Bukankah
bertamasya itu sangat menyenangkan? Mengapa bisa bertengkar?
Suatu
ketika saya bersama sanak keluarga mengadakan perjalanan wisata ke pegunungan
Rocky, Kanada.
Sebelum
perjalanan ini berakhir, seorang pemandu wisata datang mendekati saya dan
berkata, “Sungguh kagum kepada Anda, saya telah memandu banyak sekali rombongan
tur, sangat jarang sekali melihat sepasang suami-istri tidak bertengkar dalam
perjalanan tur.”
Ketika
itu saya menjadi sangat heran, dalam hati saya berpikir, “Pergi bertamasya
bukankah seharusnya bergembira? Mengapa harus bertengkar?”
Belakangan
setelah saya pikir lebih dalam, saya kira perkataan dari pemandu itu sebenarnya
sangat beralasan.
Saya
teringat kepada sepasang teman baik saya, mereka berdua pergi bertamasya ke
Eropa dengan biaya sendiri. Sekembalinya dari Eropa mereka berpisah dalam
keadaan yang tidak menyenangkan, mereka berdua saling mencela dengan
menyebutkan satu persatu kesalahan pihak yang lain. Masing-masing merasa pihak
lain yang lebih bersalah.
Jalinan
persahabatan selama puluhan tahun, hampir saja kandas hanya karena sekali
perjalanan tamasya. Kedua teman baikku ini sempat perang dingin dalam waktu
yang sangat panjang, menunggu emosi mereka berdua reda, baru mereka menjalin
hubungan baik seperti sediakala.
Menurut
teman saya, hal itu sudah biasa demikian, apalagi jika itu adalah sepasang
suami-istri! Benar-benar terbukti oleh kata, “Menjalin kasih sangat mudah,
hidup bersama itu sulit.”
Mungkin
Anda sering mendengar orang berkata, sepasang kekasih yang mabuk dalam cinta,
segera sesudah mereka menikah, pertengkaran di tahun pertama paling hebat.
Menurut aturan, pengantin baru seharusnya mesra dan lengket seperti lem,
bagaimana mungkin bertengkar terus-menerus? Tetapi ketika Anda menjadi suami
orang, atau Anda menjadi istri orang, Anda baru akan menyadari bahwa perkataan
ini tidak salah.
Kehidupan
dalam perkawinan sangat realistis dan harus menyesuaikan kebiasaan kedua belah
pihak yang punya latar belakang berbeda. Seperti tutup kloset perlu diangkat
atau tidak, bagaimana harus memencet pasta gigi, sehabis mandi lantai boleh
menjadi basah atau tidak……
Kesemua
hal-hal sepele ini bisa menjadi sebab terjadinya pertengkaran yang bila tidak
diikuti oleh salah satu pihak untuk mengalah, maka akhirnya bisa meruncing ke
perceraian.
Menonton
TV juga menjadi persoalan besar. Istri senang menonton film seri pada jam
delapan malam, sedangkan suami ingin melihat berita.
Suami
yang telah berjuang seharian di luar, merasakan dirinya lebih mempunyai hak
prioritas dari pada siapapun juga. Istri yang berada di rumah juga tidak
menganggur, cuci pakaian, membersihkan lantai, memasak nasi, mengasuh anak dan
lain-lain, dengan susah payah menunggu malam hari baru bisa menuangkan perasaan
di dalam film sinetron, tetapi masih harus melihat air muka sang suami…. siapa
yang lebih berhak, siapapun bisa merasakan dipersalahkan.
Kalau
begitu adakah cara penyelesaiannya untuk
persoalan-persoalan di atas? Tentu saja ada, yaitu menggunakan kecerdasan
dengan cara mundur selangkah demi maju. Akan tetapi mudah mengatakan sulit
dilakukan, lalu bagaimana baru bisa melakukan? Sebenarnya ingin melakukan
kecerdasan ini juga tidak sulit, kunci suksesnya adalah memikirkan orang lain
lebih dahulu.
Teman
karib saya Yuni, didalam hidup perkawinannya adalah seorang pengatur yang
handal.
Pinggang
suaminya itu kurang baik, kesulitan untuk membungkuk. Sudah menjadi suatu
kebiasaan bagi Yuni yang sangat perhatian, setiap kali dia selesai membuang air
besar, pasti tutup kloset sekalian diangkat. Tindakan ini boleh dikatakan
dilakukannya demi suaminya, agak tidak perlu membungkuk dulu bila hendak buang
air. Walaupun hanya gerakan yang sepele, tetapi penuh dengan rasa perhatian.
Yuni
senang melihat saluran televisi yang menyiarkan Discovery, pagi hari jika ada
waktu senggang, dia akan menyalakan TV untuk menonton sebentar. Malam hari
ketika suaminya pulang dari kantor, dia tidak pernah berebut hak untuk menonton
TV dengan suaminya. Selalu menyerahkan hak itu dengan tanpa syarat kepada
suaminya. Jika agak malam suaminya berada di ruang baca, maka TV itu secara
wajar menjadi miliknya lagi.
Kadang,
walaupun situasinya agak kurang nyaman, karena suaminya benar-benar telah
‘menguasai’ TV terlalu lama, Yuni akan duduk di pinggir suaminya tepat pada
waktunya, dengan nada berunding dia akan berkata, “Bisakah menonton saluran
yang lain?”
Dia
sudah menghitung tepat waktu siaran berita sudah selesai, biasanya sepuluh
menit kemudian suaminya akan menyetujui untuk pindah ke saluran yang lain.
Orang yang matang dan berakal sehat sering mengatakan, “Mundur selangkah,
menjadi luas tiada batas bagai laut dan angkasa.” Filsafat perkawinan Yuni,
mungkin ada orang yang menganggapnya terlalu ‘mengalah’. Sebenarnya dia hanya
memberi tekanan lebih pada perhatian dan menghargai.
No comments:
Post a Comment