Pepatah yang mengatakan, “Hidup manusia tidak
menentu.” Menasihati orang menggunakan kesempatan yang ada, karena siapapun tak
dapat memastikan keadaan selang satu menit berikutnya.
Bencana alam dan malapetaka mengingatkan umat
manusia agar mengikuti kehendak langit dan bumi dan hidup berdampingan dengan
alam. Namun acapkali sebagian orang keras kepala tidak mau mempercayai hal ini,
mereka bersikeras ingin mengalami sendiri baru mau percaya, dan ketika
malapetaka terjadi acapkali sudah terlambat untuk disesali. Saya percaya
“berbuat baik ada balasannya, berbuat jahat juga akan ada ganjaran.” Saya lebih
yakin lagi dengan prinsip yang mengatakan “Perputaran sebab dan akibat renggang
tetapi tidak bocor.” Saya sering berpikir, mengapa ada orang yang hidupnya
makmur dan serba berkecukupan, namun di sisi lain ada orang yang hidupnya
sengsara dan serba kekurangan? Siapakah orang yang tidak menginginkan kehidupan
bersahaja? Sebenarnya, kehidupan manusia ditentukan dari berkah (balasan
kebaikan) dan karma, inilah yang disebut nasib.
Pernah ada seorang pengidap kanker stadium
akhir, dia sebenarnya sudah tidak dapat mengonsumsi makanan. Suatu hari
tiba-tiba nafsu makannya mendadak timbul. Selama satu minggu berturut-turut ia
keluar rumah untuk mencari makanan yang dia senangi. Tak lama kemudian dia
meninggal dunia. Inilah yang disebut nasib dia untuk menikmati makanan sudah
berakhir. Seorang siswa SMA membeli lotre dan mendapatkan hadiah. Karena takut
diketahui keluarganya maka uang itu disimpannya di bawah ranjang. Tidak
disangka, pada suatu hari dia mengalami kecelakaan hingga meninggal,
keluarganya kemudian menemukan uang tersebut. Inilah yang dinamakan nasib dia
mempergunakan uang sudah berakhir.
Panjang pendeknya usia seseorang sudah
ditentukan. Kualitas dalam kehidupan seseorang juga telah ditentukan. Ada
sepasang suami istri yang hanya memiliki seorang anak perempuan dan mendambakan
anak laki-laki. Setelah berupaya keras akhirnya mereka memiliki seorang putra.
Namun tidak disangka dalam suatu kecelakaan yang mereka alami, putra mereka
yang baru beberapa bulan itu tewas dalam kecelakaan. Betapa apa yang diinginkan
manusia tidak selaras dengan apa yang diinginkan Tuhan.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Buah yang
dipetik secara paksa tidak manis, pernikahan yang dilakukan secara paksa tidak
akan harmonis.” Adik teman saya sudah bertahun-tahun pacaran dengan teman
prianya, tetapi mereka berdua sering bertengkar. Orang tua kedua belah pihak
menganggap mereka tidak cocok dan tidak menyetujui pernikahan mereka, namun
pihak perempuan bersikukuh ingin menikah. Baru-baru ini mereka bercerai, bahkan
mereka saling menyakiti dengan kata-kata kasar, benar-benar seperti “ Jika
awalnya sudah tahu begini, mengapa dulu masih mau diteruskan?”
No comments:
Post a Comment