Kemarin saya telah membuat janji dengan
seorang teman baik untuk meliput sebuah perusahaan. Karena pemilik perusahaan
tiba-tiba berhalangan, sehingga mendadak memberitahu perubahan tanggal,
sehingga tidak memuaskan temanku. Sekali pun dia bertubuh kecil, bila sedang
marah kelihatannya tidak akan ada orang yang mampu menahannya. Saya yang di
samping mencoba mendinginkan emosinya, juga harus menahan senyum.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, karena sudah
sampai di daerah ini, tidak ada buruknya memanfaatkan kesempatan ini untuk
membagikan materi fakta, sama dengan menyempatkan diri sejenak dalam kesibukan
padat untuk melakukan pekerjaan yang ingin dikerjakan. Di jalan, melihat banyak
orang berlalu lalang, mereka mengobrol dan bersenda gurau menikmati hidup,
melewati waktu dengan tanpa beban. Mengenang jalan hidup yang saya tempuh
sendiri, setiap hari seolah terdapat pekerjaan yang tiada habisnya, tak
terhindarkan terbersit perasaan sedih.
Dalam bekerja, sering kali timbul banyak
keterikatan hati, sulit untuk dapat melepaskan diri dari belenggu nama dan
keuntungan secara keseluruhan. Namun saat menginterospeksi, satu hal yang dapat
menghibur adalah saya masih dapat ikut melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi
masyarakat. Dipikir secara cermat, berbagai hal dalam bekerja agar manusia
dapat saling berhubungan, berkesempatan menemukan kekurangan. Apabila liputan kali
ini berjalan sesuai rencana, mungkin akan sulit mempunyai kesempatan untuk
menyadari kehidupan, hal ini juga dapat disebut sebagai mendapat berkah dalam
musibah.
Manusia adalah sedemikian kecil, bagaikan debu
yang tak berarti. Datang ke dunia bagaikan menginap di hotel, esok hari sudah
akan angkat kaki, setelah itu akan ke mana? Bagaimana takdir di kemudian hari,
siapa gerangan yang dapat mengetahuinya? Terlebih lagi tidaklah semestinya
mengatakan sampai berjumpa lagi di kemudian hari. Kehidupan adalah sedemikian
mendesak waktunya, bagaimanakah kita boleh membiarkannya berlalu begitu saja!
No comments:
Post a Comment