Adalah sangat penting untuk mengetahui bahwa
“kehidupan itu perlu dikelola” namun bersamaan itu kita juga perlu memahami
bahwa “ada bagian dari kehidupan itu yang tidak bisa dikelola”.
Setiap
orang ingin mempunyai kehidupan yang bahagia dan sukses. Dengan adanya harapan yang menjadi tujuan hidupnya ini,
manusia lalu berusaha mengelola kehidupannya dengan sebaik mungkin. Pada
sebagian besar orang yang mengerti bagaimana cara pengelolaannya yang benar dan
baik, dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupannya, maka umumnya
mereka akan dapat sukses. Sebaliknya, orang yang tidak punya tujuan hidup dan
tidak mengelola kehidupannya dengan baik, kemungkinan besar ia akan menemui
kegagalan.
Dengan
pengelolaan yang sepenuhnya, orang yang ingin kaya lalu bisa menjadi kaya;
dengan pengelolaan yang sepenuhnya, orang yang berangan-angan jadi politikus
lalu bisa menjadi politikus yang sukses; dengan pengelolaan yang sepenuhnya,
orang yang berkeinginan jadi tokoh besar, akhirnya juga bisa menjadi tokoh
ternama.
Namun
sangat disayangkan bahwa dengan semakin lama kita berkecimpung di dalam dunia
ini, maka semakin kita menemukan kenyataan bahwa tidak semua kehidupan itu bisa
dikelola:
Di
dunia ini, Fu Bao (berkah kebaikan) lebih mempunyai peran yang lebih menentukan
dari pada usaha keras.
Seorang
yang benar-benar kaya, itu karena ia memiliki Fu Bao. Dan sebaliknya orang yang
tidak memiliki Fu (keberuntungan), bila
ia hanya mengandalkan usaha keras dan
pengelolaan untuk mengumpulkan kekayaan, maka acapkali setelah terkumpul,
sejumlah kekayaan yang diperolehnya itu tidak akan dapat bertahan lama.
Bagaikan
air, ia akan mengalir ke luar lagi dengan cepat seiring dengan kebutuhan dan
berbagai masalah mendesak yang ditemuinya (untuk pengobatan keluarga, tertimpa
bencana, dan sebagainya). Juga ada kemungkinan dirinya sendiri mengalami
gangguan kesehatan, sehingga tidak memiliki Fu (keberuntungan) untuk dapat
menikmati uang yang diperolehnya.
Di
sekitar kita, kita juga sering melihat ada banyak orang kaya, ada yang bahkan
tidak murah hati, juga ada yang tanpa memerlukan usaha keras seperti orang lain
pada umumnya, tetapi uang (keberuntungan) yang didapatkan bagaikan arus air yang
tak bisa dibendung.
Pernikahan
yang benar-benar bahagia, bukan hanya tergantung pada pengelolaan yang teliti,
dia harus memiliki takdir perjodohan yang baik.
Di
dunia ini manusia umumnya mendambakan, dan mengharapkan memiliki pernikahan
yang bahagia, tetapi sebagian dari mereka walaupun telah mencurahkan segenap
upaya, dan telah memperjuangkan untuk seumur hidupnya, namun tetap sulit
mendapatkan kebahagiaan, karena dirinya dan pasangannya bukan berada pada satu level.
Bagi
orang yang memiliki perjodohan yang baik, dengan sangat mudah akan meninggalkan
keharuman dimana-mana. Hampir tidak memerlukan usaha apa pun, kebahagiaan sudah
berada di depan matanya, hal mana sungguh membuat orang iri hati.
Di
dunia ini juga banyak orang yang mengejar ketenaran dan kekuasaan. Mereka telah
berusaha sekuat tenaga hingga babak belur, mencurahkan segenap jiwa raganya
sampai nafas terakhir, tetapi tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Pada akhirnya mereka hanya bisa
menyadari bahwa ternyata “politik itu
kotor”.
Tetapi
ada sebagian orang yang memiliki derajat tinggi, acap kali mereka bisa
membinasakan musuh politiknya dengan sangat santai, atau selalu ada dewa
penolong di saat mereka sedang mengalami bahaya dan kesulitan, dan akhirnya
bisa terhindar dari bahaya dan menemui titik terang hingga bangkit dan menanjak
lagi.
Dari
banyaknya kenyataan yang kita temui, kita tidak bisa tidak mengakui bahwa
bagian dari kehidupan yang tidak bisa dikelola ini acapkali lebih penting dari
bagian kehidupan yang bisa dikelola. Dengan memiliki pengertian ini, boleh kita
katakan bahwa seseorang telah melihat jelas hakekat kehidupan tentang kekayaan
dan kemiskinan serta kegagalan dan keberhasilan seseorang.
Jika
seseorang tidak jelas akan kenyataan bahwa ada bagian kehidupan yang tidak bisa
dikelola - seumur hidupnya senantiasa berorientasi pada pengejaran nama,
keuntungan, dan kekuasaan, maka hingga akhir hayatnya orang tersebut tidak akan
mendapatkan saat-saat yang bahagia dan selamat.
Dalam
kehidupan ini hal-hal yang tidak bisa dikelola ini sangat banyak sekali,
se-tidaknya seperti yang pernah diungkapkan oleh Buddha Sakyamuni, “Tubuh
memiliki delapan kesengsaraan” yaitu : hidup, tua, sakit, mati, ego, iri
dengki, jengkel dan kerisauan hati, kesemuanya ini tidak bisa dikelola.
Kita
tidak bisa memilih zaman, lingkungan, masyarakat dan keluarga untuk tempat kita
bereinkarnasi nantinya, maka sebagian besar dari kita menjadi sengsara semenjak
terlahirkan kembali.
Bisa
saja kita atau keluarga kita terlahir atau pindah ke tempat-tempat yang tidak
kita harapkan. Bagi mereka yang terlahir di daerah yang terkena bencana, atau
di daerah di mana peperangan sedang terjadi atau di daerah yang minus makanan
atau di daerah dengan pemerintahan yang bengis dan otoriter, maka mungkin mereka
akan berpikir lebih baik mati dari pada hidup, atau ada yang berkata, lebih
baik tidak dilahirkan dari pada terlahir dan menderita.
Kita
semua sangat takut untuk menjadi tua, masih terkenang akan kecantikan dan
kelincahan kita di masa muda. Akan tetapi tidak perduli Anda telah menghabiskan
berapa banyak tenaga untuk menjaga keremajaan itu, dengan setiap hari mengaca
di depan cermin kita akan mendapatkan bahwa kita mengalami penuaan, pandangan
menjadi kabur, rambut menjadi putih, gigi mulai rapuh dan tulang otot mulai
kendur.
Kita
mendapatkan banyak orang yang kemarin masih segar bugar, dan duduk untuk minum
bersama, hari ini ada yang telah jatuh sakit. Kita mengenal banyak teman yang
pada malam sebelumnya masih bersenda gurau dengan kita, tetapi keesokan paginya
telah meninggal dunia.
Bagi
orang yang sangat kita cintai dan kita sayangi, tidak peduli dulu atau
sekarang, yang pasti pada akhirnya akan berpisah juga dengan kita di kemudian
hari.
Bagi
mereka yang saling berhutang, selamanya akan berbelit dan pasti bertemu lagi di
tempat yang sama, tidak akan terlepas dan tidak akan bisa menghindar.
Kita
pernah membuat banyak sekali perencanaan dalam hidup, membuat pedoman dalam
kehidupan, tetapi acapkali pada saat-saat yang paling penting akan muncul perubahan-perubahan
yang tidak bisa diselesaikan.
Walaupun
kita lagi bersantai di hari yang sangat cerah, di dalam lubuk hati juga bisa
muncul kejengkelan lama dan kekuatiran baru yang teraduk menjadi satu. Bila
kesengsaraan dan kegembiraan diletakkan di kedua sisi, dan kejengkelan
diletakkan di tengah-tengah, maka selamanya tidak akan ada waktu santai.
Di
dalam kehidupan ini terdapat banyak sekali situasi keadaan yang tidak bisa
dikelola, kenyataan ini sangatlah menyedihkan dalam kehidupan ini.
Untunglah,
tidak bisa dikelola bukan berarti tidak bisa dipikirkan, tidak bisa
diperhatikan, dan tidak bisa disadari. Jika seseorang bisa mengerti akan hal
ini, boleh dikata bahwa kecerdasan orang tersebut telah terbuka secara
mendasar.
Di
dalam sejarah panjang dalam bereinkarnasi, jiwa manusia merupakan proses yang
sangat pendek : senang, marah, sedih, gembira, cinta, benci dan nafsu dalam
tujuh perasaan merupakan buih-buih dalam proses itu. Bila buih-buih itu
tersinari oleh matahari, dia juga bisa merefleksikan warna yang menarik.
Bagaimanapun juga dia itu berputar, berubah, muncul dan musnah.
Siapa
yang bisa membuat buih itu tetap tinggal? Siapa yang bisa mengelola aliran
sungai? Siapa bisa mengelola kecantikan yang indah bagaikan sinar mentari?
Siapa yang bisa mengelola kesedihan yang merisaukan bagaikan mendung dan hujan?
Jika
bisa menikmati cantik dalam kecantikan, menyadari sengsara dalam kesengsaraan,
dan meneliti risau dalam kerisauan, serta di dalam setiap proses kehidupan,
setiap episode dalam hidup ini selalu mempertahankan perasaan hati yang teguh,
berlapang dada serta menjaga kewibawaan maka cukuplah sudah.
No comments:
Post a Comment