksikan di Dusun Ciseel ini memperkaya
batin saya. Sebagai “orang Jakarta” yang setiap hari dijejali berita-berita negatif
tentang korupsi yang kian menjadi-jadi, bentrok antarwarga, kejahatan yang
semakin sadis, perkelahian antar-mahasiswa dan pelajar, perkosaan, konflik
antar elite, penggunaan dan perdagangan narkoba yang merajalela, dan ribuan
berita-berita negatif lainnya. Apa yang saya saksikan di Dusun Ciseel adalah
oase yang membangkitkan rasa optimistis.
Justru dari sebuah dusun terpencil ini saya
mendapatkan energi positif yang luar biasa. Berkenalan dengan Kang Ubay
membangkitkan keyakinan bahwa bangsa ini masih punya harapan.
Saya beruntung karena
dengan menjadi pembawa acara Kick Andy dan Kick Andy HOPE, saya
bisa bertemu orang-orang semacam Kang Ubay. Orang-orang yang dalam keterbatasan
mereka berbuat sesuatu bagi masyarakat di lingkungannya. Mereka inilah pahlawan-pahlawan
yang sebenarnya. Pahlawan-pahlawan yang berkarya dalam diam. Pahlawan-pahlawan
yang bekerja dalam sunyi. Merekalah pahlawan-pahlawan sejati.
Sudah tanggal 16 ni, artikel terakhir masih tanggal 6. Saya mengikuti setiap hari..
ReplyDelete