Saya tak kuasa menahan air
mata. Di depan murid-murid kelas enam SD itu saya menangis. Sementara Yuni
terus membacakan puisi karyanya dengan suara serak. Air mata mulai menetes
membasahi pipinya.
Siang itu saya berada di ruang kelas enam SD
Negeri Karaton 4 Pandeglang Banten. Saya bersama tim Kick Andy HOPE sedang
meliput kisah tentang seorang anak yang mengalami kelumpuhan tetapi memiliki
semangat yang menyala-nyala. Namanya Yuni. Usianya 13 tahun.
Kisah tentang Yuni segera menarik perhatian saya dan
teman-teman di Kick Andy karena dalam usianya yang relatif sangat muda, anak
Desa Pabuaran, Kecamatan Majasari, ini sudah harus menghadapi ujian hidup
yang cukup berat. Pada saat duduk di kelas empat SD, bagian bawah badannya
mendadak lumpuh. Kakinya tidak bisa lagi menumpu tubuhnya. Sejak saat itu
kehidupan Yuni berubah drastis.
Yuni yang tadinya lincah sekarang tidak bisa lagi
berjalan kaki ke sekolah. Tongkat penyangga tidak juga membantu. Tetapi
semangat juara pertama lomba MIPA se-Pandeglang ini tidak padam hanya karena
keterbatasan fisik. Setiap hari dengan dibopong dia tetap ke sekolah. Ada dua teman yang setia
membantu menggendong Yuni di punggung mereka secara bergantian. Melayanti dan
Dina, dua sahabat Yuni sejak kelas satu SD, dengan setia menggendong Yuni saat
pergi dan pulang sekolah.
Apa yang dilakukan Mela dan Dina merupakan wujud
kesetiakawanan yang sulit dilukiskan. Apalagi secara fisik Mela dan Dina lebih
ringkih dari Yuni. Tak terbayangkan kedua gadis cilik itu harus menggendong
Yuni pergi dan pulang sekolah. Begitu pula pada saat Yuni ingin ke kamar
mandi. Mela dan Dina dengan sabar dan setia selalu membantu.
Kesetiakawanan itu sudah teruji selama dua tahun tanpa henti.
Air mata saya sudah mulai jatuh ketika mendengarkan
Yuni menyanyikan lagu Senyum dan Semangat yang biasanya dinyanyikan
kelompok musik remaja Sm*sh. Lagu itu bercerita tentang penderitaan seorang
yang dihina dan dilecehkan oleh teman-temannya. Tetapi dia bangkit dari rasa
sedih dan kecewa karena ada seseorang yang menghargainya.
Mengapa Yuni menyanyikan lagu itu? “Karena lagu itu
menggambarkan apa yang terjadi pada Yuni,” ujar Yuni dengan suara parau. Air
matanya kembali bergulir di pipinya. “Yuni sering dihina dan dijadikan bahan
tertawaan oleh teman-teman kelas tiga,” ujarnya.
Yuni yang sehari-hari digendong oleh Mela dan Dina
memang menjadi pemandangan biasa bagi teman-teman sekelasnya. Bahkan selama
belajar teman-teman sekelasnya sudah bisa menerima kondisi Yuni itu dan tidak
mempersoalkannya. Bahkan hampir semua teman-teman sekelas mendukung Yuni. Hal
itu terlihat jika waktu istirahat, mereka secara bergantian membelikan jajan
dan memberikannya ke Yuni yang terpaksa hanya bisa menunggu di kelas.
Tetapi, bagi teman-teman sekolahnya yang berbeda
kelas, kehadiran Yuni yang selalu digendong di punggung itu menjadi tontonan
menarik. Maka adegan Yuni digendong itu menjadi bahan olok-olok dan ejekan
mereka. Yuni pernah merasa tidak tahan dan mogok sekolah. Tapi dukungan dan
dorongan semangat teman-teman sekelasnya membuat Yuni kembali bersekolah. Bukan
cuma itu, dia bahkan menunjukkan prestasi dengan dua kali menjuarai kompetisi
MIPA se-Banten.
Air mata saya semakin tak terbendung manakala Yuni
membacakan puisi ciptaannya yang bercerita tentang jasa gurunya selama dia
belajar. Di dalam puisi itu Yuni, yang baru saja lulus ujian SD, menyatakan
penghargaan dan rasa terima kasih kepada guru-gurunya.
Bukan saya saja yang tak mampu membendung air mata.
Tim Kick Andy yang ikut meliput juga tak kuasa menahan haru. Tak terkecuali
para guru dan teman-teman sekelas Yuni yang hadir. Semua tenggelam dalam
air mata.
Hari ini saya belajar tentang semangat dan
kesetiakawanan. Semangat Yuni untuk melawan keterbatasan dan kesetiakawanan
Mela dan Dina terhadap temannya yang sudah mereka kenal sejak di bangku kelas
satu SD.
Saya semakin bisa merasakan kekuatan cinta dan
persahabatan mereka manakala saya mencoba menggendong Yuni pulang ke rumahnya.
Untuk jarak yang tidak terlalu jauh, saya merasa cukup kelelahan. Tubuh Yuni
terasa berat di punggung saya. Sulit bagi membayangkan bagaimana Mela dan Dina,
yang tubuhnya kecil dan ringkih, setiap hari dengan setia menggendong sang
sahabat pergi dan pulang sekolah.
Adakah persahabatan sejati membuat berat badan Yuni
tidak berarti bagi Mela dan Dina? Adakah cinta yang tulus membuat Mela dan Dina
mau mengorbankan tenaga dan waktunya untuk Yuni? Sederet pertanyaan itu
terus mengganggu pikiran saya selama perjalanan pulang ke Jakarta. Logika saya tak mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu.
Hari itu saya belajar satu hal lagi dari Yuni, Mela,
dan Dina. Bahwa cinta dan persahabatan yang tulus akan mampu mengatasi beban
dan hambatan sebesar apa pun.
No comments:
Post a Comment